Mengapa Profetik?

Allah and His Angels send blessings on the Prophet;
O you who believe! Send your blessings on him with all respect
(QS. Al-Ahzab 33:56)

Continue reading

Posted in Islamic Economics, Spiritual, The Prophet's Ways | Tagged , | 2 Comments

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 3,000 times in 2010. That’s about 7 full 747s.

In 2010, there were 2 new posts, growing the total archive of this blog to 19 posts. There was 1 picture uploaded, taking a total of 25kb.

The busiest day of the year was October 6th with 37 views. The most popular post that day was Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia dan Kontribusinya Bagi Pembangunan Nasional.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were google.co.id, facebook.com, search.conduit.com, student-loan-consilidation.com, and google.com.

Some visitors came searching, mostly for perkembangan ekonomi syariah di indonesia, jembatan ampera, zakat, ampera, and ampera palembang.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia dan Kontribusinya Bagi Pembangunan Nasional March 2009

2

Signifikansi Ekonomi Syariah dalam Pembangunan Daerah August 2008
2 comments

3

Krisis Keuangan Global dan Upaya Aktualisasi Ekonomi Islam November 2009

4

My Books April 2009
6 comments

5

Universalitas Ekonomi Islam dan Revitalisasi Revolusi Makkah July 2010

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Universalitas Ekonomi Islam dan Revitalisasi Revolusi Makkah

Oleh
Nuruddin Mhd Ali, MA, M.Sc*

Perkembangan ekonomi syariah (Islam) belakangan ini semakin menimbulkan rasa optimis. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya lembaga-lembaga keuangan syariah dan asset yang mereka kelola. Di sisi keilmuan, teori-teori ekonomi syariah terus digali dan dikembangkan di berbagai kampus dan lembaga-lembaga penelitian.
Optimisme ini tumbuh berdampingan dengan berbagai kritik yang dialamatkan kepada ekonomi Islam dan lembaga-lembaga ekonomi yang merepresentasikannya. Di antara kritikan itu adalah bahwa lembaga-lembaga keuangan syariah tidak lebih dari lembaga-lembaga kapitalis yang bermerek syariah. Ekonomi Islam dicurigai sebagai ekonomi ekslusif, primordial, dan merupakan wajah religius dari kapitalisme itu sendiri.
Berbagai kritik dan kecurigaan itu memang ada benarnya, namun tidak semuanya benar. Produk dan jasa keuangan syariah harus terus dikembangkan agar benar-benar sesuai syariah, tidak saja secara fiqh, tetapi juga secara etika yang melandasinya. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana halnya dengan ekonomi syariah yang dianggap ekslusif dan primordial?
Salah satu pendekatan yang dilakukan untuk memahami ekonomi Islam adalah dengan membaca kembali praktek ekonomi pada era kenabian dan best practice yang dilaksanakan beberapa generasi sesudahnya. Untuk lebih memahami lagi nilai-nilai keislaman dalam bidang ekonomi, pembacaan tersebut hendaknya diteruskan kepada praktek ekonomi sebelum era kenabian. Pembacaan yang saksama terhadap sejarah ini akan mengantarkan kita kepada pemahaman yang kritis dan komprehensif terhadap ekonomi Islam modern. Kegagalan dalam memahami perilaku ekonomi nabawiyah akan membuat ilmu dan praktek ekonomi Islam seperti tercerabut dari akarnya.
Ajaran Islam tentang ekonomi tidaklah tumbuh dalam ruang yang hampa tanpa ada praktek ekonomi yang melatarbelakanginya. Sebaliknya, ajaran tersebut lahir sebagai kritik terhadap praktek ekonomi yang berkembang pada masa itu. Terlebih lagi, Islam lahir di tengah masyarakat Makkah yang sangat akrab dengan nuansa perdagangan dan disampaikan oleh seorang rasul yang latarbelakang karirnya adalah seorang pedagang. Dalam perspektif agama, hal ini bukan sesuatu yang kebetulan (by accident) tetapi telah menjadi suatu ketetapan (maktub) dari Sang Khaliq. Sang Nabi tentu mengetahui praktek-praktek ekonomi menyimpang yang biasa dilakukan pada waktu itu. Beliau, tentu melihat ketimpangan ekonomi dan sosial masyarakat Makkah sebelum menjadi rasul. Keadaan inilah yang belakangan berhasil beliau ubah dengan syariat Islam.

Etika Ekonomi Universal
Periode kenabian biasa dibagi menjadi periode Makkah dan periode Madinah. Masing-masing periode mempunyai karakteristik tersendiri menyangkut ayat-ayat yang diturunkan dan syariat yang dibangun. Periode Makkah lebih menitikberatkan pada pembangunan akidah monoteisme (tauhid) dan revitalisasi perilaku mulia (akhlaqul karimah). Periode Madinah merupakan periode pembangunan syariat ibadah dan aturan-aturan kemasyarakatan. Beberapa tokoh menyebut corak ajaran Islam pada periode Makkah bersifat universal dan pada periode Madinah sebaliknya.
Namun sayangnya, tidak banyak yang memberi perhatian khusus kepada aspek ekonomi syariat Islam pada periode Makkah. Padahal, di samping menekankan pada tauhid, banyak ayat-ayat Makkiyah membawa pesan universal di bidang ekonomi. Ayat-ayat tersebut merupakan kritik terhadap praktek ekonomi yang terjadi pada waktu itu. Misalnya, ayat-ayat yang berisi perintah untuk menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin, larangan mengurangi timbangan, larangan menumpuk harta, larangan bermegah-megah, larangan riba, dan sebagainya. Di samping itu juga ada wahyu tentang bangsa Quraisy yang giat melakukan kegiatan perdagangan regional baik di musim panas maupun dingin.
Serangkaian ayat-ayat yang berisikan kritik terhadap perilaku ekonomi masyarakat Makkah pada waktu itu menimbulkan perlawanan dari kelompok yang selama ini diuntungkan. Ajaran Muhammad Saw yang mengajak kepada terciptanya keadilan ekonomi mereka curigai akan mengganggu kepentingan ekonomi dan sosial yang selama ini mereka nikmati. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penolakan kelompok borjuis Makkah di samping karena aspek kepercayaan juga karena ajaran Muhammad Saw mengancam kepentingan ekonomi mereka.
Diturunkannya ayat-ayat ekonomi ini pada periode awal kenabian menunjukkan bahwa misi kenabian di samping berisi ajakan menyembah Allah Yang Esa juga terkait dengan etika berekonomi yang intensitasnya tidak kurang dari intensitas ayat-ayat tauhid. Semangat inilah yang kelak menghasilkan terbentuknya masyarakat Islam di Madinah dengan berbagai aturan-aturan teknis pelaksanaan nilai-nilai ekonomi universal yang telah digagas pada periode Makkah.
Etika universal berarti bahwa etika tersebut dapat diterima di segala zaman dan tempat atau shalihun li kulli zaman wa makan. Etika ekonomi yang terkandung dalam ayat-ayat Makkiyah merupakan etika yang dapat diterima sepanjang masa dan oleh umat manapun. Kebenaran ayat-ayat ekonomi tidak hanya dapat diterima dengan semangat keimanan (religious commitment) tetapi dapat dibuktikan dengan menggunakan nalar sekuler (secular reason).
Larangan riba misalnya, bersifat universal dan dapat diterima baik melalui pendekatan keagamaan maupun dengan nalar sekuler. Boleh dikata semua agama melarang dan mengutuk praktek riba. Persoalan krusial yang sering mengemuka adalah tentang bunga bank, apakah sama dengan riba atau apakah bunga bank adalah riba yang diharamkan. Para ekonom syariah telah sepakat bahwa bunga bank adalah haram dan keputusan inilah yang melandasi didirikannya bank syariah dan diterbitkannya produk-produk keuangan syariah. Sedangkan melalui nalar sekuler, semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku ini berakibat buruk bagi perekonomian, baik secara nasional maupun global. Warga dunia akan terus dihantui oleh krisis keuangan selama praktek ribawi ini masih dipraktekkan.

Revitalisasi Revolusi Makkah
Meskipun jumlah orang yang menganut Islam pada periode Makkah tidak banyak, namun dari segi ajaran periode Makkah telah meletakkan fondasi yang kuat bagi bangunan pranata sosial pada masa-masa selanjutnya. Nilai-nilai dan etika ekonomi yang dibentuk di Makkah menjadi landasan bagi aturan-aturan teknis perilaku ekonomi yang banyak terbentuk pada periode Madinah.
Nilai-nilai tentang keadilan ekonomi yang dicitakan di Makkah, dijabarkan melalui aturan-aturan tentang zakat, sedekah, dan pengelolaan sumber-sumber penerimaan lainnya. Berdirinya lembaga-lembaga ekonomi seperti baitul maal bertujuan untuk mempermudah tercapainya keadilan ekonomi yang diidealkan sejak periode Makkah. begitu pula halnya aturan-aturan yang mengatur praktek-praktek ekonomi lainnya. Dengan demikian, aturan teknis dan lembaga ekonomi syariah pada waktu itu dibentuk berdasarkan semangat revolusi Makkah yaitu terciptanya keadilan ekonomi.
Berdirinya lembaga-lembaga keuangan syariah dan sistem ekonomi syariah yang dikembangkan hendaknya merujuk kepada semangat revolusi Makkah yaitu terciptanya keadilan ekonomi. Jika tidak, maka kritikan-kritikan yang sering dialamatkan kepada ekonomi dan keuangan syariah akan mendapat pembenarannya. Demikian juga dengan produk-produk keuangan modern seyogyanya berawal dari cita-cita menciptakan keadilan ekonomi. Kalau tidak, ekonomi syariah hanya menjadi rubber stamp bagi kepentingan kapitalis yang semakin terbukti membawa masalah bagi perekonomian dunia.

* Dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia
____________________

Posted in Islamic Economics | Tagged , | 1 Comment

Membunuh Mitos-mitos Ekonomi

Oleh: Nuruddin Mhd Ali, MA, M.Sc*

Isu terorisme yang dilontarkan oleh Barat sebenarnya berangkat dari mitos laten bahwa Islam dan muslim adalah ancaman. Oleh karena itu Barat harus menjaga jarak dari Islam dan muslim dan melakukan segala upaya untuk “menghilangkan” ancaman itu. Akibatnya, ketegangan Islam dan Barat tidak kunjung reda meskipun telah banyak usaha dari para cendekiawan masing-masing pihak untuk terbuka dan saling memahami. Kecurigaan itu tidak akan hilang selama mitos tersebut masih kuat terpatri dalam kepala orang-orang Barat. Seorang sarjana Barat, John L Esposito, sampai menulis buku tentang ini bertajuk the Islamic threat: Myth or Reality (1999).

Kita hidup di dunia yang penuh dengan mitos-mitos. Dalam ekonomi dan keuangan juga terdapat banyak mitos. Misalnya mitos yang mengatakan bahwa sumber ekonomi yang tersedia sangat terbatas sementara keinginan manusia tidak terbatas. Dari mitos ini muncullah ilmu ekonomi yang secara sederhana biasa diartikan sebagai lmu tentang bagaimana memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan sumber daya yang terbatas. Untuk dapat memenuhi kebutuhan Anda, Anda harus “berebut” dengan orang-orang lain.

Terkadang “perebutan” ini sampai mengorbankan hak orang lain. Kita terlanjur berpikiran bahwa sumber-sumber ekonomi itu ibarat kue pie. Jumlah manusia semakin banyak, sementara sumber daya alam cenderung menurun. Tidak ada jalan lain, persaingan harus dilakukan dengan keras dan “berdarah-darah” (red ocean strategy).

Dalam istilah Barat, mitos-mitos ini sering disebut dengan istilah “sacred cow” yang secara harfiah berarti “sapi suci.” Sacred cow biasa diartikan sebagai individu, organisasi, institusi, ajaran, atau kepercayaan yang tidak dapat dikritik atau dipertanyakan. Dalam dunia ekonomi dan keuangan sacred cow adalah mitos dan tradisi yang meyimpangkan pikiran kita tentang kekayaan, keberhasilan, dan kesejahteraan. Mitos-mitos ini tersebar dan semakin tertanam dalam benak kita melalui saran dari teman, guru, atau orang lain, nasehat dari lembaga-lembaga keuangan, dan media massa. Karena kuatnya, mitos-mitos ini jarang dipertanyakan apalagi dikalahkan.

Mitos-mitos ini melemahkan kita baik secara individu maupun masyarakat. Mereka membatasi dan menghancurkan potensi yang kita miliki. Mereka dengan jahat mempengaruhi beragam keputusan yang kita ambil setiap hari. Tragisnya, kebanyakan kita tidak menyadari kehadiran mitos-mitos ini dan daya rusaknya.

Segala sesuatu yang kita peroleh pasti ada biayanya (cost). Ketika kita menerima suatu mitos keuangan, berarti kita menerima opportunity cost yang tersembunyi di balik itu. Opportunity cost adalah sesuatu yang dapat kita peroleh kalau kita melakukan sebaliknya. Misalnya, “keamanan” uang yang kita simpan di bank dibayarkan oleh keuntungan yang mungkin dapat diperoleh jika kita menemukan cara yang lebih produktif dalam menggunakan uang seperti membuka suatu bisnis. Bagi kebanyakan orang lebih baik bertahan di tempat kerja sebagai karyawan meskipun kurang menyenangkan daripada keluar dan menjadi wirausahawan. “kenyaman” sebagai karyawan dengan gaji yang pas-pasan diperoleh atas biaya yang dikeluarkan kalau menjadi pebisnis yang mandiri.

Kita sering menjadi dilemma ketika dihadapkan dengan mitos-mitos keuangan. Di satu sisi kita ingin sukses dan sejahtera, tetapi di sisi lain ada suatu mitos bahwa kesuksesan harus dicapai dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip yang kita yakini. Di sinilah kita dipaksa memilih antara prinsip dan kesejahteraan. Misalnya, orang lebih senang “menumpuk” uangnya di bank dengan bunga yang tidak seberapa dibanding “memutarnya” dalam bentuk bisnis dengan keuntungan yang jauh lebih besar.

Inilah mungkin salah satu rahasia mengapa riba dan bunga bank diharamkan. Agaknya Allah menginginkan sesuatu yang lebih besar bagi kita dengan menggunakan modal (uang) yang dimiliki untuk suatu usaha. Kalaupun kita tidak mempunyai keahlian dan waktu untuk menjalankan usaha tersebut, masih ada peluang lewat pintu “bagi hasil” yang fair dengan orang lain. Meskipun harus berbagi, keuntungan yang diperoleh tetap lebih besar daripada mengambil riba dan bunga bank.
Dunia ini begitu kaya, tetapi hanya sedikit yang orang yang benar-benar kaya. Mereka adalah orang-orang yang telah berhasil “membunuh” mitos-mitos yang begitu kuat mempengaruhi keputusan-keputusan ekonomi dan keuangan sebagian besar penduduk dunia lainnya. Prinsip-prinsip ekonomi dan keuangan Islam hadir untuk mengantarkan lebih banyak lagi manusia kepada kesuksesan dan kesejahteraan melalui “penyembelihan” mitos-mitos yang terlanjur disakralkan dalam ekonomi dan keuangan konvensional.

* Tulisan ini dimuat dalam Majalah “Gontor” edisi April 2010.
_______________

Posted in Islamic Economics, Spiritual | Tagged | Leave a comment

Krisis Keuangan Global dan Upaya Aktualisasi Ekonomi Islam

Oleh

Nuruddin Mhd Ali, MA, MSc

Abstrak

2008 financial crisis is believed as the worst during the history. Many says that neither this is the first and nor the last. The discussions on the background are still on progress. Howover, some causes are indicated to be responsible for the crisis such as strategic complementarities, leverage, asset-liquidity mismatch, regulatory failure, fraud, contagion effect, and lack of liquidity.

Without ignoring those factors, according to sharia economics view there are other causes contribute to the current crisis such as involving interest (or riba in general), gharar, maysir, and tadlis in mainstream global financial transactions. Furthermore, bad modern human lifestyles such as debt-based transactions also play an important role to cause the crisis.

This article is an attempt to discuss this problem from Islamic economic approach. It would suggest some ideas to prevent any kind of financial crisis in the future. They are ereasing financial operations involving riba, gharar, maysir, and tadlis in financial transactions, promoting equity financing, strengthening small business enterprises, aligning financial and real sectors, and revitalization of gold dinar.

Key words: financial crisis, Islamic finance, dinar-dirham.

I. Pendahuluan

Krisis keuangan global yang terjadi pada semester kedua 2008 ditengarai sebagai salah satu krisis keuangan terparah yang pernah terjadi. Para pengamat mengkategorikannya sebagai krisis terburuk sejak the Great Depression di paruh awal abad ke-20.  Banyak pihak yang berpendapat bahwa krisis ini akan berakhir pada akhir 2009 namun banyak pula yang meyakini bahwa krisis ini baru akan berlalu tahun depan.

Krisis ini dimulai dengan kebangkrutan beberapa lembaga keuangan besar di Amerika Serikat yang kemudian dengan cepat berubah menjadi krisis keuangan global dan menyebabkan kebangkrutan beberapa lembaga keuangan dan perbankan di Amerika Serikat dan Eropa serta penurunan tajam nilai-nilai saham dan komoditas di seluruh dunia.

Krisis ini menimbulkan persoalan likuiditas dan penurunan nilai-nilai asset yang pada gilirannya memperparah krisis yang terjadi. Para pemimpin politik dunia telah mengkoordinasikan berbagai usaha untuk menanggulangi persoalan in namun krisis masih terus berlangsung. Krisis ini berakar dari terjadinya krisis kredit perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat yang kemudian merembet ke krisis perbankan dan ekonomi global.

Krisis keuangan yang terjadi saat ini memang bukan yang pertama. Sebelumnya telah ada banyak krisis keuangan yang melanda berbagai belahan dunia. Belajar pada krisis-krisis terdahulu, seharusnya krisis keuangan ini tidak terjadi. Namun, ternyata dunia tetap merasakan krisis yang tidak kalah dahsyat, yang efeknya tidak hanya dirasakan oleh oleh lembaga-lembaga keuangan di AS dan Eropa, tetapi juga oleh para petani sawit dan karet di pedalaman pulau Sumatera yang tidak tahu menahu mengapa harga-harga kedua komoditas tersebut terjun bebas.

Apakah yang menjadi latar belakang terjadinya krisis kali ini? Apakah krisis semacam ini bisa terulang lagi? Bagaimana pengaruhnya terhadap industri keuangan syariah? Dapatkah ekonomi Islam menjawab persoalan ini? Tawaran apakah yang diajukan ekonomi Islam agar krisis serupa tidak terulang kembali? Halaman demi halaman berikut ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

II. Kronologi Krisis Keuangan 2008

Pada hari Senin, 14 September 2008 dunia keuangan dikejutkan dengan pengumuman bahwa Lehman Brothers terkena ketentuan dalam chapter 11 sebagai perusahaan yang yang mengalami bankruptcy (pailit). Hal ini merupakan buntut dari penolakan Federal Reserve Bank untuk berpartisipasi dalam memberikan fasilitas bantuan keuangan kepada Lehman Brothers. Wal hasil, Lehman Brothers mencatatkan diri sebagai perusahaan dengan aset terbesar yang mengalami kebangkrutan hingga tulisan ini ditulis (lihat tabel 1).  Pada hari yang sama diumumkan pula penjualan Merrill Lynch kepada Bank of Amerika.

Awal minggu tersebut ditandai pula oleh kegoncangan yang kuat pada pasar saham global dan terjadinya penurunan yang sangat tajam nilai pasar pada hari Senin, 15 Nopember dan Rabu 17 September 2008. Pada 16 September salah satu perusahaan asuransi Amerika AIG mengalami krisis likuiditas menyusul penurunan credit ratingnya. Krisis ini merembet ke asuransi money market funds di berbagai negara.

Pada Senin 21 September 2008, dua bank investasi raksasa lainnya, Goldman Sachs dan Morgan Stanley dengan restu the Fed berubah menjadi bank holding companies. Beberapa hari kemudian terjadi perdebatan sengit di Kongres AS mengenai proposal bantuan yang akan diberikan pemerintah AS kepada industri keuangannya. Pada Kamis 25 September, Washington Mutual, salah satu perusahaan keuangan terbesar lainnya di AS, dibekukan oleh Federal Deposit Insurance Corporation dan sebagian besar asetnya ditransfer ke JP Morgan Chase. Sementara itu salah bank terbesar lainnya, Wachovia, sedang melakukan negosiasi dengan Citigroup dan beberapa lembaga keuangan lainnya. Beberapa hari kemudian pemerintah AS menyetujui suatu skema sebesar 700 miliar Dollar AS untuk membantu penyelesaian krisis ini.

Krisis merambat dengan cepat ke benua Eropa yang menyebabkan beberapa negara mengambil kebijakan menasionalisasikan lembaga keuangan yang mengalami masalah. Di Inggris, perusahaan kredit kepemilikan rumah (KPR) Bradford & Bingley diambil alih oleh pemerintah. Di Spanyol, pemerintah menasionalisasikan bisnis KPR dan pinjaman dari Grupo Santander, bank terbesar di negeri matador ini. Hal sama dialami Fortis, perusahaan perbankan dan keuangan yang dimiliki oleh tiga negara: Belgia, Belanda, dan Luxemburg. Perusahaan ini dinasionalisasikan secara terpisah oleh ketiga negara. Belgia dan Belanda masing-masing akan membeli 49% dari kepemilikan mereka pada Fortis. Sementara Luxemburg akan memberikan pinjaman yang dapat diubah menjadi 49% dari saham Luxemburg di Fortis. Semua terjadi di minggu terakhir bulan September 2008. Hal serupa terjadi di beberapa negara Eropa lainnya dan masing-masing negara telah mengambil kebijakan tertentu untuk meredam krisis global ini.

Tabel 1: Perusahaan-perusahaan yang mengalami bankrupctyterbesar di AS

Perusahaan Tanggal Bankruptcy Total Aset sebelum bankruptcy
Lehman Brothers Holdings Inc. 15 September 2008 $639,063,000,000
Washington Mutual 26 September 2009 $327,913,000,000
Worldcom Inc. 21 Juli 2002 $103,914,000,000
Enron Corp 12 Februari 2001 $63,392,000,000
Conseco, Inc. 18 Desember 2002 $61,392,000,000
Chrysler 30 April 2009 $39,300,000,000
Texaco, Inc. 12 April 1987 $35,892,000,000
Financial Corp. of America 9 September 1988 $33,864,000,000
Refco Inc. 17 Oktober 2005 $33,333,172,000
Global Crossing Ltd. 28 Januari 2002 $30,185,000,000
Pacific Gas and Electric Co. 6 April 2001 $29,770,000,000
UAL Corp. 9 Desember 2002 $25,197,000,000
Delphi Corporation, Inc. 8 Oktober 2005 $22,000,000,000
Delta Air Lines, Inc. 14 September 2005 $21,801,000,000
Adelphia Communications 25 Juni 2002 $21,499,000,000
MCorp 31 Maret 1989 $20,228,000,000
Mirant Corporation 14 Juli 2003 $19,415,000,000

Sumber: bankruptcydata.com

Di bursa saham yang terjadi sama buruknya. Pada tanggal 29 September 2009 pasar saham AS mengalami terjun bebas. Index Dow Jones turun 300 poin dalam hitungan menit dan ditutup pada level 777,68. Sementara index Nasdaq turun 199,61 poin di bawah 2000, dan S & P 500 turun 8,77 persen pada hari yang sama. Pada penutupan pasar di hari itu Dow Jones mengalami penurunan terbesar dalam sejarahnya. Pada Selasa 30 September saham-saham mengalami rebound tetapi pasar kredit tetap ketat dengan kenaikan London Interbank Offering Rate (overnight dollar Libor) dari 4,7% ke 6,88%.

Untuk mencegah terjadinya bank run (rush), beberapa pemerintah menaikkan ambang atas simpanan masyarakat di bank yang dijamin oleh pemerintah semisal Otoritas Jasa Keuangan Inggris (FSA) pada tanggal 3 Oktober menaikkan simpanan yang dijamin dari 35.000 poundsterling menjadi 50.000 poundsterling. Uni Eropa juga setuju untuk menaikkan penjaminan simpanan sampai 50.000 Euro. Bahkan beberapa negara menaikkan lebih tinggi lagi hingga mencapai 100.000 Euro. Pemerintah Inggris juga mengalokasikan 25 miliar poundsterling sebagai bagian dari paket penyelamatan perbankan Inggris. 25 miliar pound lainnya dijawalkan untuk lembaga-lembaga keuangan lainnya termasuk subsidiaries bank-bank asing di negera tersebut.

Sementara itu dalam pertemuan di Washington, negara-negara maju yang tergabung dalam G7 sepakat untuk “membantu lembaga-lembaga keuangan besar secara sistematis dan mencegahnya dari kebangkrutan.” Keputusan ini diambil setelah melihat akibat yang ditimbulkan oleh kebangkrutan Lehman Brothers telah menyebabkan kerugian pada lembaga-lembaga keuangan lainnya.

Pada 13 Oktober 2008, pasar saham di seluruh dunia mengalami kenaikan. Saham-saham industri Dow Jones rata-rata menunjukkan kenaikan 400 poin pada sesi pembukaan perdagangan. Pada sesi penutupan rata-rata saham mengalami kenaikan hingga 936 poin atau naik sekitar 11% dan ditutup pada level 9.387. Bursa Perancis dan Jerman juga mengalami kenaikan setelah pemerintah kedua negara mengalokasikan masing-masing 320 miliar dan 400 miliar Euro sebagai bagian rencana penyelamatan dan penjaminan industri keuangan. Namun demikian, banyak pihak beranggapan, badai ini belum akan berlalu, paling tidak hingga 2 tahun ke depan dan membawa dunia ke dalam krisis keuangan dan ekonomi global.

Berikut adalah kronologis krisis yang terjadi sepanjang 2007 – 2009 yang dirilis oleh situs Wikipedia.

Bulan Peristiwa yang Terjadi
Agustus 2007 Terjadinya krisis likuiditas
September 2007 Bank of England memberikan bantuan likuiditas kepada Northern Rock
Oktober 2007 Pasar Modal USA mencatat rekor baru, dimana pada 9 Oktober 2007, Indeks Down Jowns mencapai 14.164.
Januari 2008 Terjadinya volatilitas yang besar pada Pasar Modal
Februari 2008 Dinasionalisasikannya Northern Rock
Maret 2008 Bears Stearns bangkrut
Bank Sentral USA mengambil alih (take over) Fannie Mae and Freddie Mac
September 2008 Terjadinya krisis keungan global
Lehman Brothers dinyatakan bangkrut
Sebagian saham Fortis Holding diambil alih pemerintah
Investor di Pasar Modal mengalami kerugian besar sepanjang September dan Oktober
Oktober 2008 Digulirkannya kebijakan EESA 2008
Mayoritas bank di Islandia diambil alih pemerintah
November 2008 China menyusun rencana stimulus ekonomi
Indeks Dow Jones mengalami penurunan drastic mencapai nilai 7.507 (turun lebih dari setengahnya)
Desember 2008 Pemerintah Australia mengeluarkan paket stimulus ekonomi untuk meminimalisir dampak resesi dunia
Terkuaknya skandal Madoff Ponzi
Januari 2009 Presiden Barrack Obama mengusulkan kepada Bank Sentral untuk mengucurkan pinjaman sebesar $1 triliun untuk meminimalisir krisis
Pembuat kebijakan Amerika mengusulkan kebijakan bailout
DPR America menyetujui rencana bailout
Pemerintah Islandia gagal
Februari 2009 Parlemen Kanada menyetujui paket stimulus sebesar $40 milyar
JPMorgan dan CitiGroup mengumumkan moratorium sementara
Obama menandatangani bail-out sebesar $787 milyar
Pemerintah Australia kembali mengeluarkan kebijakan stimulus ekonomi

III. Krisis Keuangan

Istilah krisis keuangan digunakan untuk berbagai situasi di mana beberapa lembaga keuangan atau aset tiba-tiba kehilangan nilainya dalam jumlah yang besar. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 krisis keuangan diasosiakan dengan terjadinya kepanikan di sektor perbankan (banking panics), dan berbagai resesi yang terjadi mengikuti kepanikan ini. Keadaan lain yang sering juga dikatakan sebagai krisis keuangan adalah krisis di bursa saham, pecahnya gelembung-gelembung industri keuangan (financial bubbles), krisis mata uang, dan gagalnya suatu negara membayar cicilan utang (sovereign default).

Ada beberapa macam krisis keuangan. Pertama, bank run atau rush yaitu situasi ketika suatu bank komersial mengalami penarikan yang masif oleh para deposannya. Mengingat bank telah meminjamkan sebagian besar dana yang diterima dari deposan, maka bank akan mengalami kesulitan uang tunai (liquidity problems) dalam waktu cepat karena banyaknya permintaan. Hal ini dapat menyebabkan bank mengalami kebangkrutan. Jika kepanikan di satu bank ini menjalar ke bank-bank lain, maka disebut krisis perbankan sistemik (systemic banking crisis) atau banking panic. Kalau tidak terjadi kepanikan yang luas, namun bank-bank enggan memberikan pinjaman karena khawatir mereka tidak memiliki dana yang cukup maka situasi ini disebut credit crunch. Contoh bank run terjadi pada Bank of United States pada tahun 1931 dan Northern Rock tahun 2007. Krisis perbankan di Indonesia tahun 1997 dapat pula dikategorikan sebagai krisis perbankan sistemik.

Jenis krisis keuangan yang kedua adalah speculative bubbles and crash.Suatu aset keuangan disebut menjadi gelembung (bubble) ketika harganya melebihi nilai yang akan didapat di masa depan berupa bunga atau dividen apabila dipegang sampai jatuh tempo. Jika sebagian besar pelaku pasar membeli suatu aset dengan tujuan untuk menjualnya kembali pada harga yang lebih tinggi, bukannya mengharapkan income dari asset tersebut ketika jatuh tempo atau di masa yang akan datang, maka ini menandakan adanya bubble. Jika ada bubble, maka ada pula risiko akan terjadinya crashpada harga aset tersebut. Hal ini terjadi kalau pelaku pasar terus melakukan aksi beli karena merasa bahwa yang lain juga akan membeli, dan ketika mereka kebanyakan memutuskan untuk menjual, harga aset tersebut akan jatuh. Contoh krisis keuangan semacam ini antara lain adalah crash yang dialami Wall Street tahun 1929, bubble properti Jepang tahun 1980an, danbubble dot-com tahun 2000-2001.

Krisis keuangan di AS belakangan ini antara lain disebabkan oleh bubblekredit perumahan. Untuk membiayai kredit subprime mortgage, bank menerbitkan portofolio dan dijual di pasar modal. Selanjutnya, portofolio utang tersebut diperdagangkan oleh para fund manager dengan melibatkan jutaan orang. Masing-masing di antara mereka melakukan perdagangan dengan tujuan mendapatkan capital gain. Nilai perdagangan portofolio berbasis subprime mortgage di pasar modal AS pada tahun 2007 mencapai US$ 20 trilyun. Sedangkan nilai buku utang warga AS dalam kredit subprime mortgage mencapai US$ 1,3 trilyun (Maret 2007). Artinya perdagangan utang warga miskin AS di pasar modal nilainya “menggembung” lebih dari 15 kali lipat. Ketika terjadi “bom” gagal bayar kredit subprime mortgage karena semakin tingginya tingkat inflasi di tengah masyarakat, bank menghadapi kredit macet. Akibatnya bank pemberi kredit subprime mortgage kesulitan likuiditas, kehilangan kemampuan membayar kewajiban atas portofolio yang diterbitkan di pasar modal. Kondisi ini menyebabkan hilangnya kepercayaan para pemain di lantai bursa. Sehingga mendorong mereka melepas portofoliosubprime mortgage secara massive yang mengakibatkan nilai pasarnya jatuh.

Jenis krisis ketiga terjadi ketika suatu negara mempertahankan kurs valuta asingnya dan tiba-tiba dipaksa untuk mendevaluasi matauang tersebut karena serangan para spekulan, maka hal ini disebut krisis mata uang atau balance of payments crisis. Jika suatu negara gagal membayar utang negaranya, maka ini disebut sovereign default. Kedua macam krisis ini dapat menyebabkan para investor asing berhenti atau menarik dananya dari negara tersebut. Contoh dua krisis ini adalah krisis yang melanda Asia pada tahun 1997-1998. Beberapa negara Amerika Latin juga pernah mengalaminya pada awal 1980an. Krisis yang dialami Rusia tahun 1998 menyebabkan devaluasi Rubel dan ketidaksanggupan pemerintah Rusia membayar utang-utangnya.

Jika krisis ekonomi tersebut terjadi beberapa bulan maka hal ini biasanya disebut resesi. Jika resesi itu berketerusan sampai waktu yang agak lama maka disebut deppression. Sedangkan stagnasi ekonomi terjadi kalau pertumbuhan ekonomi suatu negara lemah meski tidak sampai negatif. Namun demikian, sebagian besar resesi ekonomi disebabkan oleh krisis keuangan. Contoh utamanya adalah the Great Depression yang sebelumnya diawali oleh terjadinya bank run dan kejatuhan bursa saham beberapa negara. Krisis kredit perumahan AS dan pecahnya gelembung industri real estate di banyak negara menurut banyak pihak dapat menyebabkan resesi di AS dan banyak negara lainnya pada tahun 2008. Berikut adalah berbagai krisis keuangan yang terjadi di dunia sejak abad ke-17.

Tabel 2. Perkembangan Krisis Keuangan Dunia

No Crash/Financial Crisis Tahun
1 The Tulip Mania 1637
2 The South Sea bubble 1720
3 The Great Crash of October 1920
4 The Great Depression 1929
5 The Crash of October 1987
6 Argentina’s Crisis 1990s
7 Mexican Peso Crisis 1994
8 Asia Financial Crisis 1997
9 Subprime-Mortgage Crisis 2007

Indikator Terjadinya Krisis

Reinhart dan Rogoff (2008) mengatakan bahwa terjadinya krisis keuangan global selalu memenuhi tiga karakteristik sebagai berikut:[1]

  1. Runtuhnya asset market secara mendalam dan berlangsung lama. Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan, kondisi ini biasanya ditunjukkan oleh turunnya real housing price rata-rata sebesar 35% selama lebih dari 6 tahun dan pada saat yang bersamaan equity priceturun rata-rata sebesar 55% selama hampir 3,5 tahun.
  2. Krisis yang terjadi pada industri perbankan diikuti oleh penurunan yang cukup tajam pada output & employment. Kondisi ini biasanya ditunjukkan oleh tingkat pengangguran (unemployment rate) yang meningkat ratarata sebesar 7% melebihi siklus penurunan yang biasa terjadi selama lebih dari 4 tahun. Di sisi lain, output turun rata-rata lebih dari 9% selama 2 tahun, meskipun durasi penurunannya lebih pendek dari pengangguran.
  3. Real value dari obligasi pemerintah cenderung terus meningkat dengan signifikan, dimana pada periode setelah perang dunia II meningkat rata-rata sebesar 86%. Yang menarik dari karakteristik ini adalah ternyata peningkatan nilai tersebut bukan menunjukkan besarnya biaya bailout dan rekapitalisasi sektor perbankan yang dikeluarkan pemerintah. Pada intinya, hampir semua krisis keuangan yang telah terjadi disebabkan oleh financial liberalization yang dilakukan oleh pemerintah, dimana indikator terjadinya suatu krisis keuangan, biasanya adalah terjadinya penurunan harga aset, akumulasi hutang, ada masalah dalam pertumbuhan dan terjadinya current account deficits.

IV. Mengapa Terjadi Krisis?

Tentunya para pelaku pasar tidak mengharapkan terjadinya krisis keuangan ini yang menyebabkan aset keuangan mereka turun sedemikian drastisnya. Namun krisis demi krisis terus terjadi dengan jarak yang semakin lama semakin rapat (lihat tabel 2). Lalu apakah yang menyebabkan terjadinya krisis keuangan itu? Di antara sebab-sebab krisis itu adalah sebagaimana berikut.

A. Strategic Complementarities

Menurut teori, ada beberapa sebab terjadinya suatu krisis. Pertama,komplementaritas strategik yaitu kecenderungan untuk meniru atau mengikuti strategi pihak lain. Para pelaku pasar manapun cenderung memprediksi apa yang akan dilakukan para pelaku pasar lainnya. Jika mereka mengira bahwa para pelaku pasar akan melakukan aksi jual saham tertentu, mereka juga akan menjualnya. Jika mereka mengira bahwa para nasabah tempat mereka mendepositokan uang akan menarik dana mereka, maka mereka pun akan mengikuti langkah tersebut sehingga dapat menyebabkan bank mengalami bankruptcy. Ketidakpercayaan terhadap kondisi perekonomian Amerika saat ini menyebabkan para investor menjual saham-saham yang mereka miliki dan langkah ini diikuti oleh para investor lainnya. Akibatnya bursa saham AS terjun bebas dan diikuti oleh bursa-bursa utama dunia lainnya.

B. Leverage

Sebab kedua kebiasaan berutang untuk membiayai investasi (leverage). Jika suatu lembaga keuangan (atau individu) menginvestasikan dana mereka, dalam kasus terburuk mereka dapat kehilangan uang tersebut kalau investasi itu gagal. Nah, ketika mereka berutang untuk menambah investasi, maka di satu sisi mereka dapat mendapat keuntungan yang lebih dari investasi tersebut, namun sebaliknya dalam keadaan terburuk mereka juga dapat kehilangan lebih banyak lagi. Dengan demikian, utang dapat menarik keuntungan yang lebih besar namun juga dapat menjerumuskan seseorang atau perusahaan ke dalam bankruptcy. Bankcruptcy itu sendiri bermakna ketidaksanggupan untuk melakukan pembayaran utang sesuai perjanjian dengan pihak lain. Kasus ini dapat menularkan persoalan keuangan dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Sebagai contoh, meminjam untuk melakukan investasi di bursa saham (margin buying) yang jamak dipraktekkan menjelang terjadinya kejatuhan Wall Street tahun 1929.

Konsep leverage dalam ekonomi modern adalah sesuatu yang tidak sejalan dengan konsep utang dalam Islam. Leverage memberikan “peluang” bagi pengelola untuk mendapatkan keuntungan dari utang yang didapatkan. El-Diwany (2003) menjelaskan bagaimana menggiurkannya efek leverageterhadap “peluang keuntungan”. Operasi leverage sebanyak sembilan kali, dimana utang sembilan kali dari nilai ekuiti (modal), dapat mengubah suatu keuntungan 20% atas asset menjadi suatu keuntungan sebesar 110% atas ekuiti yang dimiliki. Tentu saja peluang ini terjadi karena eksisnya interest(bunga). Perhatikan contoh berikut.[2]

Contoh: Efek Leverage Terhadap Keuntungan Pada Pemilik Proyek

Ekuiti Pemilik                                                          =    100

Amount borrowed (at 10% interest)            =    900

Total asset proyek                                                = 1.000

Keuntungan proyek                                              =    200

Total nilai asset setelah 1 tahun                      = 1.200

Interest and principal repaid to lender        =    990

(900 + (10% * 900)

Total ekuiti pemilik setelah 1 tahun                =    210

(1.200 – 990)

Return on Assets (200 / 1.000)                       =  20 %

Return on Owner’s Equity (110 / 100)          = 110 %

Sumber : el-Diwany (2003)

Namun euforia dari leverage tersebut seringkali berubah menjadi kekecewaan. Ini terlihat jelas pada kejadian boom properti seperti kasussubprime-mortgage di AS yang bersifat spekulatif. Pemerintah mungkin bereaksi terhadap boom harga asset dengan menurunkan suku bunga dimana semua pihak harus meminjam. Ketika suku bunga meningkat, sebagian peminjam tidak mampu memenuhi biaya bunga mereka dan sebagian kecil mulai gagal bayar. Dalam suatu pasar yang tidak sempurna harga asset dapat mengalami kemerosotan harga. Nilai bersih asset yang dimiliki oleh banyak spekulator dapat menurun dengan cepat ketika dampak yang ditimbulkan dari adanya leverage mulai memberikan efek negatif. Para pemberi pinjaman akan semakin khawatir dengan kemerosotan nilai agunan mereka yang dapat menghambat pada peminjam untuk memenuhi jadwal pengembalian utang. Konsekuensi lebih lanjut adalah terjadinya suatu lingkaran tidak berujung tidak berpangkal dari penjualan asset, penurunan harga asset, dan penutupan bank.

C. Asset-Liability Mismatch

Sebab ketiga adalah asset-liability mismatch yaitu situasi di mana terjadi ketidakseimbangan antara asset dan utang suatu lembaga. Misalnya, bank komersial menawarkan rekening yang dapat ditarik kapan saja berupa tabungan (saving account) dan menggunakan dananya berupa utang jangka panjang kepada perusahaan atau nasabah KPR. Adanya mismatch antara kewajiban jangka pendek bank (tabungan) dan aset jangka panjang (pinjaman) seringkali menjadi alasan terjadinya rush (yaitu ketika para nasabah panik dan memutuskan untuk menarik dana mereka lebih cepat daripada bank mendapatkan pengembalian pinjamannya).

Hal ini juga dapat terjadi apabila suatu negara berkembang tidak mampu menjual obligasi negaranya dalam mata uang negaranya,  kemudian mereka menjualnya dalam mata uang Dollar AS. Hal ini akan menyebabkan terjadimismatch antara kewajiban membeli kembali obligasi tersebut dalam mata uang Dollar AS dan aset mereka (berupa pendapatan pajak local dalam matauang lokal). Mereka akan mengalami risiko ketidakmampuan membayar (sovereign default) karena terjadinya fluktuasi kurs mata uang.

  1. D. Regulatory Failure

Sebab lainnya adalah kegagalan regulasi (regulatory failure). Pemerintah berbagai negara berusaha untuk mencegah terjadinya krisis dengan mengatur sektor keuangan. Salah satu tujuan utamanya adalah transparansi yang berarti bahwa situasi keuangan suatu lembaga keuangan dapat diketahui oleh publik. Misalnya dengan mensyaratkan adanya laporan secara reguler berdasarkan prosedur akuntansi yang baku. Tujuan lainnya adalah untuk meyakinkan lembaga tersebut mempunyai aset yang cukup untuk memenuhi kewajiban-kewajiban mereka melalui reserve requirements, capital requirements, dan batas maksimum pemberian pinjaman. Krisis yang terjadi di AS, menurut Managing Director IMF, Dominique Strauss-Kahn disebabkan oleh “gagalnya peraturan menjaga agar tidak terjadi excessive risk takingdalam sistem keuangan, terutama di AS. Di pihak lain, the New York Times menyalahkan adanya deregulasi swaps kredit bermasalah sebagai biang kerokkrisis.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa episentrum krisis keuangan global sekarang ini berada di AS. Sebagai negara yang telah menjadi de facto liberalization, industri keuangan di negara tersebut telah menjadi industri yang lightly regulated atau bahkan unregulated.[3] Kondisi ini mendorong perusahaan-perusahaan keuangan mengambil peranan penting dan sangat mendominasi sistem keuangan di AS.

Banyak kalangan yang mengatakan bahwa dikeluarkannya Gramm-Leach-Bliley Act 1999 oleh pemerintah Amerika Serikat merupakan salah satu pemicu utama terjadinya pertumbuhan yang sangat cepat di industri keuangan. Kebijakan tersebut telah mendorong terjadinya konglomerasi global dalam industri keuangan dimana tidak ada lagi pembatasan antara bank konvensional dengan investment banks. Padahal, pemerintah Amerika Serikat sebelumnya telah mempunyai Glass-Steagel Act of 1933 yang secara jelas melakukan pemisahan kegiatan antara bank konvensional daninvestment banks untuk menghindari terjadinya conflict of interest. Peraturan tersebut merupakan respon dari krisis ekonomi (Great Depression) yang terjadi pada tahun 1930-an. Artinya, dengan dilakukannya deregulasi tersebut maka secara tidak langsung pemerintah Amerika Serikat sebenarnya telah membuka kembali peluang untuk terjadinya krisis keuangan seperti yang dialami di tahun 1930-an.

Nouriel Roubini, ekonom dari New York University telah memprediksi terjadinya krisis ini. Dia mengatakan krisis yang terjadi memberikan kita pengalaman bahwa sistem utang minim regulasi akan menjelma menjadi sebuah malapetaka (credit crunch/chain) (Levin, 2009).

E. Fraud

Krisis juga disebabkan oleh fraud yang menyebabkan terjadinya kebangkrutan beberapa lembaga keuangan. Fraud terjadi ketika perusahaan memberikan informasi yang menyesatkan tentang strategi investasi mereka kepada para nasabah atau memanipulasi data pendapatan. Praktek-praktekfraud yang dilakukan dalam pembiayaan KPR di AS juga ditengarai menjadi salah satu kontributor krisis 2008 ini.

F. Contagion Effect

Efek penularan (contagion effect) juga menjadi sebab terjadinya krisis. Teorinya, ketika krisis keuangan semisal rush menyebar dari satu institusi ke institusi lainnya menyebar dari satu bank ke bank lain, atau dari satu negara ke negara lain. Begitu pula halnya jika krisis mata uang, sovereign default,atau kejatuhan bursa saham menyebar ke negara-negara lain. Jika kejatuhan suatu lembaga keuangan mengancam banyak lembaga lainnya, maka ini disebut systemic risk. Contoh yang paling dekat adalah ketika terjadi krisis Thailand tahun 1997 menyebar ke negara-negara lain seperti Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan.

G. Kekurangan Likuiditas (Lack of Liquidity)

Setelah beberapa tahun industri keuangan global berada dalam kondisi stabil dengan pertumbuhan yang cenderung meningkat dan tingkat suku bunga yang terus menurun, tiba-tiba terjadi shock yang mengejutkan pada bulan Juni 2007.[4] Tingkat credit spread di beberapa pasar keuangan utama di berbagai dunia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Terjadi penundaan atau bahkan pembatalan beberapa rencana take over dan mergerdari beberapa perusahaan keuangan yang cukup besar dan semakin banyak penawaran obligasi baru dengan return yang cukup tinggi. Pada saat yang bersamaan terjadi penurunan rating yang cukup signifikan oleh beberaparating agency besar (hampir 1150 aset pada bulan Juli dan 3713 aset pada bulan Oktober 2007 yang ratingnya diturunkan menjadi negatif).[5]

Pada triwulan ke-2 tahun 2007, banyak institusi keuangan di dunia yang mengumumkan kemungkinan terjadinya potensi kerugian yang besar. Investor merespon kondisi tersebut dengan menarik investasi mereka pada banyak perusahaan keuangan untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Akibatnya, terjadi turbulensi di sektor keuangan yang dipicu oleh hilangnya kepercayaan investor kepada institusi keuangan dan terhadap structured products. Dampak dari kondisi tersebut adalah banyak perusahaan finansial dunia yang berkapitalisasi besar akhirnya bangkrut karena mengalami lack of liquidity. Besarnya kerugian yang diderita oleh beberapa lembaga keuangan besar di AS terlihat dalam tabel berikut.

Tabel 3. Besarnya Kerugian Perusahaan Finansial di Amerika Serikat

Lembaga Jenis Kapitalisasi Pasar(USD Miliar) Kerugian(%)
9 Okt 07 12 Sept 08
American Int’ Group LFSC 179.8 32.3 -82
Bank of America NCB 236.5 150.2 -36.5
Citigroup NCB 236.7 97.8 -58.7
Fannie Mae LFSC 64.8 0.7 -98.9
Freddie Mac LFSC 41.5 0.3 -99.3
Goldman Sachs IBB 97.7 61.3 -37.2
Lehman Brothers IBB 34.4 2.5 -92.6
Merrill Lynch IBB 63.9 24.2 -62.1
Morgan Stanley IBB 73.1 41.1 -43.8
Wachovia NCB 98.3 30.8 -68.6

Sumber: Wilshire Associates

Keterangan:

LFSC = Large Financial Services Company

NCB = National Commercial Bank

IBB = Investment Bank & Brokerages

H. Diabaikannya Etika Bisnis yang Sehat

Chapra (2000) mengomentari dalam pendahuluan bukunya “Sistem Moneter Islam” bahwa wujud dan berulangnya “krisis” dalam substansi yang sama disebabkan oleh pemecahan yang ditawarkan hanya bersifat gejala (symptom), seperti ketidakseimbangan anggaran, ekspansi moneter yang berlebihan, defisit neraca pembayaran yang ekstrim, naiknya kecenderungan proteksionis, tidak memadainya bantuan asing, dan kerjasama internasional yang tidak mencukupi. Layaknya obat analgesic yang mengurangi rasa sakit bersifat temporer.

Lebih lanjut Chapra (2009) menjelaskan tiga sebab terjadinya krisis keuangan belakangan ini yaitu:

  1. Hidup berlebihan. Total utang rumah tangga di Amerika Serikat naik dari 705 miliar dollar AS atau 60 persen dari pendapatan yang dapat dibelanjakan menjadi 34 triliun dollar AS atau 134 persen dari total pendapatan pada tahun 2008.
  2. Pemberian kredit yang berlebih-lebihan dan tidak berdasarkan prinsip kehati-hatian dan perilaku spekulasi yang menyerupai perjudian (gambling).
  3. Pemberian pinjaman yang disertai bunga (interest).

V. Mengapa Keuangan Syariah Bertahan?

Menurut berbagai pemberitaan belakangan ini, banyak pihak berkeyakinan bahwa krisis keuangan global tidak berakibat buruk bagi industri perbankan syariah. Alasan yang mengemuka dari beberapa figur perbankan dan keuangan syariah dunia antara lain adalah karena keuangan syariah dilarang berhubungan dengan perdagangan utang (debt trading) dan perilaku spekulasi yang marak dilakukan oleh lembaga-lembaga keuangan Amerika dan Eropa. Menurut beberapa sumber lainnya, kalau pun ada pengaruhnya, dampaknya akan terbatas dan bersifat tidak langsung mengingat industri keuangan syariah merupakan bagian dari industri keuangan dunia. Namun dampak tersebut diyakini hanya berpengaruh pada laba perusahaan dan tidak menyentuh modal sebagaimana terjadi di beberapa lembaga keuangan internasional.

Sebagaimana diketahui, krisis keuangan 2008 ini menurut banyak kalangan disebabkan oleh terjadinya kredit macet di sektor perumahan AS dan Eropa atau yang disebut subprime mortgages. Teorinya, suatu bank memberikan KPR kepada nasabahnya untuk jangka waktu tertentu. Kemudian, bersama-sama dengan KPR-KPR lainnya dipool kemudian disekuritisasi. Setelah itu dijual ke pasar dengan nama mortgages based securities (MBS). MBS ini kemudian masih diperdagangkan lagi dengan mempoolnya dengan MBS-MBS lain lalu disekuritisasi lagi. Padahal, banyak pemilik KPR tersebut sebenarnya tidak layak mendapatkan KPR karena ketidakmampuan mereka dalam membayar cicilan. Namun, faktor ini diabaikan karena mengharapkan bunga yang lebih besar dari nasabah yang mempunyai risiko lebih tinggi tersebut. Maka kemudian, terjadilah apa yang selama ini ditakutkan oleh praktisi lembaga keuangan yaitu ketidakmampuan membayar atau kredit macet yang meluas hingga berdampak pada runtuhnya beberapa lembaga keuangan di AS dan Eropa. Beberapa lembaga keuangan lainnya terpaksa dijual dan lainnya dinasionalisasikan. Dari sini dapat dilihat sisi buruk dari debt trading yang dalam keuangan syariah diistilahkan dengan bay’ al-dayn bi al-dayn.

Alasan kedua yang menghindarkan bank dan lembaga keuangan syariah dari krisis adalah haramnya perilaku spekulasi dalam transaksi keuangan syariah. Dalam keuangan syariah aksi spekulasi ini disebut maysir yang biasa dinisbahkan sebagai judi. Aksi margin trading dan short selling masih dilarang oleh para ulama fiqh karena masuk kategori maysir. Hal ini pula yang menjadi alasan belum dibolehkannya transaksi produk derivatif sepertiforward, future, swaps dan options.

Di samping itu, lembaga keuangan syariah juga dilarang terlibat dalam money laundering dan melakukan langkah-langkah formal dan profesional dalam melakukan penilaian terhadap proposal-proposal proyek agar terhindar dari risiko yang berlebihan (excessive risks). Tingkat kehati-hatian dalam keuangan dan perbankan syariah mencakup dua hal yaitu adanya prinsip kehati-hatian (prudent) dan kepatuhan terhadap syariah (sharia compliant).

Alasan lainnya adalah karena lembaga-lembaga keuangan syariah bukan menjadi investor utama dalam industri keuangan Barat sehingga tidak terkena dampak langsung krisis tersebut. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, banyak praktek-praktek transaksi keuangan yang tidak lolos verifikasi syariah seperti debt trading, margin trading, short selling, dan derivatif yang menjadi model transaksi keuangan di Barat. Praktek-praktek inilah yang menurut banyak pihak menjadi latar belakang terjadinya krisis keuangan di negara-negara Barat. Dengan absennya “uang syariah” masuk ke lembaga-lembaga keuangan Barat melalui praktek-praktek keuangan di atas, maka aset keuangan syariah dapat terhindar dari efek langsung krisis global. Meskipun sedikit banyaknya keuangan syariah masih terkena dampak tidak langsung mengingat industri keuangan dunia semakin terhubung dan terintegrasi (connected and integrated).

Syariah Islam membatasi bahwa suatu transaksi dibolehkan apabila barang atau jasa tersebut jelas (real exchange). Di samping itu syariah juga melarang riba dan memperdagangkan sesuatu yang bukan milik kecuali dalam batasan yang sangat ketat seperti menjual komoditas dengan pembayaran penuh di depan. Pada prinsipnya, bank syariah adalah lembaga penitipan (custodian) yang tidak dapat mentransfer tabungan publik ke bank lain tanpa izin dari para nasabah. Dengan demikian, aset keuangan syariah bisa terselamatkan karena kepatuhan kepada prinsip syariah.

VI. Pendekatan Ekonomi Syariah Terhadap Krisis

Kebangkrutan yang dialami oleh Lehman Brothers dan krisis di berbagai perusahaan keuangan besar dunia sesudah krisis sub-prime mortgage di AS membuktikan bahwa kita harus lebih tegas lagi mengenai sistem pemeringkatan kredit (credit rating) untuk menghindari hal serupa terjadi. Dalam teori keuangan syariah, tidak dibolehkan membayar utang dengan utang dan memperjualbelikan utang (bay’al-dayn). Hal ini untuk mencegah terjadinya ketidakmampuan membayar (default) oleh debitur yang bersangkutan yang dapat berujung pada kepailitan (bankruptcy). Dalam keuangan syariah, bunga bank dilarang dan pemberian pembiayaan kepada perusahaan yang terlilit utang juga tidak dianjurkan. Dengan demikian, secara teoritis kebangkrutan dapat dicegah dan pada gilirannya kredit macet (non performing loan/NPL) atau dalam keuangan syariah disebut non performing financing (NPF) dapat ditekan seminimal mungkin.

Akar permasalahan dari krisis keuangan global sekarang ini adalah kredit macet. Demikian juga krisis perbankan Asia tahun 1997-1998. Kredit macet ini menimbulkan krisis likuiditas yang kemudian menyulut terjadinya rushatau bank run. Padahal saat itu lembaga-lembaga keuangan mengalami kesulitan likuiditas. Untuk mengamankan situasi ini, pemerintah di berbagai negara dan bank sentral mengambil beberapa kebijakan seperti menyediakan bantuan likuiditas seperti Bantual Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), melakukan penggabungan (merger) beberapa bank, pengambil alihan (take over/acquisition) dan nasionalisasi perusahaan keuangan swasta. Untuk meredakan gejolak rush, pemerintah menjamin simpanan masyarakat sampai level tertentu. Di samping itu masih ada beberapa kebijakan lainnya yang diambil pemerintah yang biasanya menjadi satu paket kebijakan stimulus ekonomi. Di negara-negara Barat, paket kebijakan itu disahkan menjadi undang-undang setelah mendapat persetujuan DPR.

Dalam tradisi ekonomi syariah, ada beberapa beberapa jenis transaksi yang tidak dibolehkan antara lain yaitu riba, gharar, maysir, tadlis. Larangan terhadap riba sudah jelas dengan diharamkannya berbagai bentuk bunga pinjaman (interest). Larangan ini bukan hanya didasarkan pada larangan mengeksploitasi pihak yang membutuhkan kredit, tetapi lebih kepada terciptanya iklim ekonomi yang lebih adil dengan bergeraknya sektor riil, bukan hanya sektor keuangan. Kalau sebagian besar orang merasa lebih nyaman mendapatkan uang dengan bunga, maka sektor riil tentu tidak bergerak. Akibatnya perdagangan barang dan jasa jadi terhambat dan ekonomi masyarakat memburuk dan mengundang terjadinya krisis yang lebih besar.

Gharar merepresentasikan adanya ketidakjelasan informasi mengenai sesuatu yang ditransaksikan. Perdagangan saham yang didasarkan pada rumor merupakan salah satu jenis transaksi ini. Akibatnya, pasar saham menjadi tidak stabil dan pada gilirannya dapat menyeret pada krisis di pasar ekuitas.

Maysir merujuk kepada perilaku spekulatif. Agak berbeda dengang harar,terkadang aksi spekulasi ini didasarkan pada pengetahuan dan perhitungan tertentu seperti berbekal data historis dan alat-alat ukur lainnya. Contoh-contohnya dalam praktek keuangan adalah short selling, margin trading, dan derivatif. Contoh lainnya adalah spekulasi dalam jual beli valuta asing karena mengharapkan keuntungan yang besar dari selisih harga beli dan harga jual. Belajar dari beberapa krisis yang melanda dunia, sudah saatnya dipikirkan kembali untuk memperketat praktek perdagangan di pasar keuangan. Kalau perlu jenis-jenis transaksi spekulatif tersebut dibuatkan aturan yang lebih ketat atau dilarang sama sekali.

Rasionalitas haramnya tadlis (asymetric information) didasarkan pada premis bahwa dalam suatu transaksi masing-masing pihak harus memiliki informasi yang sama mengenai transaksi yang dilakukan. Tadlis terjadi ketika salah satu pihak memiliki informasi yang lebih dari pihak lain dan ia tidak mengemukakannya. Misalnya, seorang pedagang beras tidak mengungkapkan bahwa beras yang dijualnya sudah dicampur dengan beras kualitas lebih rendah. Dalam industri keuangan, tadlis terjadi ketika salah satu pihak tidak mengemukakan kelemahan atau risiko yang terdapat pada objek transaksi. Misalnya, menjual mortgage based securities yang sedang bermasalah karena para pemilik KPRnya tidak sanggup membayar cicilan. Krisis yang terjadi di AS antara lain dilatarbelakangi oleh terjadinya kredit macet KPR atau yang dikenal dengan subprime mortgages. Untuk itu perlu dipertegas peraturan mengenai transparansi informasi untuk melindungi kepentingan investor agar tidak salah pilih (adverse selection) instrumen investasi. Di samping itu, pemeringkatan kredit (credit rating) juga perlu diperketat pula.

Disamping menyelaraskan praktek keuangan dunia dengan ketentuan-ketentuan syariah di atas ada beberapa upaya aktualisasi syariah lainnya yang dapat dilakukan agar krisis keuangan tidak lagi menghampiri atau setidaknya kita lebih kebal terhadap pengaruhnya. Usaha-usaha yang dapat dilakukan antara lain dengan memperbesar porsi equity financing ketimbang melulu menggunakan pola debt financing. Bentuk usaha lainnya adalah dengan memperbuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), mengembangkan sektor keuangan yang sejalan dengan sektor riil, merevitalisasi penggunaan Dinar dan Dirham dalam transaksi keuangan dan bisnis, dan mereka ulang sistem perbankan dan keuangan dunia.

A. Promosikan Equity Financing

Dalam pembiayaan syariah dikenal dua jenis pembiayaan yaitu equity financing dan debt financing. Equity financing atau pembiayaan ekuitas diwakili oleh pembiayaan mudharabah dan musyarakah. Sedangkan debt financing diwakili oleh misalnya murabahah dan ijarah. Semangat yang diusung oleh ekonomi syariah adalah terdistribusikannya modal kepada pihak-pihak yang membutuhkan melalui skema bagi hasil (profit-loss sharing/PLS). Dua hal yang dituju yaitu terdistribusikannya modal secara adil dan bergeraknya sektor riil sebagai penggerak ekonomi masyarakat banyak. Dengan demikian, uang atau modal betul-betul menyentuh kepentingan ekonomi rakyat banyak.

Sebaliknya yang terjadi sekarang ini adalah sebagian besar uang berputar pada pasar keuangan (financial markets) dan industri besar yang sangat rawan terhadap krisis. Krisis global yang terjadi saat dan ini dan kebangkrutan perusahaan-perusahaan raksasa seperti Enron pada awal milenium ini menandakan bahwa pasar keuangan dan industri besar sangat rentan (vulnarable) terhadap krisis.

Dalam ekonomi syariah yang agak rawan terseret arus permainan keuangan global ini adalah pembiayaan murabahah dan ijarah yang menurut sebagian kalangan sangat dekat dengan praktek keuangan konvensional. Untuk mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan, sistem pemeringkatan kredit yang dibuat oleh berbagai lembaga pemeringkat harus lebih ketat lagi. Di samping itu, lembaga perbankan syariah harus terus didorong untuk memperbesar porsi pembiayaan yang berdasarkan PLS. Bahkan mungkin perlu diwacanakan peraturan yang tidak membolehkan penambahan kantor cabang bank kecuali kantor cabang syariah yang menerapkan PLS dalam pembiayaannya.

B. Kembangkan UMKM

Sudah sering didengungkan bahwa berbagai krisis keuangan yang terjadi di dunia disebabkan oleh ulah segelintir anak manusia. Namun akibat dari perbuatan mereka ditanggung oleh sebagaian besar umat manusia yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan akar krisis tersebut.

Krisis perbankan dan keuangan yang terjadi di Indonesia tahun 1997-1998 adalah akibat ulah para pemilik bank yang tergiur dengan keuntungan besar. Namun mereka ternyata salah perhitungan dan terjadilah krisis perbankan yang menyebabkan banyak bank ditutup, dipaksa merger, atau diambil alih oleh pemerintah. Di samping itu, otoritas moneter terpaksa harus menyediakan bantuan likuiditas yang harganya begitu mahal. Akibat yang dirasakan oleh masyarakat luas adalah dicabutnya subsidi dan kenaikan harga barang yang cukup tinggi. Padahal, sebagian besar rakyat Indonesia tidak ada hubungan langsung dengan sebab krisis tersebut tetapi merekalah pihak yang paling menderita. Mereka seperti ikut menanggung siksa akibat dosa para pelaku bisnis di sektor keuangan.

Krisis keuangan keuangan tidak hanya berdampak pada lembaga-lembaga keuangan tetapi juga pada perusahaan-perusahaan besar yang selama ini dimanjakan oleh kucuran kredit dari lembaga perbankan dan pasar modal. Namun mereka lebih beruntung ketika terjadi krisis. Sebagian mendapat bantuan kredit baru untuk mencegah pailit berdasarkan prinsip too big too fail atau menjual asetnya dengan harga mahal kepada pemerintah. Semua jenis bantuan tersebut tentu ada biayanya yang juga harus dibayar oleh pemerintah. Konsekuensinya, mulailah kenyamanan yang selama ini dinikmati dicabut seperti harga BBM naik, pendidikan dan kesehatan mahal, dan pembangunan infrastruktur terbengkalai. Akibatnya sebagian masyarakat yang tidak terkait langsung dengan industri keuangan ikut menanggung beban.

Semakin tinggi sesuatu, maka semakin kuat angin yang didapatnya. Sebaliknya, semakin rendah, angin pun semakin sayup berhembus. Begitu pula yang terjadi di dunia usaha. Ketika usaha-usaha besar tumbang akibat krisis, usaha-usaha mikro, kecil, dan menengah yang sempat ikut terguncang mampu bangkit kembali dari keterpurukan. Mereka adalah pengusaha-pengusaha yang selama ini dinilai tidak bankable atau tidak dilirik oleh dunia perbankan dan para investor. Kalau pun ada, porsinya sangat kecil sekali. Padahal, sektor inilah yang paling besar menyerap tenaga kerja. Sektor ini pula yang paling besar menghidupi rakyat.

Berbagai badai ekonomi yang menerjang dunia dan Indonesia dalam satu dekade belakangan ini hendaknya menyadarkan para pemegang kebijakan keuangan untuk memikirkan kembali kebijakan apa yang paling maslahahbagi orang banyak. Untuk apa pengakumulasian modal yang besar kalau ternyata tidak dapat menggerakkan ekonomi masyarakat dan menyerap tenaga kerja. Bukankah lebih baik kalau uang yang sekarang menumpuk di berbagai lembaga keuangan itu juga disalurkan ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan koperasi.

Untuk ke depannya, pemerintah perlu membuat kebijakan dan peraturan yang lebih berpihak kepada ekonomi kecil karena di sanalah pemenuhan kebutuhan hidup orang banyak tersandarkan. Sebagai contoh, setiap bank harus mengalokasikan 20 persen porto folio kreditnya untuk sektor UMKM. Meskipun angkanya ‘cuma’ 20 persen tetapi jumlah rakyat yang menikmatinya dan roda ekonomi yang digerakkannya sangat besar.

C. Sektor Finansial Harus Mengikuti Sektor Riil

Para ahli ekonomi moneter menganalisa bahwa yang menjadi pemicu terjadinya krisis adalah deviasi dalam sektor keuangan yang memainkan aktivitas spekulasi.[6] Sektor keuangan, dalam hal ini tidak terkait sama sekali dengan fundamental sektor riil. Padahal, kekacauan pada sektor ini mengakibatkan keguncangan di sektor riil baik pada tahapan produksi maupun perdagangan. akibatnya, harga barang dan jasa naik bukan karena hukum permintaan dan penawaran tetapi lebih karena faktor psikologis. Pada gilirannya perekonomian pun menjadi timpang.

Sementara konsep ekonomi syariah menekankan bahwa jumlah uang beredar bukanlah variabel yang dapat ditentukan begitu saja oleh pemerintah sebagai variable eksogen. Sebaliknya ia adalah variabel endogen, yakni ditentukan oleh banyaknya permintaan akan uang di sektor riil. Dengan kata lain, jumlah uang yang beredar sama banyaknya dengan nilai barang dan jasa yang ada dalam perekonomian.

Sekedar ilustrasi dari fenomena ketidakseimbangan pada ekonomi konvensional tersebut, terlihat dari data peredaran uang di dunia setiap hari. Dana yang beredar mencapai US$ 2 triliun sampai US$ 3 triliun atau sekitar lebih US$ 700 tirliun dalam satu tahunnya. Tetapi dana yang benar-benar digunakan untuk sektor riil (kegiatan perdagangan barang dan jasa) hanya berkisar US$ 7 triliun. Dengan demikian arus uang lebih cepat dibandingkan dengan arus barang.

Dengan demikian hampir seluruh dana tersebut (99%) beredar secara maya, artinya “gentayangan” dalam transaksi non sektor riil, seperti peredaran uang di pasar modal dan pasar uang dunia secara spekulatif. Inilah ketidakseimbangan antara arus uang dan barang yang dicela dan dihindari ekonomi syariah dan dikategorikan sebagai riba.

Gejala ketidakseimbangan antara arus moneter dan arus barang/jasa disebut sebagai adanya decopling (istilah dari Peter Drucker) yaitu fenomena keterputusan antara maraknya kegiatan ekonomi dan bisnis spekulatif, sehingga dunia terjangkit penyakit yang bernama ekonomi gelembung (Bubble Economy). Disebut dengan gelembung karena secara lahir tampak besar, tetapi ternyata tidak berisi apa-apa kecuali udara. Ketika ditusuk ternyata ia kosong, dan suatu saat rawan meletus. Kalau ia meletus, terjadilah krisis seperti sekarang ini.

Oleh karenanya hal tersebut dilarang syariah, sebagaimana kaidah ”sektormoneter dan sektor riil harus terkait”. Kaidah ini mengindikasikan sebuah model pasar keuangan Islam secara tersendiri, yang membedakannya dengan pasar keuangan konvensional. Dengan adanya panduan tersebut, maka misalnya dalam suatu transaksi jual beli, uang dan barang (ma’qud ‘alaih)harus tersedia, karena keduanya merupakan rukun (yang wajib ada). Dengan demikian, future trading dan margin trading yang tidak diikuti dengan pengiriman barang adalah tidak sah, sebagaimana yang banyak terjadi dalam bisnis komoditi saat ini. Inilah yang dipraktekkan perbankan syariah, yang pembiayaannya (financing) tidak dapat terlepas dari sektor riil yang dibiayainya.

D. Kembali ke Dinar-Dirham

Melihat dan merasakan krisis keuangan global sekarang ini membuat orang bertanya-tanya, adakah solusi yang mujarab agar krisis tidak terus mengancam. Salah satu tawaran dari ekonomi syariah adalah kembali ke sistem mata uang Dinar dan Dirham.

Mengapa Dinar-Dirham? Pertama, Dinar adalah mata uang yang stabil. Sejarah membuktikan, sejak zaman Rasulullah Saw Dinar terbukti menjadi mata uang yang paling stabil dibanding dengan mata uang manapun. Dinar tidak mengalami inflasi yang begitu besar. Contohnya, dam (denda) haji sebesar 1 ekor kambing tetap 1 Dinar sejak zaman Rasulullah Saw hingga sekarang. Penelitian yang dilakukan Prof. Roy Festrem dari Barkeley University menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa dalam kurun waktu 400 tahun hingga tahun 1976 harga emas konstan dan stabil. Justru nilai emas dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan. Tahun 1800 harga emas persatu troy ons setara dengan 19,39 Dolar AS, tapi pada tahun 2004 dengan kadar yang sama harga emas sebesar 455,75 Dolar AS. Artinya selama 24 tahun emas malah mengalami apresiasi sebesar 2250 persen. Bandingkan dengan Dollar yang dari tahun ke tahun mengalami ketidakstabilan nilai. Bagaimana dengan rupiah? Nasibnya jauh lebih parah. Dari tahun ke tahun rupiah terus mengalami depresiasi terutama terhadap Dollar. Inflasi cenderung semakin naik. Devaluasi rupiah yang pernah dilakukan pemerintah menyebabkan harga-harga naik 2,5 hingga 30 persen.

Kedua, Dinar tidak bisa dibuat untuk spekulasi. Ia tidak bisa dimainkan sebagai komoditas yang bisa diperdagangkan. Celah memperdagangkannya memang masih ada. Tapi ketiadaan margin dari transaksinya membuat keengganan para spekulan di manapun. Hal ini karena sebagai mata uang Dinar memiliki nilai intrinsik sesuai dengan beratnya masing-masing (4.25 gram emas 22 karat dan 3 gram perak murni).

Ketiga, pendayagunaan Dinar-Dirham secara fantastik praktis akan mengurangi ketergantungan tunggal terhadap Dollar AS. Makna reflektifnya, akan semakin kecil kemungkinan negara pengguna Dinar setiap saat digoyang oleh hegemoni dolar dan para fund manager yang sejauh ini terus melakukan spekulasi secara destruktif untuk kepentingannya sendiri. Kian mengecilnya ketergantungan terhadapa dolar AS – dengan demikian – akan berkorelasi konstruktif terhadap upaya stabilisasi ekonomi makro dan mikro.

Keempat, Dinar tidak perlu menggunakan alat hedging seperti halnya fiat money yang mesti melakukannya untuk melindungi diri dari perubahan kurs. Ini karena Dinar memiliki nilai intrinsik yang otomatis menjadi pelindung bagi dirinya sendiri.[7] Emas memiliki nilai intrinsik yang menjadi garansi dan perlindungan dari kemungikinan gencetan situasi eksternal yang tak diinginkan. Emas menjadi bernilai bukan karena dekrit atau diundangkan suatu negara sebagaimana fiat money tapi karena kandungan logam mulianya yang diakui semua orang.

Kelima, sistem emas dan perak akan menimbulkan kestabilan moneter. Tidak seperti sistem uang kertas yang cenderung membawa instabilitas dunia dikarenakan penambahan uang kertas yang beredar secara tiba-tiba. Emas biasanya tidak mudah ditemukan dalam jumlah berlimpah. Dalam perkiraan terbaik, persediaan emas global dalam 300 tahun terakhir hanya bertambah rata-rata 2 % per tahun. Tingkat pertumbuhan ini jauh di bawah pertumbuhan uang beredar berdasarkan perbankan modern yang menggunakan uang kertas.[8] Dalam setahun, seluruh industri tambang emas dunia hanya menghasilkan kira-kira 2000 ton emas, sangat jauh di bawah produksi baja di AS saja yang menghasilkan 10.500 ton per jamnya pada tahun 1995.[9]

Keenam, sistem emas dan perak akan menciptakan keseimbangan neraca pembayaran antar-negara secara otomatis, untuk mengoreksi ketekoran dalam pembayaran tanpa intervensi bank sentral. Mekanisme ini disebut dengan automatic adjustment (penyesuaian otomatis) yang akan bekerja menyelesaikan ketekoran dalam perdagangan (trade imbalance) antar negara.

E. Reka Ulang Sistem Perbankan Dunia

Tidak diragukan lagi bahwa riba (bunga bank) dan maysir (judi dan spekulasi yang mirip perjudian) adalah faktor utama terjadinya krisis keuangan dunia saat ini. Kalau saja larangan riba dan maysir dipatuhi, diakuinya kepentingan orang lain terhadap sumber-sumber ekonomi, ditambah dengan diterapkannya nilai-nilai dan moral islami, tentu dunia tidak akan mengalami krisis seperti ini.

Namun demikian, apakah industri keuangan syariah yang ada sekarang merupakan suatu solusi? Jawabannya mungkin beragam. Namun ada baiknya kita melihat kembali jejak-jejak kejayaan ekonomi Muslim di abad keemasan sebelum negara-negara Muslim mengalami penjajahan. Zaman itu dikenal dalam sejarah dunia sebagai zaman kegelapan (the dark ages). Joseph Schumpeter, seorang penulis sejarah ekonomi dunia, bahkan mengabaikan ekonomi Muslim pada zaman itu. Padahal, selama masa itu, yang berlangsung lebih kurang 1000 tahun, tidak dikenal adanya krisis ekonomi. Mungkin ada baiknya kita menemukan lembaga dan sistem keuangan yang diterapkan pada masa itu sebagai bagian dari solusi terhadap krisis global sekarang ini.

Pada masa tersebut, pembiayaan yang berlaku adalah pembiayaan yang berdasarkan pasar (market-based financing) bukan berdasarkan bank (banking system). Transaksi keuangan yang terjadi adalah berdasarkan prinsip bagi hasil (PLS) dan jual beli. PLS itu dapat dikategorikan menjadimudharabah dan musyarakah. Sementara prinsip jual beli dapat dilakukan dalam bentuk akad jual beli biasa (bay’), bay’ muajjal (jual beli dengan pembayaran ditangguhkan), dan salam (pembayaran di muka, deliverybelakangan). Di luar hal ini, pembiayaan diberikan dalam bentuk utang tanpa bunga (qardh hasan), atau bentuk kedermawanan lainnya seperti zakat, hibah dan wakaf.

Dengan menggunakan pembiayaan berbasis pasar, maka keberadaan lembaga intermedier (baca: bank) menjadi kurang relevan. Terlebih, para pemberi pembiayaan mempunyai pengetahuan yang lebih tentang kliennya sesuai prinsip “know thy client” atau “kenali nasabah Anda”. Dengan demikian, moral hazard dan adverse selection yang selama ini menjadi masalah dalam industri keuangan dunia dapat diminimalisir.

VII. Kesimpulan

Dari uraian panjang di atas setidaknya dapat disimpulkan bahwa krisis keuangan global yang terjadi belakangan ini disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor manusia dan faktor sistem keuangan dunia itu sendiri. Faktor manusia mencakup gaya hidup yang berlebih-lebihan sehingga menyebabkan banyak orang yang terjebak dalam hutang yang bertumpuk dan diabaikannnya nilai-nilai moral dalam berbagai dimensi kehidupan terutama dalam pola transaksi keuangan. Sementara yang menyangkut sistem yaitu dilibatkannya unsur riba(berupa bunga) dan maysir (berupa spekulasi yang berlebihan) dalam transaksi keuangan dunia.

Dalam sistem yang berlandaskan riba dan maysir telah terjadi praktek pemberian kredit yang berlebihan dan menyalahi prinsip kehati-hatian. Pihak yang meminjamkan (bank) mengambil bunga dari kredit yang diberikan. Bukannya berbagi risiko, bank mentransfer semua risiko kepada pihak peminjam (debitur). Prinsip kehati-hatian dalam pembelian kredit diciderai dengan tindakan bank mensekuritisasi pinjaman lalu menyalurkan risiko ke pasar keuangan. Pemindahan risiko ini dikategorikan maysir mengingat dalam pinjaman yang disekuritisasi tersebut terdapat risiko default yang mungkin tidak diketahui oleh pembeli sekuritas tersebut. Hal inilah yang masuk kategori gharar dalam keuangan syariah yaitu situasi di mana semua pihak tidak mempunyai informasi yang berimbang mengenai sesuatu yang ditransaksikan.

Untuk menyelesaikan krisis dan mencegahnya datang kembali, keuangan syariah menawarkan beberapa solusi. Di antaranya Islam melarang hidup secara berlebih-lebihan. Tingginya kartu kredit yang melebihi tingkat pendapatan adalah salah satu contoh yang menyebabkan seseorang mengalami krisis keuangan. Kalau hal ini dialami oleh banyak orang atau bahkan negara, maka krisis keuangan yang lebih luas akan terjadi. Islam mendorong umat manusia untuk moderat dalam memenuhi kebutuhan materialnya. Islam juga mengajak untuk menghindari praktek-praktek riba, maysir, dan gharar dalam berbagai transaksi ekonomi. Tujuannya adalah agar umat manusia dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka secara adil dan wajar dari semua sumber daya yang diberikan oleh Allah Swt.

Para pendukung keuangan syariah percaya kalau prinsip-prinsip syariah dilaksanakan di berbagai pasar keuangan dunia dan dalam sistem moneter negara maka krisis keuangan global ini tidak akan terjadi. Meskipun demikian, perjalanan dalam menerapkan sistem keuangan Islam menjadi suatu sistem yang aplikatif, tidak hanya dalam tataran konsep dan teori, masih sangat panjang. Banyak hal teknis yang masih perlu dikaji lebih mendalam, terutama ketika bunga sebagai alat ukur utama transaksi keuangan dihilangkan. Model-model perhitungan keuangan perlu dilihat dan dipelajari kembali serta disesuaikan dengan akad-akad yang ada di dalam sistem keuangan Islam. Selain itu, dalam system keuangan global, proporsi industri keuangan Islam masih sangat kecil dibandingkan dengan konvensional. Dengan demikian, usaha yang dibutuhkan untuk membangun sistem keuangan islam masih sangat besar. Wallahu a’lam.

_____________________

Daftar Pustaka

Amin, A. Riawan (2007). Satanic Finance: True Conspiracies, Jakarta: Celestial Publishing, Cet. 1.

Ali, Nuruddin Mhd (2008). “Krisis Keuangan Global dan Keuangan Syariah”,dimuat di http://ekonomiprofetik.wordpress.com.

Chapra, M. Umer (2000). Sistem Moneter Islam, Jakarta: Gema Insani Press – Tazkia Cendekia, Cet. 1.

_______  dan Tariqullah Khan (2000). Regulation and Supervision of Islamic Banks. Jeddah: IRTI.

_______ (2009). “The Global Financial Crisis: Can Islamic Finance Help?”  http://www.newhorizon-islamicbanking.com diakses pada 12 Maret 2009.

_______ (2009). “Islamic Solution to Financial Crisis”, Saudi Gazette, dimuat di

http://www.saudigazette.com.sa/index.cfm?method=home.regcon&contentID=2009030631269, Februari 2009.

El-Diwany, Tarek (2003), The Problem with Interest; Sistem Bunga dan Permasalahannya, Jakarta: Akbar Media Sarana, Cet. II.

Hamidi, M. Luthfi (2007), Gold Dinar: Sistem Moneter Global yang Stabil dan Berkeadilan, Jakarta: Senayan Publishing, Cet. 1.

Karim, Adiwarman A (2008). “Indonesia Akan Bangkit dan Maju dengan Sistem Ekonomi Syariah,” http://www.suara-islam.com

Mashoem (2009), “Islamic Finance And The Global Economic Crisis,”http://freedom-tale.blogspot.com diakses pada 12 Maret 2009

Meera, Ahamed Kameel Mydin (2002). The Islamic Gold Dinar. Selangor: Pelanduk Publications, cet. 1.

Meera, Ahamed Kameel Mydin dan Hassanuddeen Abdul Aziz, “The Islamic Gold Dinar: Socio-economic Perspectives”, Proceedings of the 2002 International Conference on Stable and Just Global Monetary System International Islamic University Malaysia (2002), dimuat dihttp://www.financeinislam.com/article/1_36/1/177.

Muqorobin, Masyhudi (2009). “Pokok-pokok Pikiran tentang Ekonomi Syari’ah di Tengah Krisis Keuangan Global,” Dipresentasikan pada Seminar the Challenge of Islamic Economics and Finance: Facing the Global Financial Crisis. FE UNAIR, 26 Januari 2009.

Sakti, Ali (2007). Analisis Teoritis Ekonomi Islam: Jawaban atas Kekacauan Ekonomi Modern. Jakarta: AQSA-Publishing, Cet.1.

Shah, Anup (2009). “Global Financial Crisis” dimuat dihttp://www.globalissues.org Maret 2009.

Yusanto, Ismail, dkk. (2001). Dinas Emas, Solusi Krisis Moneter, Jakarta: PIRAC, SEM Institute, Infid, Cet. 1.

http://web.bisnis.com/keuangan/ekonomi-makro/1id106321.html diakses tanggal 7 Maret 2009.

Report on The Subprime Crisis – Final report; IOSCO (International Organization of Securities Commissions); Mei 2008.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Pengelolaan Harta: Kunci Bahagia Dunia & Akhirat

Positive-Psychology-happine

Pengelolaan harta atau wealth management bisa dikatakan sebagai salah satu faktor yang menentukan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Mengapa demikian? Karena sebagian besar kehidupan kita berkaitan dengan pengelolaan harta, mulai dari merencanakan (planning), mencari (generating), dan membelanjakannya (spending).

Sebagian besar waktu kita digunakan untuk hal-hal yang terkait dengan harta ini. Misalnya, waktu yang kita gunakan untuk mencari harta (baca: rizki) paling kurang 8 jam sehari. Kita juga memerlukan waktu yang cukup banyak pula untuk membelanjakan dan mengonsumsinya seperti belanja kebutuhan sehari-hari ke pasar, makan dan minum, beli bahan bakar untuk kendaraan, bayar ini dan itu, dan sebagainya.

Sementara waktu yang digunakan untuk hal-hal lain relatif sedikit. Misalnya, untuk beribadah seperti mengerjakan shalat 5 kali sehari semalam ‘hanya’ memakan waktu 30 menit. Belajar, baca buku, bercengkrama dengan keluarga, dan olah raga mungkin hanya dilakukan sesekali di sela-sela kesibukan mencari dan membelanjakan harta. Apalagi waktu yang tersedia harus terpangkas untuk keperluan tidur. Lihat tabel berikut:

 

Jenis Kegiatan

Durasi sehari semalam

Durasi seumur hidup*

Tidur 6 jam 17,5 tahun
Kerja usia 25-55 tahun 8 jam 10 tahun
Shalat sejak usia 10 tahun 5 x 6 menit = 30 menit 1,25 tahun
Kegiatan lain 9,5 jam + 40 tahun

* dengan asumsi angka harapan hidup (life expectency) orang Indonesia 70 tahun.

 

Tabel ini masih bisa dirinci lagi untuk menemukan berapa waktu yang digunakan untuk melakukan masing-masing kegiatan.

Dari tabel di atas kita mendapat gambaran bahwa selain waktu yang digunakan untuk tidur dan mendirikan shalat, praktis semua waktu kita berkaitan dengan mencari, membelanjakan, dan memanfaatkan harta. kalau tidak berarti kita sedang menganggur atau tidak punya kegiatan.

Nah, pada hal-hal yang berkaitan dengan harta inilah terjadi ‘pergelutan’ antara pahala dan dosa. Di sini pula kita menentukan apakah kita menempuh jalan ke surga atau neraka. Mengapa demikian? Karena dalam mencari dan mengelola, dan membelanjakan harta kita selalu dihadapkan dengan pilihan yang baik atau buruk, yang berpahala atau berdosa. Pilihan yang baik misalnya kita mencari harta dengan cara yang halal seperti jual beli yang halal. Pilihan yang buruk misalnya mencuri dan korupsi. Demikian juga dengan membelanjakannya, apakah kita membelanjakan pada hal-hal yang halal atau haram. Demikian juga dengan pemanfaatan harta itu sendiri, apakah dimanfaatkan untuk hal-hal yang diperbolehkan oleh agama atau tidak. Kalau kita mencari, membelanjakan, dan menggunakan harta dengan dan untuk cara-cara yang baik berarti kita telah menempuh jalan surgawi. Apabila kita memilih untuk sebaliknya berarti kita menempuh jalan yang sesat dan menuju neraka.

 

691880-xs

Kebahagiaan atau tidaknya kita di dunia juga ditentukan antara lain dengan bagaimana kita mengelola harta ini. Kalau kita mencari, membelanjakan, dan memanfaatkan dengan cara-cara yang bijak, cerdas, dan perhitungan, mudah-mudahan akan membawa kepada kebahagiaan. Sebaliknya apabila dilakukan dengan culas, bodoh, dan serampangan maka itu dapat membawa kepada kesengsaraan. So, proceed with caution!

 

hell-sign

Posted in Islamic Financial Planning | Tagged , , | Leave a comment

Tuntunan Ilahi Tentang Perencanaan

Pentingnya membuat perencanaan terhadap apa yang ingin kita capai juga diteladankan dan diamanatkan oleh Allah Swt. Misalnya dalam penciptaan Adam a.s. Allah Swt menjelaskan rencana-Nya untuk menciptakan prototype manusia yang akan dijadikan khalifah di muka Bumi. Sebagaimana ghalibnya sebuah rencana, pasti ada yang pro maupun kontra ketika rencana tersebut diutarakan kepada pihak lain. Demikian juga dengan rencana Allah Swt, mendapat komentar dari jamaah malaikat dengan mengatakan, “Apakah Engkau akan menciptakan di muka Bumi seseorang yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?” (QS. Al-Baqarah [2]:30). Akan tetapi, rencana Allah jua yang berlaku dan manusia pertama itupun (Adam a.s.) dan keturunannya menjadi (yakun) di muka Bumi.

Perintah untuk membuat perencanaan ini dapat kita temukan secara tersirat dalam beberapa firman Allah Swt lainnya. Misalnya dalam QS. Al-Hasyar [59]:18:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah! Sungguh, Allah Maha Memberi khabar terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”

 

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan dengan seksama (nazhar atau nalar: Ind) apa yang kita perbuat untuk hari esok. Dengan kata lain kita diperintahkan untuk mempersiapkan dengan baik keadaan kita di hari esok. Menurut saya, “hari esok” (Arab: ghadd) dalam ayat ini bermakna dua hal yaitu masa depan di dunia dan masa depan di akhirat. Kesimpulan ini muncul apabila ayat ini dikaitkan dengan ayat-ayat lain yang menyuruh kita untuk mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana akan dibahas di bawah ini. Dengan demikian, kita harus mampu mensinergikan kebahagiaan di dunia dan akhirat melalui perencanaan yang baik dan pelaksanaan dari rencana itu.

Apa yang kita alami hari ini adalah akibat dari perbuatan kita di masa lalu. Keadaan 5 atau 10 tahun yang akan datang sangat ditentukan apa yang kita lakukan sekarang. Demikian juga kondisi kita di akhirat tergantung pada amal kita di dunia. Nah, jelas ada keterkaitan antara berbagai periode kehidupan yang kita lalui dari masa lalu, sekarang, masa depan, dan nanti di akhirat.

Coba ingat kembali, pernahkah Anda merencanakan bagaimana keadaan Anda sekarang pada lima tahun yang lalu? Apakah Anda cukup puas dengan keadaan sekarang atau belum? Jika belum, mungkin ada baiknya mulai sekarang Anda serius merencanakan hidup Anda. Merencanakan hidup berarti Anda mengambil alih kendali (take control) atas diri Anda sendiri.

Jika ingin hidup bahagia di akhirat, maka rencanakan dari sekarang. Kemudian lakukan berbagai hal yang mengantarkan Anda kepada kebahagiaan itu. Pilihannya hanya ada dua, bahagia atau sengsara. Dan, tidak ada yang paling menginginkan kesengsaraan kita di akhirat nanti selain iblis atau setan. Kalau kita tidak mengendalikan diri kita, melaksanakan rencana-rencana untuk kebahagiaan di akhirat, sangat dikhawatirkan kita malah mengikuti rencana-rencana atau langkah-langkah setan yang kita permaklumkan sebagai musuh yang nyata dan abadi.

Pada bagian lain Allah Swt menganjurkan untuk mempersiapkan nashib (bagian) di dunia.

“Dan carilah (pahala) negeri Akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu (nashibmu) di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di Bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash[28]:77).

 

Dalam ayat ini Allah Swt menyuruh hamba-hamba-Nya untuk berbuat banyak hal terhadap nikmat dan anugerah yang diberikan Allah untuk kebahagiaan di kampung akhirat kelak. Namun, jangan sampai melupakan kebutuhan duniawi.

Menurut pemahaman saya, dalam ayat ini Allah menyuruh kita untuk membuat perencanaan yang matang tentang kebahagiaan di akhirat dan dunia. Kebahagiaan tersebut dapat dicapai dengan memanfaatkan rezeki atau anugerah Allah SWT. Artinya, rezeki yang diberikan Allah harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan di akhirat kelak dengan tidak melupakan nashib (bagian atau jatah) di dunia. Dengan kata lain, rezeki yang diberikan Allah SWT harus dikelola dengan baik agar kebahagiaan di akhirat dan dunia dapat dicapai.

Mengenai hal ini, terdapat dua kutub ekstrim dalam pengelolaan rezeki tersebut. Di satu kutub adalah penggunaan rezeki yang semata-mata untuk kepentingan duniawi dengan melupakan kepentingan ukhrawi. Di kutub lain adalah menggunakan semua rezeki untuk kepentingan ukhrawi dengan menafikan untuk kepentingan duniawi. Nah, sekarang kita bisa melihat posisi kita berada di mana di antara kedua kutub ekstrim tersebut.

Graphic1

Gambar 1 Posisi Kepentingan Duniawi dan Ukhrawi

Akhirat adalah tempat dan tujuan akhir periode kehidupan kita. Sebagai sesuatu yang bersifat akhir, tentunya nasib kita di akhirat tidak bisa di tentukan di akhirat pula. Ibarat dalam suatu lomba lari, kita tidak bisa baru berusaha mendapatkan juara 1 ketika telah melewati garis finish. Apa yang akan terjadi di garis finish ditentukan jauh sebelumnya bahkan sebelum kita memulai lomba lari. Proses itu dimulai dengan latihan rutin, mempersiapkan kondisi fisik dan mental, serta berusaha sekuat tenaga memenangkan perlombaan ketika sudah berada di jalur lomba (on the track). Demikian juga dengan keadaan kita di akhirat ditentukan oleh perbuatan kita di dunia ini. Oleh karena itu, kita harus merencanakan dengan baik kebahagiaan kita di akhirat dan mempersiapkan langkah-langkah untuk mencapainya ketika kita masih diberi waktu dan kehidupan di dunia ini.

Terkait dengan keseimbangan kepentingan duniawi dan ukhrawi ini Allah menyuruh kita untuk dapat menyeimbangkannya. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra [17]:29)

 

Ayat ini menjelaskan untuk bijak dalam mempergunakan harta. Kita memang dianjurkan untuk mendermakan sebagian harta berupa zakat, infaq, shadaqah, waqaf, dan hibah namun, kita dilarang untuk terlalu royal dalam berderma. Hal ini karena di dalam harta kita ada hak diri kita sendiri dan keluarga. Sebaliknya, kita juga tidak boleh terlalu menahan harta untuk didermakan karena di dalam harta kita juga terdapat hak-hak orang lain seperti kaum fakir-miskin dan anak-anak yatim.

 Kalau kita matrikskan, terdapat 4 kelompok manusia. Pertama yaitu mereka yang merugi di dunia dan akhirat. Kedua, mereka yang bahagia di dunia namun merugi di akhirat. Ketiga, mereka yang kurang bahagia di dunia, namun bahagia di akhirat. Keempat, mereka yang bahagia dunia dan akhirat. Tujuan utama kita adalah bahagia dunia dan akhirat sebagaimana yang tergambar dalam doa kita:

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia dan akhirat, dan lindungilah kami dari azab negara.” Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang tela mereka kerjakan, dan Allah Mahacepat perhitungannya. (QS. Al-Baqarah [2]:201-202).

Graphic2

Gambar 2 Matriks Kebahagiaan Dunia & Akhirat

 

Teladan Ilahi lainnya mengenai perencanaan lainnya ditemukan dalam QS. Ali ‘Imran [3]:54:

“Mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, dan Allah juga membuat tipu daya. Dan, Allah adalah sebaik-baik pembuat tipu daya.”

 

Pada akhirnya, kita harus paham bahwa sebaik apapun rencana kita, tetapi rencana Allah Swt juga yang berlaku. Jika demikian halnya, berarti kita tidak perlu repot-repot membuat rencana? Toh, pada akhirnya rencana Allah Swt juga yang terjadi?

Bukan begitu halnya. Memang, yang terjadi pada akhirnya adalah kehendak Allah Swt Yang Mahakuasa dan Maha Menghendaki. Tetapi ini tidak menafikan kita untuk membuat rencana. justru kita harus berusaha agar rencana kita itu sejalan dengan rencana Allah Swt, yaitu dengan merencanakan hal-hal yang terbaik. Di samping itu, kita juga harus lebih mendekatkan diri dengan-Nya. Kalau kita dekat dengan seseorang, maka apa keinginan akan dipenuhi. Demikian juga kalau kita dekat dengan Allah Swt, rencana kita pun akan terwujud. Sekarang mari kita bertanya, sudah sedekat apakah kita dengan Allah Swt? Barangkali kegagalan demi kegagalan yang kita alami karena kita kurang mendekatkan diri kepada-Nya.

Posted in Islamic Financial Planning | Tagged | 1 Comment