Ramadhan Smart

oleh: NMA

Tak terasa, sekarang kita segera menamatkan bulan Sya’ban dan memasuki bulan Ramadhan. Tidak berapa lama lagi, bulan suci Ramadhan yang selalu dinanti-nanti itu datang menyambang. Ketiga bulan ini cukup istimewa dalam Islam karena banyak mengandung keberkahan di dalamnya. Rasulullah saw. Mengajarkan umatnya untuk berdoa selama bulan Rajab dan Sya’ban dengan mengucapkan, “Allāhumma bārik lanā fī rajaba wa sya’bāna wa ballighnā Ramadhan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

Untuk kesekian kalinya, insya Allah, kita memasuki bulan Ramadhan. Bagi sebagian orang mungkin Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang ke-5 sesudah usia balighnya. Bagi sebagian yang lain adalah yang ke-15, 20, 25, 30, dan seterusnya. Pertanyaannya sekarang, dari sekian banyak Ramadhan yang kita lalui, berapa Ramadhan yang kita isi dengan ibadah yang paripurna? Dengan kata lain, berapa kali Ramadhan yang kita yakini dapat diisi sebagaimana baiknya? Berapa kali kita berhasil menyandang predikat “orang bertakwa” setelah “tamat” dari madrasah Ramadhan? Sudah berapa kalikah kita kembali fitrah? Atau jangan-jangan tidak pernah sama sekali.

Masing-masing orang mempunyai jawaban sendiri terhadap pertanyaan-pertanyaan ini. Namun, mungkin sebagian besar orang tidak merasa yakin kalau ia berhasil mengisi Ramadhan sebagaimana mestinya. Tidak berapa banyak orang yang menjawab dengan yakin kalau ia mampu kembali fitrah setiap selesai Ramadhan. Jawaban yang sama akan kita dapati ketika ditanyakan kepada ibadah-ibadah lainnya seperti shalat dan haji. Cobalah tanyakan kepada diri kita apakah kita betul-betul menjalankan shalat dengan khusyuk setiap habis shalat? Apakah kita mampu mendapatkan haji yang mabrur?

Kita tidak mampu mengetahui secara pasti apakah ibadah yang kita lakukan diterima Allah atau tidak, karena tidak dapat dibuktikan dengan indera ragawi. Tetapi, setidaknya kita dapat mendeteksi akibat yang ditimbulkan oleh berhasil tidaknya ibadah yang dilakukan. Misalnya, shalat diyakini sebagai media untuk mencegah perbuatan keji dan munkar. Artinya, kalau orang shalat tersebut masih melakukan perbuatan keji dan munkar, berarti shalatnya gagal. Demikian pula, kalau setelah kembali haji ia mengerjakan perbuatan yang tidak baik, maka ia gagal mendapatkan haji yang mabrur.

Lalu bagaimana dengan ibadah Ramadhan? Dalam salah satu riwayat, Rasulullah saw. bersabda, “Betapa banyak di antara orang yang berpuasa (Ramadhan) tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad, An-Nasa`i, Ibnu Majah, dan Hakim). Hadits ini menunjukkan bahwa sebagian besar orang gagal mengisi Ramadhan dengan baik.

Evaluasi Diri

Langkah pertama yang harus kita lakukan dalam menyambut Ramadhan ini adalah melakukan evaluasi terhadap bulan-bulan Ramadhan yang telah berlalu. Evaluasi yang dilakukan antara lain adalah apakah kita telah mengisi Ramadhan dengan sebaiknya? Apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum memuaskan dan perlu diperbaiki?

Evaluasi ini apabila dilakukan lebih cepat akan lebih baik. Dengan demikian kita mempunyai waktu yang agak longgar dalam membuat perencanaan Ramadhan yang akan datang. Terlebih lagi, kegiatan penyambutan Ramadhan justru telah dimulai di bulan Rajab sebagaimana disirat oleh doa yang diajarkan Rasulullah saw. di atas. Kemudian kita disunnahkan berpuasa di beberapa hari di bulan Sya’ban sebagai ungkapan rasa gembira atas datangnya Ramadhan.

Buat Rencana

Ada ungkapan bijak mengatakan “rencanakan apa yang kamu lakukan, lakukan apa yang kamu rencanakan!” Kita jarang membuat perencanaan ibadah yang kita lakukan. Semua dibuat mengalir begitu saja tanpa adanya manajemen ibadah yang baik. Akibatnya, ibadah yang kita lakukan tidak mendapat hasil yang baik karena tidak direncanakan dengan baik. Shalat tidak mencapai khusyuk, zakat tidak maksimal, puasa tidak mencapai taqwa, dan haji tidak mabrur. Kata Imam Ali r.a. “Kebenaran yang tidak dilakukan secara sistematis, akan dikalahkan oleh kebatilan yang sistematis.” Oleh karena itu, kita harus merencanakan terlebih dahulu ibadah-ibadah yang akan dilakukan.

Langkah pertama adalah dengan membuat standar mutu ibadah Ramadhan kita tahun ini. Misalnya, kualitas puasa yang bagaimana yang akan kita capai. Ulama membagi puasa itu menjadi tiga tingkatan yaitu puasa ‘awam, puasa khawash, dan puasa khawashul khawash. Puasa ‘awam adalah puasa dengan menahan makan, minum, dan syahwat. Puasa khawash yaitu puasa anggota badan dari yang haram seperti menjaga pandangan dan pendengaran, menahan tangan dari mengambil yang tidak halal, dan menahan kaki dari melangkah ke tempat yang haram. Puasa khawashul khawash merupakan derajat puasa yang paling tinggi yaitu menjaga diri dari yang membatalkan puasa dan yang haram, dengan mengikat hati dan pikiran kepada Allah SWT, tidak memperhitungkan selain Allah, dan membenci perilaku maksiat kepada-Nya.

Di samping itu, perencanaan yang kita buat juga mencakup rencana kita dalam menyambut Ramadhan. Hal ini dilakukan dalam rangka meneladani Rasulullah saw. yang meningkatkan beberapa aktivitas menjelang Ramadhan, seperti memperbanyak sedekah dan melakukan puasa sunnat.

Ibadah-ibadah lain juga perlu direncanakan karena Ramadhan bukan hanya diisi dengan puasa. Shalat, misalnya, di bulan Ramadhan menyimpan pahala yang sangat besar. Di bulan ini shalat sunnat bernilai shalat wajib, dan shalat wajib bernilai sama dengan minimal 70 kali shalat wajib di bulan-bulan yang lain. Oleh karena itu, rencanakan minimal berapa rakaat shalat yang akan dilakukan setiap hari.

Kita juga jangan sampai menyia-nyiakan waktu malam Ramadhan. Hendaknya kita dapat mengisinya dengan melakukan Qiyamul Lail. Sebaik-baik nikmat setelah Islam adalah nikmat menyendiri bersama Allah SWT. Menegakkan shalat dan berzikir di hadapan Allah jelas lebih baik dari pada tidur. Setiap detik di bulan Ramadhan begitu berharga untuk disia-siakan dengan kegiatan tak berfaedah. Alangkah baiknya, setiap detik diisi dengan zikir, setiap tarikan nafas adalah takbir. Di samping itu, rencanakan juga untuk mengkhatam Al-Qur’an. Contohya, berapa halaman Anda membaca Al-Qur’an setiap hari agar khatam dalam satu bulan.

Bulan Ramadhan adalah juga bulan sedekah. Nabi Muhammad saw. yang dikenal penyantun meningkatkan sedekahnya pada bulan Ramadhan. Berinfaqlah dan jangan pernah takut miskin karena Allah yang kaya tidak pernah kehabisan member kepada orang yang berinfaq. Allah SWT berfirman, “Siapa yang mau member pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepada dengan lipatan yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah [2]:245).

Bulan Ramadhan adalah bulan rahmah, maghfirah (ampunan), dan ‘itqu minannar (pembebasan dari neraka). Pada bulan ini pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Oleh karena itu, mari tekadkan dalam diri untuk meminta ampunan Allah atas semua kesalahan yang telah lalu. Perbanyaklah istighfar dan bertaubatlah dengan taubat nasuha.

Ibadah favorit dalam bulan Ramadhan lainnya adalah I’tikaf. I’tikaf di bulan Ramadhan sangat dianjurkan terutama pada 10 hari terakhir. I’tikaf adalah tinggal di masjid untuk beribadah dan meninggalkan urusan dunia. Seorang yang I’tikaf tidak keluar masjid kecuali karena darurat. Masukkan I’tikaf ke dalam rencana Ramadhan Anda kali ini.

Bulan Ramadhan juga merupakan bulan untuk meningkatkan hubungan antar sesama manusia. Pada bulan ini kita dianjurkan untuk membuka pintu maaf sebesar-besarnya. Hal ini merupakan pencerminan dari sifat Allah yang membuka pintu ampunan dan tobat bagi semua hambanya. Hendaknya, pada bulan ini kita dapat memaafkan orang lain, meminta maaf jika ada kesalahan, dan menghubungkan silaturrahim yang terputus. Di samping itu, perbanyaklah usaha untuk membahagiakan orang tua, apalagi kalau mereka sudah tua.

Terakhir, seriuslah untuk meraih Lailatul Qadar! Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang bangun di waktu malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari). Mari kita bulatkan tekad untuk meraih malam yang paling mulia ini dengan merencanakan sejak dini.

Di samping yang disebutkan di atas, jangan lupa untuk membuat rencana pasca Ramadhan. Misalnya melakukan puasa Syawal dan menyambungkan silaturrahim.]

Lakukan Sepenuh Hati

Setelah kita mempunyai gambaran yang jelas tentang target Ramadhan kali ini, dan membuat rencana apa yang akan dilakukan sebelum, selama, dan sesudah Ramadhan, laksanakanlah rencana tersebut dengan sepenuh hati. Untuk menjaga agar rencana itu terlaksana dengan baik, kita perlu menjaga ‘stamina’ ibadah kita, agar tidak hanya semangat di awal namun loyo di pertengah dan akhir Ramadhan. Mungkin Anda perlu membuat semacam reward and punishment untuk membantu mendisiplinkan diri Anda agar konsisten dengan rencana semula. Kalau metode ini cukup berhasil Anda terapkan kepada anak-anak Anda, mengapa tidak dicoba pada diri Anda sendiri?

Dengan membuat perencanaan yang matang dan pola manajemen yang baik dalam mengisi Ramadhan tahun ini, mudah-mudahan kita dapat meraih hasil yang menggembirakan di akhir Ramadhan dan di akhirat kelak. Di akhir Ramadhan kita berbahagia karena telah berhasil mengisi bulan suci ini dengan banyak beribadah, menyuci bersih dosa-dosa kita, kembali kepada fitrah, dan meraih predikat muttaqin. Mudah-mudahan pula di akhirat kita dapat masuk surga melalu pinttu Ar-Royyan. Amiin.

This entry was posted in Spiritual and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s