Krisis Keuangan Global dan Keuangan Syariah

Krisis Keuangan Global dan Keuangan Syariah

Oleh

Nuruddin Mhd Ali, MA., M.Sc

Civitas Akademia STEI Tazkia &

Associate Partner Batasa Tazkia Consulting

Krisis keuangan global bulan September – Oktober 2008 merupakan salah satu krisis keuangan terbesar yang pernah terjadi. Para pengamat mengkategorikannya sebagai krisis terburuk sejak the Great Depression tahun di awal abad ke-20. Krisis ini mulai terjadi pada pertengahan September lalu.

Krisis ini dimulai dengan kebangkrutan beberapa lembaga keuangan besar di Amerika Serikat yang kemudian dengan cepat berubah menjadi krisis keuangan global dan menyebabkan kebangkrutan beberapa bank Eropa dan penurunan tajam nilai-nilai saham dan komoditas di seluruh dunia. Krisis ini menimbulkan persoalan likuiditas dan penurunan nilai-nilai asset yang pada gilirannya memperparah krisis yang terjadi. Para pemimpin politik dunia telah mengkoordinasikan berbagai usaha untuk menanggulangi persoalan in namun krisis masih terus berlangsung. Krisis ini berakar dari terjadinya krisis kredit perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat yang kemudian merembet ke krisis perbankan dan ekonomi global.

Kepanikan di Salah Satu Bursa

Kepanikan di Salah Satu Bursa

Kronologi Krisis Keuangan 2008

Pada hari Senin, 14 September 2008 diumumkan bahwa Lehman Brothers masuk chapter 11 sebagai perusahaan yang yang mengalami bankruptcy (pailit). Hal ini merupakan buntut dari penolakan Federal Reserve Bank untuk berpartisipasi dalam memberikan fasilitas bantuan keuangan kepada Lehman Brothers. Pada hari yang sama diumumkan pula penjualan Merrill Lynch kepada Bank of Amerika. Awal minggu tersebut ditandai oleh kegoncangan yang kuat pada pasar saham global dan terjadinya penurunan yang sangat tajam nilai pasar pada hari Senin, 15 Nopember dan Rabu 17 September 2008. Pada 16 September salah satu perusahaan asuransi Amerika AIG mengalami krisis likuiditas menyusul penurunan credit ratingnya. Krisis ini merembet ke asuransi money market funds di berbagai negara.

Pada Senin 21 September 2008, dua bank investasi raksasa lainnya, Goldman Sachs dan Morgan Stanley dengan restu the Fed berubah menjadi bank holding companies. Beberapa hari kemudian terjadi perdebatan sengit di Kongres AS mengenai proposal bantuan yang akan diberikan pemerintah AS kepada industri keuangannya. Pada Kamis 25 September, Washington Mutual, salah satu perusahaan keuangan terbesar lainnya di AS, dibekukan oleh Federal Deposit Insurance Corporation dan sebagian besar asetnya ditransfer ke JP Morgan Chase. Sementara itu salah bank terbesar lainnya, Wachovia, sedang melakukan negosiasi dengan Citigroup dan beberapa lembaga keuangan lainnya. Beberapa hari kemudian pemerintah AS menyetujui suatu skema sebesar 700 miliar Dollar AS untuk membantu penyelesaian krisis ini.

Krisis merambat dengan cepat ke benua Eropa yang menyebabkan beberapa negara mengambil kebijakan menasionalisasikan lembaga keuangan yang mengalami masalah. Di Inggris, perusahaan kredit kepemilikan rumah (KPR) Bradford & Bingley diambil alih oleh pemerintah. Di Spanyol, pemerintah menasionalisasikan bisnis KPR dan pinjaman dari Grupo Santander, bank terbesar di negeri matador ini. Hal sama dialami Fortis, perusahaan perbankan dan keuangan yang dimiliki oleh tiga negara: Belgia, Belanda, dan Luxemburg. Belgia dan Belanda dengan menginvestasikan 11,2 miliar Euro (16,3 miliar Dollar US). Perusahaan ini dinasionalisasikan secara terpisah oleh ketiga negara. Belgia dan Belanda masing-masing akan membeli 49% dari kepemilikan mereka pada Fortis. Sementara Luxemburg akan memberikan pinjaman yang dapat diubah menjadi 49% dari saham Luxemburg di Fortis. Semua terjadi di minggu terakhir bulan September 2008. Hal serupa terjadi di beberapa negara Eropa lainnya dan masing-masing negara telah mengambil kebijakan tertentu untuk meredam krisis global ini.

Sementara itu, pada tanggal 29 September pasar saham AS mengalami terjun bebas. Index Dow Jones turun 300 poin dalam hitungan menit dan ditutup pada level 777,68. Sementara index Nasdaq turun 199,61 poin di bawah 2000, dan S & P 500 turun 8,77 persen pada hari yang sama. Pada penutupan pasar di hari itu Dow Jones mengalami penurunan terbesar dalam sejarahnya.

Pada Selasa 30 September saham-saham mengalami rebound tetapi pasar kredit tetap ketat dengan kenaikan London Interbank Offering Rate (overnight dollar Libor) dari 4,7% ke 6,88%. Untuk mencegah terjadinya bank run (rush), beberapa pemerintah menaikkan ambang atas simpanan masyarakat di bank yang dijamin oleh pemerintah semisal Otoritas Jasa Keuangan Inggris (FSA) pada tanggal 3 Oktober menaikkan simpanan yang dijamin dari 35.000 poundsterling menjadi 50.000 poundsterling. Uni Eropa juga setuju untuk menaikkan penjaminan simpanan sampai 50.000 Euro. Bahkan beberapa negara menaikkan lebih tinggi lagi hingga mencapai 100.000 Euro. Pemerintah Inggris juga mengalokasikan 25 miliar poundsterling sebagai bagian dari paket penyelamatan perbankan Inggris. 25 miliar pound lainnya dijawalkan untuk lembaga-lembaga keuangan lainnya termasuk subsidiaries bank asing di negera tersebut. Dalam pertemuan di Washington, negara-negara maju yang tergabung dalam G7 sepakat untuk “membantu lembaga-lembaga keuangan besar secara sistematis dan mencegahnya dari kebangkrutan.” Keputusan ini diambil setelah melihat akibat yang ditimbulkan oleh kebangkrutan Lehman Brothers telah menyebabkan kerugian pada lembaga-lembaga keuangan lainnya.

Pada 13 Oktober 2008, pasar saham di seluruh dunia mengalami kenaikan. Saham-saham industri Dow Jones rata-rata menunjukkan kenaikan 400 poin pada sesi pembukaan perdagangan. Pada sesi penutupan rata-rata saham mengalami kenaikan hingga 936 poin atau naik sekitar 11% dan ditutup pada level 9.387. Bursa Perancis dan Jerman juga mengalami kenaikan setelah pemerintah kedua negara mengalokasikan masing-masing 320 miliar dan 400 miliar Euro sebagai bagian rencana penyelamatan dan penjaminan industri keuangan. Namun demikian, banyak pihak beranggapan, badai ini belum akan berlalu, paling tidak hingga 2 tahun ke depan dan membawa dunia ke dalam krisis keuangan global.

Krisis Keuangan

Istilah krisis keuangan digunakan untuk berbagai situasi di mana beberapa lembaga keuangan atau aset tiba-tiba kehilangan nilainya dalam jumlah yang besar. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 krisis keuangan diasosiakan dengan terjadinya kepanikan di sektor perbankan (banking panics), dan berbagai resesi terjadi mengikuti kepanikan ini. Keadaan lain yang sering juga dikatakan sebagai krisis keuangan adalah krisis di bursa saham, pecahnya gelembung-gelembung industri keuangan (financial bubbles), krisis mata uang, dan sovereign default.

Ada beberapa macam krisis keuangan. Bank run atau rush adalah situasi ketika suatu bank komersial mengalami penarikan yang masif oleh para deposannya. Mengingat bank telah meminjamkan sebagian besar dana yang diterima dari deposan, maka bank akan mengalami kesulitan uang tunai (liquidity problems) dalam waktu cepat karena banyaknya permintaan. Hal ini dapat menyebabkan bank mengalami kebangkrutan. Jika kepanikan di satu bank ini menjalar ke bank-bank lain, maka disebut krisis perbankan sistemik (systemic banking crisis) atau banking panic. Kalau tidak terjadi kepanikan yang luas, namun bank-bank enggan memberikan pinjaman karena khawatir mereka tidak memiliki dana yang cukup maka situasi ini disebut credit crunch. Contoh bank run terjadi pada Bank of United Stated pada tahun 1931 dan Northern Rock tahun 2007. Krisis perbankan di Indonesia tahun 1997 dapat pula dikategorikan sebagai krisis perbankan sistemik.

Jenis krisis keuangan yang kedua adalah speculative bubbles and crash. Suatu aset keuangan disebut menjadi gelembung (bubble) ketika harganya melebihi nilai yang akan didapat di masa depan berupa bunga atau dividen apabila dipegang sampai jatuh tempo. Jika sebagian besar pelaku pasar membeli suatu aset dengan tujuan untuk menjualnya kembali pada harga yang lebih tinggi, bukannya mengharapkan income dari asset tersebut, maka ini menandakan adanya bubble. Jika ada bubble, maka ada pula risiko akan terjadinya crash pada harga aset tersebut. Hal ini terjadi kalau pelaku pasar terus melakukan aksi beli karena merasa bahwa yang lain juga akan membeli, dan ketika mereka kebanyakan memutuskan untuk menjual, harga aset tersebut akan jatuh. Contoh krisis keuangan semacam ini antara lain adalah crash yang dialami Wall Street tahun 1929, bubble properti Jepang tahun 1980an, bubble dot-com tahun 2000-2001, dan bubble kredit perumahan AS baru-baru ini.

Ketika suatu negara mempertahankan kurs valuta asingnya dan tiba-tiba dipaksa untuk mendevaluasi matauang tersebut karena serangan para spekulan, maka hal ini disebut krisis mata uang atau balance of payments crisis. Jika suatu negara gagal membayar utang negaranya, maka ini disebut sovereign default. Kedua macam krisis ini dapat menyebabkan para investor asing berhenti atau menarik dananya dari negara tersebut. Contoh dua krisis ini adalah krisis yang melanda Asia pada tahun 1997-1998. Beberapa negara Amerika Latin juga pernah mengalaminya pada awal 1980an. Krisis yang dialami Rusia tahun 1998 menyebabkan devaluasi Rubel dan ketidaksanggupan pemerintah Rusia membayar utang-utangnya.

Jika krisis ekonomi tersebut terjadi beberapa bulan maka biasanya disebut resesi. Jika resesi itu berketerusan sampai waktu yang agak lama maka disebut deppression. Sedangkan stagnasi ekonomi terjadi kalau pertumbuhan ekonomi suatu negara lemah meski tidak sampai negatif. Namun demikian, resesi ekonomi sebagian besar disebabkan oleh krisis keuangan. Contoh utamanya adalah the Great Depression, sebelumnya diawali oleh terjadinya bank run dan kejatuhan bursa saham beberapa negara. Krisis kredit perumahan AS dan pecahnya gelembung industri real estate di banyak negara menurut banyak pihak dapat menyebabkan resesi di AS dan banyak negara lainnya pada tahun 2008 ini.

Mengapa Terjadi Krisis

Menurut teori, ada beberapa sebab terjadinya suatu krisis. Pertama, komplementaritas strategik yaitu kecenderungan untuk meniru atau mengikuti strategi pihak lain. Para pelaku pasar manapun, cenderung memprediksi apa yang akan dilakukan para pelaku pasar lainnya. Jika mereka mengira bahwa para pelaku pasar akan melakukan aksi jual saham tertentu, mereka juga akan menjualnya. Jika mereka mengira bahwa para nasabah tempat mereka mendepositokan uang akan menarik dana mereka, maka mereka pun akan mengikuti langkah tersebut sehingga dapat menyebabkan bank tersebut mengalami bankruptcy. Ketidakpercayaan terhadap kondisi perekonomian Amerika saat ini menyebabkan para investor menjual saham-saham yang mereka miliki dan langkah ini diikuti oleh para investor lainnya. Akibatnya bursa saham AS terjun bebas dan diikuti oleh bursa-bursa utama dunia lainnya.

Kedua, berutang untuk membiaya investasi (leverage). Jika suatu lembaga keuangan (atau individu) menginvestasikan dana mereka, dalam kasus terburuk mereka dapat kehilangan uang tersebut kalau investasi itu gagal. Nah, ketika mereka berutang untuk menambah investasi, maka di satu sisi mereka dapat mendapat keuntungan yang lebih dari investasi tersebut, namun sebaliknya dalam keadaan terburuk mereka juga dapat kehilangan lebih banyak lagi. Dengan demikian, utang dapat menarik keuntungan yang lebih besar namun juga dapat menjerumuskan seseorang atau perusahaan ke dalam bankruptcy. Bankcruptcy itu sendiri bermakna ketidaksanggupan untuk melakukan pembayaran utang sesuai perjanjian dengan pihak lain. Kasus ini dapat menularkan persoalan keuangan dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Sebagai contoh, meminjam untuk melakukan investasi di bursa saham (margin buying) yang jamak dipraktekkan menjelang terjadinya kejatuhan Wall Street tahun 1929.

Sebab ketiga adalah asset-liability mismatch yaitu situasi di mana terjadi ketidakseimbangan antara asset dan utang suatu lembaga. Misalnya, bank komersial menawarkan rekening yang dapat ditarik kapan saja dan menggunakan dananya berupa utang jangka panjang kepada perusahaan atau pemilik KPR. Adanya mismatch antara kewajiban jangka pendek bank (tabungan) dan aset jangka panjang (pinjaman) seringkali menjadi alasan terjadinya rush (yaitu ketika para nasabah panik dan memutuskan untuk menarik dana mereka lebih cepat daripada bank mendapatkan pengembalian pinjamannya). Sebagai contoh, beberapa negara berkembang tidak mampu menjual obligasi negaranya dalam mata uang negara tersebut. Kemudian mereka menjualnya dalam mata uang Dollar AS. Hal ini akan menyebabkan terjadi mismatch antara kewajiban membeli kembali obligasi tersebut dalam mata uang Dollar AS dan aset mereka (berupa pendapatan pajak lokal). Mereka akan mengalami risiko ketidakmampuan membayar (sovereign default) karena terjadinya fluktuasi kurs mata uang.

Sebab lainnya adalah kegagalan regulasi (regulatory failure). Pemerintah berbagai negara berusaha untuk mencegah terjadinya krisis dengan mengatur sektor keuangan. Salah satu tujuan utamanya adalah transparansi yang berarti bahwa situasi keuangan lembaga tersebut dapat diketahui oleh publik. Misalnya dengan mensyaratkan adanya laporan secara reguler berdasarkan prosedur akuntansi yang baku. Tujuan lainnya adalah untuk meyakinkan lembaga tersebut mempunyai cukup aset untuk memenuhi kewajiban-kewajiban mereka melalui reserve requirements, capital requirements, dan batas maksimum pemberian pinjaman. Krisis yang terjadi di AS, menurut Managing Director IMF, Dominique Strauss-Kahn disebabkan oleh “gagalnya peraturan menjaga agar tidak terjadi exessive risk taking dalam sistem keuangan, terutama di AS. Di pihak lain, the New York Times menyalahkan adanya deregulasi swaps kredit bermasalah sebagai biang kerok krisis.

Krisis juga disebabkan oleh fraud yang menyebabkan terjadinya kebangkrutan beberapa lembaga keuangan. Fraud terjadi ketika perusahaan memberikan informasi yang menyesatkan tentang strategi investasi mereka kepada para nasabah atau memanipulasi data pendapatan. Praktek-praktek fraud yang dilakukan dalam pembiayaan KPR di AS juga ditengarai menjadi kontributor krisis 2008 ini.

Efek penularan (contagion effect) juga menjadi sebab terjadinya krisis. Teorinya, ketika krisis keuangan menyebar dari satu institusi ke institusi lainnya, semisal rush menyebar dari satu bank ke bank lain, atau dari satu negara ke negara lain. Begitu pula halnya jika krisis matauang, sovereign default, atau kejatuhan bursa saham menyebar ke negara-negara lain. Ketika kejatuhan suatu lembaga keuangan mengancam banyak lembaga lainnya, maka ini disebut systemic risk. Contoh yang paling dekat adalah ketika terjadi krisis Thailand tahun 1997 menyebar ke negara-negara lain seperti Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan.

Buble Kredit Pemilikan RRumah (KPR)

Mengapa Bank Syariah Bertahan?

Menurut berbagai pemberitaan belakangan ini, banyak pihak berkeyakinan bahwa krisis keuangan global tidak berakibat buruk bagi industri perbankan syariah. Alasan yang mengemuka dari beberapa figur perbankan dan keuangan syariah dunia antara lain adalah karena keuangan syariah dilarang berhubungan dengan perdagangan utang (debt trading) dan perilaku spekulasi yang marak dilakukan oleh lembaga-lembaga keuangan Amerika dan Eropa. Menurut beberapa sumber lainnya, kalau pun ada pengaruhnya, dampaknya akan terbatas dan bersifat tidak langsung mengingat industri keuangan syariah merupakan bagian dari industri keuangan dunia. Namun dampak tersebut diyakini hanya berpengaruh pada laba perusahaan dan tidak menyentuh modal sebagaimana terjadi di beberapa lembaga keuangan internasional.

Sebagaimana diketahui, krisis keuangan 2008 ini menurut banyak kalangan disebabkan oleh terjadinya kredit macet di sektor perumahan AS dan Eropa atau yang disebut Subprime mortgages. Teorinya, suatu bank memberikan KPR kepada nasabahnya untuk jangka waktu tertentu. Kemudian, bersama-sama dengan KPR-KPR lainnya dipool kemudian disekuritisasi. Setelah itu dijual ke pasar dengan nama mortgages based securities (MBS). MBS ini kemudian masih diperdagangkan lagi dengan mempoolnya dengan MBS-MBS lain. Padahal, para pemilik KPR-KPR tersebut sebenarnya banyak yang tidak layak mendapatkan KPR karena ketidakmampuan mereka dalam membayar cicilan. Namun, faktor ini diabaikan karena mengharapkan bunga yang lebih besar dari nasabah yang mempunyai risiko lebih tingg tersebut. Maka kemudian, terjadilah apa yang selama ini ditakutkan oleh praktisi lembaga keuangan yaitu ketidakmampuan membayar atau kredit macet yang meluas hingga berdampak pada runtuhnya beberapa lembaga keuangan di AS dan Eropa. Beberapa lembaga keuangan lainnya terpaksa dijual dan lainnya dinasionalisasikan.

kedua yang menghindarkan bank dan lembaga keuangan syariah dari krisis adalah haramnya perilaku spekulasi dalam transaksi keuangan. Dalam aksi spekulasi ini disebut maysir yang biasa diartikan judi. Aksi margin trading dan short selling masih dilarang oleh para ulama fiqh karena masuk kategori maysir. Demikian juga menjadi alasan belum dibolehkannya transaksi derivatif seperti forward, swaps dan options.

Di samping itu, lembaga keuangan syariah juga dilarang terlibat dalam money laundering dan melakukan langkah-langkah formal dan profesional daam melakukan penilaian terhadap proposoal-prosal proyek agar terhindar dari risiko yang berlebihan. Di samping itu, lembaga-lembaga keuangan syariah bukan pula menjadi investor utama dalam industri keuangan Barat sehingga tidak terkena dampak langsung krisis tersebut.

Syariah Islam membatasi bahwa suatu transaksi dibolehkan apabila barang atau jasa tersebut jelas (real exchange). Di samping itu syariah juga melarang riba dan memperdagangkan sesuatu yang bukan milik Anda kecuali dalam batasan yang sangat ketat seperti menjual komoditas dengan pembayaran penuh di depan. Pada prinsipnya, bank syariah adalah lembaga penitipan (custodian) yang tidak dapat mentransfer tabungan publik ke bank lain tanpa izin dari para nasabah.

Pendekatan Ekonomi Syariah

Kebangkrutan yang dialami oleh Lehman Brothers dan krisis di berbagai perusahaan keuangan besar dunia sesudah krisis sub-prime mortgage di AS membuktikan bahwa kita harus lebih tegas lagi mengenai sistem pemeringkatan kredit (credit rating) untuk menghindari hal serupa terjadi. Dalam teori keuangan syariah, tidak dibolehkan membayar utang dengan utang dan memperjualbelikan utang (bay’ al-dain). Hal ini untuk mencegah terjadinya ketidakmampuan membayar (default) oleh debitur yang bersangkutan yang dapat berujung pada kepailitan (bankcruptcy). Dalam keuangan syariah, bunga bank dilarang dan pemberian pembiayaan kepada perusahaan yang terlilit utang juga tidak dianjurkan. Dengan demikian, secara teoritis kebangkrutan dapat dicegah dan pada gilirannya kredit macet (non performing loan/NPL) atau dalam keuangan syariah disebut non performing financing (NPF) dapat ditekan seminimal mungkin.

Akar permasalahan dari krisis keuangan global sekarang ini adalah kredit macet. Demikian juga krisis perbankan Asia tahun 1997-1998. Kredit macet ini menimbulkan krisis likuiditas yang kemudian menyulut terjadinya rush atau bank run. Padahal saat itu lembaga-lembaga keuangan sedang mengalami kesulitan likuiditas. Untuk mengamankan situasi ini, pemerintah di berbagai negara dan bank sentral mengambil beberapa kebijakan seperti menyediakan bantuan likuiditas, melakukan merger beberapa bank, pengambil alihan (take over/acquisition) dan nasionalisasi perusahaan keuangan swasta. Untuk meredakan gejolak rush, pemerintah menjamin simpanan masyarakat sampai level tertentu. Di samping itu masih ada beberapa kebijakan lainnya yang diambil pemerintah yang biasanya menjadi satu paket kebijakan ekonomi. Di negara-negara Barat, paket kebijakan itu disahkan menjadi undang-undang setelah mendapat persetujuan DPR.

Dalam tradisi ekonomi syariah, ada beberapa beberapa jenis transaksi yang tidak dibolehkan antara lain yaitu riba, gharar, maysir, tadlis. Larangan terhadap riba sudah jelas dengan diharamkannya berbagai bentuk bunga pinjaman. Larangan ini bukan hanya didasarkan pada larangan mengeksploitasi pihak yang membutuhkan kredit, tetapi lebih kepada terciptanya iklim ekonomi yang lebih adil dengan bergeraknya sektor riil, bukan hanya sektor keuangan. Kalau sebagian besar orang merasa lebih nyaman mendapatkan uang dengan bunga, maka sektor riil tentu tidak bergerak. Akibatnya perdagangan barang dan jasa jadi terhambat dan ekonomi masyarakat memburuk dan mengundang terjadinya krisis.

Gharar merepresentasikan adanya ketidakjelasan informasi mengenai sesuatu yang ditransaksikan. Perdagangan saham yang didasarkan pada rumor merupakan salah satu jenis transaksi ini. Akibatnya, pasar saham menjadi tidak stabil dan pada gilirannya dapat menyeret pada krisis di pasar ekuitas.

Maysir merujuk kepada perilaku spekulatif. Agak berbeda dengan gharar, terkadang aksi spekulasi ini didasarkan pada pengetahuan dan perhitungan tertentu seperti berbekal data historis dan alat-alat ukur lainnya. Contoh-contohnya dalam praktek keuangan adalah short selling, margin trading, dan derivatif. Contoh lainnya adalah spekulasi dalam jual beli valuta asing karena mengharapkan keuntungan yang besar dari selisih harga beli dan harga jual. Belajar dari beberapa krisis yang melanda dunia, sudah saatnya dipikirkan kembali untuk memperketat praktek perdagangan di pasar keuangan. Kalau perlu jenis-jenis transaksi spekulatif tersebut dibuatkan aturan yang lebih ketat atau dilarang sama sekali.

Rasionalitas haramnya tadlis (asymetric information) didasarkan pada premis bahwa dalam suatu transaksi masing-masing pihak harus memiliki informasi yang sama mengenai transaksi yang dilakukan. Tadlis terjadi ketika salah satu pihak memiliki informasi yang lebih dari pihak lain dan ia tidak mengemukakannya. Misalnya, seorang pedagang beras tidak mengungkapkan bahwa beras yang dijualnya sudah dicampur dengan beras kualitas lebih rendah. Dalam industri keuangan, tadlis terjadi ketika salah satu pihak tidak mengemukakan kelemahan atau risiko yang terdapat pada objek transaksi. Misalnya, menjual mortgage based securities yang sedang bermasalah karena para pemilik KPRnya tidak sanggup membayar cicilan. Krisis yang terjadi di AS antara lain dilatarbelakangi oleh terjadinya kredit macet KPR atau yang dikenal dengan subprime mortgages. Untuk itu perlu dipertegas peraturan mengenai transparansi informasi untuk melindungi kepentingan investor agar tidak salah pilih (adverse selection) instrumen investasi. Di samping itu, pemeringkatan kredit (credit rating) juga perlu diperketat pula.

Promosi Equity Financing

Dalam pembiayaan syariah dikenal dua jenis pembiayaan yaitu equity financing dan debt financing. Equity financing atau pembiayaan ekuitas diwakili oleh pembiayaan mudharabah dan musyarakah. Sedangkan debt financing diwakili oleh misalnya murabahah dan ijarah. Semangat yang diusung oleh ekonomi syariah adalah terdistribusikannya modal kepada pihak-pihak yang membutuhkan melalui skema bagi hasil (profit-loss sharing). Dua hal yang dituju yaitu terdistribusikannya modal secara adil dan bergeraknya sektor riil sebagai penggerak ekonomi masyarakat banyak. Dengan demikian, uang atau modal betul-betul menyentuh kepentingan ekonomi rakyat banyak.

Sebaliknya yang terjadi sekarang ini adalah sebagian besar uang berputar pada pasar keuangan (financial markets) dan industri besar yang sangat rawan terhadap krisis. Krisis global yang terjadi saat dan ini dan kebangkrutan perusahaan-perusahaan raksasa seperti Enron pada awal milenium ini menandakan bahwa pasar keuangan dan industri besar sangat rentan (vulnarable) terhadap krisis.

Dalam ekonomi syariah yang agak rawan terseret arus permainan keuangan global ini adalah pembiayaan murabahah dan ijarah yang menurut sebagian kalangan sangat dekat dengan praktek keuangan konvensional. Untuk mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan, sistem pemeringkatan kredit yang dibuat oleh berbagai lembaga pemeringkat harus lebih ketat lagi. Di samping itu, lembaga perbankan syariah harus terus didorong untuk memperbesar porsi pembiayaan yang berdasarkan PLS. Bahkan mungkin perlu diwacanakan peraturan yang tidak membolehkan penambahan kantor cabang bank kecuali kantor cabang syariah yang menerapkan PLS dalam pembiayaannya.

Kebijakan Ekonomi yang Pro-UMKM

Sudah sering didengungkan bahwa berbagai krisis keuangan yang terjadi di dunia disebabkan oleh ulah segelintir anak manusia. Namun akibat dari perbuatan mereka ditanggung oleh sebagaian besar umat manusia yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan akar krisis tersebut.

Krisis perbankan dan keuangan yang terjadi di Indonesia tahun 1997-1998 adalah akibat ulah para pemilik bank yang tergiur dengan keuntungan besar. Namun mereka ternyata salah perhitungan dan terjadilah krisis perbankan yang menyebabkan banyak bank ditutup, dipaksa merger, atau diambil alih oleh pemerintah. Di samping itu, otoritas moneter terpaksa harus menyediakan bantuan likuiditas yang harganya begitu mahal. Akibat yang dirasakan oleh masyarakat luas adalah dicabutnya subsidi dan kenaikan harga barang yang cukup tinggi. Padahal, sebagian besar rakyat Indonesia tidak ada hubungan langsung dengan sebab krisis tersebut tetapi merekalah pihak yang paling menderita.

Krisis keuangan keuangan tidak hanya berdampak pada lembaga-lembaga keuangan tetapi juga pada perusahaan-perusahaan besar yang selama ini dimanjakan oleh kucuran kredit dari lembaga perbankan dan pasar modal. Namun mereka lebih beruntung ketika terjadi krisis. Sebagian mendapat bantuan kredit baru untuk mencegah pailit berdasarkan prinsip too big too fail atau menjual asetnya dengan harga mahal kepada pemerintah. Semua jenis bantuan tersebut tentu ada biayanya yang juga harus dibayar oleh pemerintah. Konsekuensinya, mulailah kenyamanan yang selama ini dinikmati dicabut seperti harga BBM naik, pendidikan dan kesehatan mahal, dan pembangunan infrastruktur terbengkalai.

Semakin tinggi sesuatu, maka semakin kuat angin yang didapatnya. Begitu pula yang terjadi di dunia usaha. Ketika usaha-usaha besar tumbang akibat krisis, usaha-usaha mikro, kecil, dan menengah yang sempat ikut terguncang mampu bangkit kembali dari keterpurukan. Mereka adalah pengusaha-pengusaha yang selama ini dinilai tidak bankable atau tidak dilirik oleh dunia perbankan. Kalau pun ada, porsinya sangat kecil sekali. Padahal, sektor inilah yang paling besar menyerap tenaga kerja. Sektor ini pula yang paling besar menghidupi rakyat.

Berbagai badai ekonomi yang menerjang dunia dan Indonesia dalam satu dekade belakangan ini hendaknya menyadarkan para pemegang kebijakan keuangan untuk memikirkan kembali kebijakan apa yang paling maslahah bagi orang banyak. Untuk apa pengakumulasian modal yang besar kalau ternyata tidak dapat menggerakkan ekonomi masyarakat dan menyerap tenaga kerja. Bukankah lebih baik kalau uang yang sekarang menumpuk di berbagai lembaga keuangan itu juga disalurkan ke UMKM.

Untuk ke depannya, pemerintah perlu membuat kebijakan dan peraturan yang lebih berpihak kepada ekonomi kecil di sanalah pemenuhan kebutuhan hidup orang banyak tersandarkan. Sebagai contoh, setiap bank harus mengalokasikan 20 persen porto folio kreditnya untuk sektor UMKM. Meskipun angkanya ‘cuma’ 20 persen tetapi jumlah rakyat yang menikmatinya dan roda ekonomi yang digerakkannya sangat besar

Reka Ulang Sistem Perbankan Dunia

Tidak diragukan lagi bahwa riba (bunga bank) dan maysir (judi dan spekulasi yang mirip perjudian) adalah faktor utama terjadinya krisis keuangan dunia saat ini. Kalau saja larangan riba dan maysir dipatuhi, diakuinya kepentingan orang lain terhadap sumber-sumber ekonomi, ditambah diterapkannya nilai-nilai dan moral islami, tentu dunia tidak akan mengalami krisis seperti ini.

Namun demikian, apakah industri keuangan syariah yang ada sekarang merupakan suatu solusi? Jawabannya mungkin beragam. Namun ada baiknya kita melihat kembali jejak-jejak kejayaan ekonomi Muslim di abad keemasan sebelum negara-negara Muslim mengalami penjajahan. Zaman ini dikenal dalam sejarah dunia sebagai zaman kegelapan (the dark ages). Joseph Schumpeter, seorang penulis sejarah ekonomi dunia, bahkan mengabaikan ekonomi Muslim pada zaman itu. Padahal, selama masa itu yang berlangsung lebih kurang 1000 tahun tidak dikenal adanya krisis ekonomi. Mungkin ada baiknya kita menemukan lembaga dan sistem keuangan yang diterapkan pada masa itu sebagai bagian dari solusi terhadap krisis global sekarang ini.

Pada masa tersebut, pembiayaan yang berlaku adalah pembiayaan yang berdasarkan pasar (market-based financing) bukan berdasarkan bank (banking system). Transaksi keuangan yang terjadi adalah berdasarkan prinsip bagi hasil (profit loss sharing atau PLS) dan jual beli. PLS itu dapat dikategorikan menjadi mudharabah dan musyarakah. Sementara prinsip jual beli dapat dilakukan dalam bentuk akad jual beli biasa (bay’), bay’ muajjal (jual beli dengan pembayaran ditangguhkan), dan salam (pembayaran di muka, delivery belakangan). Di luar hal ini, pembiayaan diberikan dalam bentuk utang tanpa bunga (qardh hasan), atau bentuk kedermawanan lainnya seperti zakat, hibah dan wakaf. Dengan menggunakan pembiayaan berbasis pasar, maka keberadaan lembaga intermedier (baca: bank) menjadi kurang relevan. Terlebih, para pemberi pembiayaan mempunyai pengetahuan yang lebih tentang kliennya sesuai prinsip “know thy client”. Dengan demikian, moral hazard dan adverse selection yang selama ini menjadi masalah dalam industri keuangan dunia dapat diminimalisir.

Kembali ke Dinar-Dirham

Melihat dan merasakan krisis keuangan global sekarang ini membuat orang bertanya-tanya, adakah solusi yang mujarab agar krisis tidak terus mengancam. Salah satu tawaran dari ekonomi syariah adalah kembali ke sistem mata uang dinar dan dirham.

Mengapa dinar-dirham? Pertama, dinar adalah mata uang yang stabil. Sejarah membuktikan, sejak zaman Rasulullah dinar terbukti menjadi mata uang yang paling stabil dibanding dengan mata uang manapun. Dinar tidak mengalami inflasi yang begitu besar. Contohnya, dam (denda) haji sebesar 1 ekor kambing tetap 1 dinar sejak zaman Rasulullah Saw hingga sekarang. Penelitian yang dilakukan Prof. Roy Festrem dari Barkeley University menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa dalam kurun waktu 400 tahun hingga tahun 1976 harga emas konstan dan stabil. Justru nilai emas dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan. Tahun 1800 harga emas persatu troy ons setara dengan 19,39 Dolar AS, tapi pada tahun 2004 dengan kadar yang sama harga emas sebesar 455,75 Dolar AS. Artinya selama 24 tahun emas malah mengalami apresiasi sebesar 2250 persen. Bandingkan dengan dolar yang dari tahun ke tahun mengalami ketidakstabilan nilai. Bagaimana dengan rupiah? Nasibnya jauh lebih parah. Dari tahun ke tahun rupiah terus mengalami depresiasi terutama oleh dolar. Inflasi cenderung semakin naik. Devaluasi rupiah yang pernah dilakukan pemerintah menyebabkan harga-harga naik 2,5 hingga 30 persen.

Kedua, dinar tidak bisa dibuat untuk spekulasi. Ia tidak bisa dimainkan sebagai komoditas yang bisa diperdagangkan. Celah memperdagangkannya memang masih ada. Tapi ketiadaan margin dari transaksinya membuat keengganan para spekulan di manapun. Hal ini karena sebagai mata uang dinar memiliki nilai intrinsik sesuai dengan beratnya masing-masing (4.25 gram emas 22 karat dan tiga gram perak murni).

Ketiga, pendayagunaan dinar-dirham secara fantastik praktis akan mengurangi ketergantungan tunggal terhadap dolar AS. Makna reflektifnya, akan semakin kecil kemungkinan negara pengguna dinar setiap saat digoyang oleh hegemoni dolar dan para fund manager-yang sejauh ini terus melakukan spekulasi secara destruktif untuk kepentingannya sendiri. Kian mengecilnya ketergantungan terhadapa dolar AS-dengan demikian-akan berkorelasi konstruktif terhadap upaya stabilisasi ekonomi makro dan mikro.

Keempat, dinar tidak perlu menggunakan alat hedging seperti halnya fiat money yang mesti melakukannya untuk melindungi diri dari perubahan kurs. Ini karena dinar memiliki nilai intrinsik yang otomatis menjadi pelindung bagi dirinya sendiri. Meera (2004) menandaskan emas memiliki nilai intrinsik yang menjadi garansi dan perlindungan dari kemungikinan gencetan situasi eksternal yang tak diinginkan. Emas menjadi bernilai bukan karena dekrit atau diundangkan suatu negara sebagaimana fiat money tapi karena kandungan logam mulianya yang diakui semua orang.

Penutup

Wal-akhir, Inilah saat yang tepat untuk memikirkan kembali apakah kita dan dunia akan tetap mengikuti ekonomi ribawi dan kapitalis ataukah jalan syar’i yang etis dan membawa kemaslahatan.

This entry was posted in Islamic Economics and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s