The Economics of Qurban

The Economics of Qurban

By Nuruddin Mhd. Ali

Dalam satu bulan belakangan ini terlihat pemandangan yang lain dari biasanya sepanjang perjalanan dari rumah menuju tempat aktivitas. Di beberapa titik tampak sentra-sentra penjualan hewan kurban berupa sapi dan kambing. Kadang hewan-hewan itu ditempatkan di sedikit celah di pinggir jalan. Atau, memanfaatkan ruang kosong antara pinggir jalan raya dan rel kereta api. Bisa juga mengambil tempat di tanah warga yang tidak terpakai.

Tidak berbeda dengan tahun-tahun lalu, penempatan hewan-hewan itu sekarang tampak serabutan dan liar. Para pengelola membuatkan semacam kandang temporer dengan memberikan atap terpal seadanya dan tanpa dinding. Hewan-hewan itu dikelompokkan menurut pembagiannya masing-masing, mungkin dari segi umur, kualitas daging dan sebagainya. Hal ini tentu untuk memudahkan calon pembeli dalam berbelanja hewan kurban.

Nilai Kapitalisasi Hewan Kurban

Bau yang ditimbulkan dari kotoran sapi atau kambing tersebut barangkali terasa harum bagi para pebisnis hewan kurban. Betapa tidak, pasarnya jelas ada dan selalu repeat order tiap tahun. Jumlah permintaan terhadap hewan kurban cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Saya ingat ketika masih kecil dulu jumlah hewan kurban (sapi) yang disembelih di masjid kampung saya paling banyak berjumlah 15 ekor. Baru-baru ini ketika saya pulang kampung, selesai shalat Jumat, pengurus masjid membuka pendaftaran bagi mereka yang ingin berkurban telah memasuki angka 28 ekor sapi. Memang, kebiasaan di kampung saya berkurban dengan menyembelih sapi, bukan kambing sebagaimana jamak kita lihat di pulau Jawa ini.

Bisa kita bayangkan berapa besar kapitalisasi bisnis hewan kurban ini. Saya belum mendapatkan data yang pasti berapa nilai ekonomi bisnis ini. Untuk menghitungnya barangkali dapat kita mulai dengan data jumlah masjid di Indonesia karena biasanya di setiap masjid diadakan penyembelihan hewan kurban dan pendistribusian dagingnya.

Menurut Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat hingga tahun 1998 telah tercatat Masjid dan Mushalla di Indonesia tidak kurang dari 600.000 buah (Drs. A. Yani, Panduan Memakmurkan Masjid). Berdasarkan data Departemen Agama tahun 2004 Jumlah Masjid di Indonesia 643.834 buah, jumlah ini meningkat dari data tahun 1977 sebesar 392.044 buah, (myquran.org, 24-12-2005). Diperkirakan, jumlah Masjid dan Mushala di Indonesia saat ini antara 800.000-900.000 buah dan terus tumbuh.

Kalau kita melihat data administratif pemerintahan, di Indonesia terdapat 62.806 desa dan 7.113 kelurahan atau sekitar 70.000 desa/kelurahan. Di satu desa atau kelurahan kadang terdapat lebih dari satu masjid atau mushala. Tidak jarang dalam satu desa/kelurahan terdapat lima masjid atau lebih ditambah sekian mushala tergantung luas wilayah, kepadatan penduduk, dan jumlah penduduk muslimnya. Kalau kita asumsikan dalam satu desa terdapat 10 masjid, mushala, langgar atau surau, maka berarti di Indonesia terdapat sekitar 700.000 tempat ibadah umat Islam. Jumlah ini kemudian ditambah dengan masjid atau mushala yang terdapat di kantor-kantor pemerintahan atau swasta, pusat-pusat perbelanjaan, kampus, sekolah dan pesantren. Dus, data 800.000 masjid dan mushala tersebut dapat kita jadikan sebagai data awal.

Kemudian, kita perlu mengetahui berapa harga hewan-hewan kurban tersebut. Kalau kita perhatikan, harga hewan kurban bervariasi menurut jenis, berat, dan kualitas hewan tersebut. Sebagai pijakan kita dalam mengkalkulasi nilai pasar bisnis kurban ini kita gunakan data yang diambil dari salah satu situs penjual hewan kurban. http://www.amanahaqiqah.com/produk/

Kambing Qurban

Kelas

Harga

Perkiraan
Berat Hidup

A

Rp 650.000

+/- 21 kg

B

Rp 750.000

+/- 23 kg

C

Rp 850.000

+/- 26 kg

D

Rp 1.000.000

+/- 28 kg

E

Rp 1.200.000

+/- 30 kg

Super

Rp 1.500.000

+/- 35 kg

Rata2

Rp. 991.667

Sapi Qurban

Kelas

Harga

Perkiraan
Berat Hidup

A

Rp 8.000.000

+/- 250 kg

B

Rp 9.000.000

+/- 270 kg

C

Rp 10.000.000

+/- 300 kg

Super

Rp 12.000.000

+/- 380 kg

Rata2

Rp.9.750.000

Kalau dirata-rata, harga satu ekor kambing adalah Rp. 991.667,- atau Rp. 1.000.000,- sedangkan harga rata-rata satu ekor sapi adalah 9.750.000,- atau Rp. 10.000.000,-

Nah, kalau di Indonesia terdapat 800.000 masjid dan mushala dan di tiap masjid/mushala tersebut disembelih satu ekor kambing dengan harga rata-rata Rp. 1.000.000,- maka nilai pasar kambing kurban seluruh Indonesia adalah 800.000.000.000,- (800 miliar rupiah).

Sekarang mari kita coba simulasikan dengan memakai data jumlah penduduk. Menurut salah satu sumber, jumlah penduduk Indonesia per Desember 2004 adalah 220.953.634 jiwa atau 221 juta jiwa. Dengan asumsi pertambahan jumlah penduduk 2 persen per tahun, maka penduduk jumlah penduduk Indonesia sekarang kira-kira 230 juta jiwa.

Menurut syar’i, satu orang dapat berkurban 1 ekor kambing atau 7 orang iuran untuk satu ekor sapi atau unta. Taruhlah, dalam seribu penduduk hanya satu yang berkurban (1:1.000) maka berarti ada 230 ribu orang yang berkurban. Kalau semuanya berkurban dengan kambing, maka dengan harga satu ekor kambing Rp. 1.000.000,- maka kapitalisasi bisnis kambing kurban adalah Rp. 230.000.000.000,- (230 miliar rupiah).

Data ini akan menjadi dua kali lipat kalau semua jamaah haji Indonesia yang berjumlah sekitar 230 ribu orang membayar dam (denda) haji yang berupa satu ekor kambing itu di tanah air. Berarti potensi kapitalisasi bisnis kambing mencapai 460-500 miliar rupiah di seluruh Indonesia dalam satu bulan Zulhijjah. Belum lagi kalau ditambah jumlah kurban jamaah haji Indonesia yang mereka laksanakan di tanah suci.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa nilai kapitalitasi bisnis hewan kurban di Indonesia antara 500-800 miliar rupiah. Suatu angka yang tidak sedikit yang ditimbulkan oleh “hanya” lewat satu perintah Allah SWT dan dilaksanakan “hanya” dalam 4 hari (10, 11, 12, 13 Zulhijjah) setiap tahunnya.

This entry was posted in General, Islamic Economics and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s