QURBAN

by Nuruddin Mhd. Ali


Verily, we have granted you (O Muhammad) a river in paradise. Therefore turn in prayer to your Lord and sacrifice (to Him only). For he who hates you (O Muhammad) he will be cut off (from posterity and every good thing in this world and in the Hereafter)

QS. Al-Kautsar [108]: 1-3


Sebentar lagi hari besar itu datang lagi. Di kalender kulihat hari raya Idul Adha jatuh pada tanggal 8 Desember 2008. Di Saudi hari Arafah jatuh pada hari Ahad, 7 Desember 2008. Berarti Hari Raya Idul Adha di sini sama dengan di Saudi.

Kesibukan menyambut hari yang juga dikenal dengan Hari Raya Kurban ini sudah terasa. tadi malam aku ditelepon oleh Panitia Kurban di kampung menanyakan apakah aku jadi “ikut kurban.” Aku sudah jauh hari merencanakan hal ini dan sudah diutarakan juga ke Panitia Kurban di kampung. “Insyaallah,” jawabku. “Uangnya besok aku transfer.”


Apa yang dimaksud dengan Kurban?

Secara bahasa, kurban berasal dari bahasa Arab ‘qurban’ yang padanan katanya berasal dari kata ‘qaraba’ yang artinya dekat atau mendekatkan. Kata qurban ini satu akar kata dengan ‘qarib’ dan “kerabat.” Sahabat karib, berarti sahabat dekat. Karib kerabat atau kaum berarti keluarga dekat.

Dengan pengertian ini, kurban pada intinya adalah suatu upaya untuk lebih dekat dengan sesuatu. Kalau berkurban untuk Allah, artinya berusaha mendekatkan diri dengan Allah. Entah dari mana asalnya, menyembelih hewan pada hari Idul Adha disebut berkurban. Mungkin ini dianggap sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Untuk dekat kepada sesuatu seringkali diperlukan pengorbanan. Untuk lebih dekat dengan sang kekasih, terkadang diperlukan ongkos-ongkos tertentu yang harus dibayarkan (baca: dikurbankan) seperti waktu, perasaan, bahkan materi. Untuk dekat kepada atasan atau orang berpengaruh (pejabat) kadang diperlukan juga semacam kurban berupa parsel misalnya. Konsep “seserahan” dalam prosesi peminangan calon pengantin mungkin bisa diasosiasikan sebagai kurban juga, karena pada intinya adalah upaya untuk bisa lebih dekat.


Tradisi Kurban

Ritual kurban ini sudah dikenal bahkan sejak zaman Nabi Adam a.s. Diceritakan, dua orang putra Nabi Adam yaitu Qabil dan Habil memperebutkan Iqlima untuk dipersunting. Sebagai cara damai untuk mendapatkan Iqlima, keduanya harus memberikan “seserahan” atau kurban yang diletakkan di suatu tempat. Qabil yang petani menyerahkan hasil pertaniannya berupa buah-buahan. Tetapi, buah-buahan yang diberikannya bukan yang kualitas terbaik. Sementara Habil sang penggembala memilih salah satu yang terbaik dari hewan gembalaannya. Baginya, dalam berkorban harus lah memberikan yang terbaik. Kalau ingin mendapatkan yang terbaik, maka berikanlah yang terbaik pula. Habil tidak mengenal prinsip ‘dengan modal yang sekecil-kecilnya mendapatkan untung yang sebesar-besarnya.’ Tetapi, to get more you need to sacrifice more.’ Terbukti memang, kurban Habil lah yang diterima dan dia berhak mempersunting Iqlima. Tetapi ini tidak disenangi oleh Qabil dan kemudian membunuh Habil. Dan dimulai lah tragedi pembunuhan manusia oleh manusia di muka bumi.

Dalam tradisi agama-agama primitif, dikenal rupa-rupa kurban. Mulai dari yang paling ekstrim berupa pengorbanan manusia sampai sekedar memberikan sesajen. Pengorbanan manusia ini biasanya dilakukan di atas batu altar yang berakhir dengan kematian si kurban. Atau seperti yang kita dengar dalam cerita-cerita rakyat tentang pengorbanan manusia ke kawah suatu gunung. Kurban juga bisa dalam bentuk sesajen yang dilarung ke laut atau dibuang ke kawah gunung. Bisa juga sesajen yang diletakkan di suatu pohon yang dianggap keramat atau sekedar diletakkan di depan rumah.

Semua jenis pengorbanan di atas bertujuan untuk mendekatkan diri kepada sesuatu, apakah itu dewa-dewa, penunggu pohon, atau arwah leluhur. Biasanya, sesuatu yang dikorbankan itu dibiarkan begitu saja tanpa diganggu kecuali kurban manusia yang harus meregang nyawanya. Semua kurban itu dianggap sebagai hadiah kepada sesuatu yang ingin didekati itu. Kalau kurban itu dibuang ke kawah gunung, maka dianggap sebagai pemberian kepada penunggu gunung. Kalau dilarung ke laut, maka itu adalah suatu bentuk kebaktian kepada sesuatu yang dianggap sebagai penguasa laut.

Intinya, sesuatu yang dikurbankan itu tidak ada faedahnya bagi manusia. Menurut keyakinan penganut ajaran-ajaran ini, sebagai imbalan dari pengorbanan ini, dewa-dewa, penunggu, atau arwah leluhur akan memberikan perlindungan, melimpahkan rezeki pertanian dan kelautan, dan sebagainya.

Belakangan, karena pengaruh ajaran Islam dan mungkin dunia modern, kurban tadi boleh dinikmati oleh manusia. Sesajen yang tadinya harus dilarung, dibuang, atau diletakkan di suatu tempat, boleh dibagi-bagikan kepada orang banyak. Dalam banyak tradisi upacara seperti ini kita saksikan orang-orang berebut sesajen untuk mengharapkan berkah.


Pengurbanan Manusia

Sebagaimana disebutkan di atas, dalam tradisi primitif pengorbanan manusia dilakukan untuk mendapat simpati dari sesuatu yang diyakini mempunyai kekuatan seperti dewa, gunung, dan sebagainya. Ini adalah pengorbanan manusia dalam arti sempit. Artinya, nyawa seorang manusia dikorbankan untuk menyenangkan sesuatu yang ditakuti itu.

Dalam perkembangannya, pengorbanan manusia mengalami perubahan. Pengorbanan manusia tidak lagi dilakukan di atas batu altar atau kawah gunung. Yang terjadi adalah mengorban jiwa orang lain demi kepentingan manusia lain misalnya lewat jalur perbudakan, pembunuhan, peperangan, dan sebagainya. Dalam dalam bahasa Indonesia pun istilah kurban mengalami perluasan dan sedikit perubahan menjadi korban. Korban ini ada di mana-mana. Apakah itu korban kecelakaan, pembunuhan, perampokan, pencopetan, kekerasan dan pelecehan.

Semua jenis kurban atau korban yang disebutkan belakangan ini adalah obyek penderita akibat tindakan kejahatan orang lain untuk kepentingannya atau seseorang lainnya. Dalam kaitan ini, semangat kurban itu sendiri mengalami perubahan orientasi. Dari kurban untuk kepentingan orang banyak menjadi untuk kepentingan individu atau kelompok. Kurban yang tadinya diharapkan untuk mendapat blessing dari sesuatu yang ghaib menjadi harapan untuk mendapatkan sesuatu yang sifatnya materi dan instan.Kurban yang tadinya dianggap tidak bertentangan nilai-nilai kemanusiaan menjadi musuh nomor satu para aktivis HAM.

Peradaban modern seharusnya adalah peradaban yang dapat meminimalisir jenis-jenis pengorbanan yang merugikan tersebut. Ironisnya, justru di zaman modern ini pengorbanan-pengorban itu lebih menjadi-jadi. Bahkan pengorbanan manusia lain itu terjadi berlapis-lapis atau yang disebut Peter L. Berger sebagai the Pyramide of Sacrifice (Piramida Korban).

Pengorbanan orang lain itu tidak melulu menyangkut nyawa tetapi bisa berupa fisik, tenaga, pikiran, waktu, materi, dan sebagainya demi kepentingan pihak lain di luar diri si korban. Si korban pun pada gilirannya dapat pula mengorbankan orang lain pula dan begitu seterusnya hingga membentuk piramida korban. Hanya yang teratas lah yang selamat dari keharusan berkorban itu.

Ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti dalam situasi krisis ekonomi, perusahaan terancam bangkrut, dan sebagainya, ada pihak-pihak yang harus dikorbankan terlebih dahulu untuk menyelamatkan pihak lain. Dalam krisis ekonomi, yang paling merasakan akibatnya adalah rakyat kecil. Dalam keadaan perusahaan harus melakukan efisiensi maka yang dirasionalisasi terlebih dahulu adalah karyawan level bawah. Kalau mengaca pada film Titanic, pihak yang paling menderita adalah yang berada pada kelas bawah. Mereka lah yang harus dikorbankan agar para penumpang kelas 1 dapat selamat dari musibah.


Belajar Dari Ibrahim a.s.

Dalam Islam, tradisi kurban diambil dari Ibrahim a.s. Diceritakan, Ibrahim a.s. bermimpi disuruh untuk menyembelih anaknya. Ibrahim a.s. baru mendapat keturunan setelah sekian lama menikah dan tak lama kemudian dia disuruh untuk membunuh anak yang dirindui dan dicintainya itu. Mirip cerita Roro Anteng dan Joko Seger di Gunung Bromo yang diharuskan untuk mengorbankan anak yang paling mereka cintai.

Perintah Tuhan telah putus dan tidak dapat ditolak. Ibrahim a.s. berunding dengan Hajar istrinya dan dia pun mendukung suaminya untuk melaksanakan perintah itu. Ismail yang kemudian diminta pendapatnya justru menguatkan hati ayahnya untuk menyembelihnya. Mau tidak mau, perintah itu harus dilaksanakan sebagai bukti kepatuhan kepada Allah. Syetan yang terkutuk berusaha untuk menggoda ketiga orang tersebut, tetapi tidak berhasil karena tekad mereka sudah bulat untuk melaksanakan perintah itu.

Tetapi apa yang terjadi? Ketika pisau telah diletakkan di leher Ismal, tiba-tiba yang disembelih oleh Ibrahim adalah seekor qibas. Sementara Ismail berdiri tidak jauh dari situ tidak tahu apa yang terjadi. Ibrahim telah lulus ujian yang paling berat dalam sejarah manusia: menyembelih buah hati sendiri.

Apa pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini? Banyak sekali. Salah satunya adalah bahwa peristiwa itu merupakan perintah atau dekrit Tuhan kepada manusia di sepanjang zaman yang menyatakan bahwa tidak boleh lagi ada kurban-kurban manusia lainnya yang jatuh. Pengorbanan manusia atas nama Tuhan saja tidak dibolehkan apalagi pengorbanan manusia demi kepentingan individu atau golongan. Setiap orang harus mendapatkan hak-haknya tanpa boleh dicederai oleh manusia lain. Semua manusia adalah satu karena pengorbanan itu hanya boleh dilakukan karena Allah. Kebaktiannya sampai kepada Allah, sementara daging korban itu dibagikan kepada umat manusia.

Selamat Hari Raya Idul Adha, jangan ada lagi korban-korban manusia!

Jakarta, 03 Desember 2008

This entry was posted in General and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s