Bekerja Keras Membangun Negeri dengan Iman dan Profesionalisme*

 

Pendahuluan

Ketika rezim Orde Baru dilengserkan, Indonesia memasuki fase kesejarahan baru yang dikenal dengan era reformasi. Sejatinya, era reformasi adalah antitesa dari zaman Orde Baru. Reformasi ingin memperbaiki semua yang kurang baik di masa rezim Suharto. Banyak harapan digantungkan agar nasib bangsa menjadi lebih baik dan berbagai persoalan yang diwariskan dari masa sebelumnya dapat diselesaikan.

Semangat reformasi menjalar ke berbagai dimensi kehidupan.  Semangat reformasi membuat berbagai hal yang sebelumnya dianggap mustahil pada zaman Orde Baru menemukan penyaluran. Di awal reformasi juga terbuka sejumlah idealisme yang sebelumnya mustahil seperti (1) superioritas etika dan moral atas kekuasaan, (2) kemenangan perubahan atas kemapanan, (3) harapan terhadap masa depan atas kelamnya masa lalu, (4) kejayaan hati nurani atas penyelewengan kekuasaan di masa sebelumnya.  

Pertanyaannya, apakah harapan-harapan itu sudah dapat diwujudkan? Jawabannya mungkin beragam tergantung dari sudut mana memandangnya. Namun yang jelas, dari kacamata rakyat awam, kesulitan hidup yang dirasakan di hari-hari terakhir Orde Baru masih terasa bahkan bertambah berat. Rakyat mulai membanding-bandingkan keadaan di masa sekarang dengan masa Pak Harto. Mereka merasa hidup lebih mudah sebelum reformasi tanpa menganalisa lebih dalam bahwa kesulitan yang dirasakan sekarang adalah warisan rezim sebelumnya.

Lembaran-lembaran berikut akan mencoba mengemukakan beberapa gagasan yang mungkin sudah kita ketahui bersama untuk membangun Indonesia agar menjadi bangsa yang lebih jaya, disegani, dan bermartabat yaitu dengan memperkuat modal manusia dengan iman, kerja keras, dan profesionalisme.  

 

 Krisis Keteladanan

Salah satu krisis terbesar yang dihadapi bangsa ini sekarang adalah krisis keteladanan. Krisis ini jauh lebih dahsyat dari krisis energi, kesehatan, pangan, transportasi dan air. Karena dengan absennya pemimpin yang visioner, kompeten, dan memiliki integritas yang tinggi maka masalah air, konservasi hutan, perbaikan pelayanan kesehatan, pendidikan, sistem peradilan, dan transportasi akan semakin parah. Akibatnya, semakin hari biaya kesehatan semakin sulit terjangkau, manajemen transportasi semakin amburadul, pendidikan semakin kehilangan nurani welas asih yang berorientasi kepada akhlak mulia, sungai dan air tanah semakin tercemar dan managemen limbah yang kurang baik.

Dalam masalah moral Indonesia menempati posisi yang sangat memprihatinkan. Tidak ada satu negara pun di dunia di mana media cetak dan elektronik mengumbar pornografi dan demikian mudahnya diakses oleh masyarakat. Negara yang paling liberal sekalipun seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan Australia mensyaratkan usia minimum 18 tahun atau 21 tahun untuk dapat memiliki barang haram tersebut dengan menunjukkan kartu identitas yang berlaku. Jika hal ini dilanggar maka baik pembeli maupun penjual akan dikenakan sanksi yang cukup berat. Hal ini juga berlaku untuk rokok dan produk turunan bernikotin lainnya. Dalam masalah narkoba Indonesia kini bukan saja menjadi negara tujuan perdagangan narkoba tetapi telah menjadi produsen narkoba dalam skala besar.

Dalam hal korupsi, kebocoran anggaran dalam pelaksanaan pembangunan ternyata lebih parah dari masa Orde Baru. Jika sebelumnya korupsi terkonsentrasi di pemerintah pusat, sekarang menjadi tersebar merata di semua lapisan birokrasi, baik dalam tugasnya melaksanakan pembangunan berbasis APBN/APBD demikian juga dalam hubungannya dengan pengusaha swasta. Ironisnya lagi, korupsi yang dilakukan oleh oknum penegak keadilan yang sejatinya bertugas memberantas korupsi yang dilakukan oleh oknum penegak keadilan yang seharusnya bertugas memberantas korupsi seperti oknum dari kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan.

Pihak eksekutif atau pemerintah tampaknya semakin hati-hati dalam melaksanakan tender APBN/APBD karena khawatir dikejar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan melanggar Peraturan Pemerintah (PP) No. 80/2003. Ketakutan berbuat salah adalah gejala yang sehat tetapi ternyata hal ini juga membuka peluang baru untuk para pengawas pembangunan dan penegak keadilan. Mereka seperti mendapat “lahan baru” untuk menekan eksekutif. Untuk bisa aman tidak ada cara lain bagi eksekutif kecuali harus “membayar” para pengawas dan penegak hukum tersebut. Darimana posnya diambil? Jelas dari APBN/APBD. Siapa yang dirugikan? Jawabannya pasti rakyat karena jatah pembangunan proyek dan sarana publik menjadi semakin kecil. Tidak heran mengapa infrastruktur layanan publik di negeri ini sangat memprihatinkan.

Kebocoran ini semakin menjadi ketika sistem Otonomi Daerah (Otda) belum bisa difahami dan dilaksanakan dengan jiwa dewasa dan penuh tanggung jawab. Sebagai contoh, untuk menjadi seorang kepala daerah (gubernur, bupati, walikota) di pulau Jawa atau daerah-daerah tertentu di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, dibutuhkan biaya kampanye minimal tujuh sampai limabelas miliar Rupiah. Ketika calon kepala daerah meminjam dari beberapa pengusaha dan teman-temannya, ia akan langsung menjadi penghutang besar (gharimun kabir) yang harus dibayar selama masa pemerintahannya. Di sinilah ia akan memulai tugas utama sebagai kepala daerah dengan program “balik modal”. Program “balik modal” ini jelas tidak dapat diharapkan dari gaji struktural karena take-home payment resmi para pejabat itu tidak lebih dari lima belas sampai duapuluh juta Rupiah perbulan. Mungkin jika ditambah berbagai tunjangan resmi mencapai limapuluh juta Rupiah sampai seratus juta Rupiah sebulan. Kalau lima puluh juta itu dikali enampuluh bulan masa jabatan, maka total pendapatan resmi kepala daerah tersebut adalah tiga miliar Rupiah (Rp.50 juta x 60 bulan). Dari mana ia harus menutupi sisanya? Jawabannya yaitu dengan menitipkan persentase tertentu dari APBD kepada kontraktor. Setiap kontraktor yang ikut tender harus siap untuk setor 5 hingga 20 persen jika ingin menang. Demikian juga pimpinan daerah akan mendapat tambahan income saat bendaharawan Pemerintah Daerah (Pemda) melakukan pembayaran ke kontraktor. Pimpinan Pemda juga masih akan mendapatkan tambahan income non halal dari setiap perizinan dan konsesi penambangan dan investasi yang dilakukan di wilayahnya.

Butuh Teladan

Dari gambaran di atas sangatlah jelas bahwa bangsa ini membutuhkan suri teladan yang layak untuk ditiru dan sanggup membawa setiap insan Indonesia lebih maju dan lebih bermartabat.  Indonesia membutuhkan teladan hampir dalam semua spektrum kehidupan. Anak muda dan remaja membutuhkan satu sosok yang tangguh dan bermotivasi tinggi untuk menghadapi segala kesulitan hidup dan banyaknya rintangan untuk berkembang. Rumah tangga membutuhkan figur suami dan ayah teladan yang penuh perhatian kepada istri dan anak-anaknya. Dunia usaha juga memerlukan contoh pebisnis yang bisa sukses tanpa harus bertumpu pada modal dan uang tetapi pada kompetensi dan kepercayaan (trust). Dunia pendidikan membutuhkan figur pendidik yang ngemong dan memperlakukan siswa dengan sebagaimana mestinya karena pendidikan pada adasarnya merupakan proses transformasi nilai dan budi pekerti, bukan sekedar transmisi informasi dan data belaka.

Dalam tataran sosial diperlukan seorang leader yang mampu merajut titik-titik temu dari berbagai elemen masyarakat yang berbeda dari sisi ideologi, kultur dan tradisinya; menjadi suatu tatanan masyarakat baru yang bergerak menuju peradaban baru.

Indonesia dan dunia merindukan pemimpin politik yang memiliki visi, kompetensi dan compassionate untuk memajukan bangsanya. Banyak anak bangsa yang tidak tahu akan menjadi apa Indonesia dalam 5 atau 10 tahun yang akan datang. Banyak dari kita juga yang tidak mengerti bagaimana strategi pangan nasional agar dapat berswasembada beras dalam 3 tahun ke depan atau bagaimana memastikan ketahanan energi ketika minyak diperkirakan akan berkurang drastis dalam 18 tahun ke depan dan gas alam akan habis dalam 60 tahun.

Indonesia merindukan suri tauladan leadership yang meyakini bahwa jabatan adalah tanggung jawab dunia akhirat dan bukan kemegahan serta peluang (opportunity) untuk menambah kekayaan semata dengan apapun caranya. Pemimpin yang tidak bisa tidur nyenyak karena masih banyak rakyatnya yang bergizi buruk. Pemimpin yang tidak bisa bercuti panjng karena banyak Puskesmas dalam keadaan memprihatinkan. Pemimpin yang tidak terlalu menikmati duduk dalam ruangan ber-AC sementara masih banyak rakyatnya yang menjadi korban bencana alam masing berada di tenda-tenda pengungsian. Pemimpin yang tidak tega meminta kenaikan gaji dan fasilitas karena sebagian pegawai negeri gaji pokoknya tidak lebih besar dari anggaran telepon rumah seorang pejabat di tingkat kabupaten.

Teladan kepemimpinan itu sesungguhnya terdapat pada diri Muhammad saw karena ia adalah pemimpin yang holistic, accepted, dan proven. Holistic karena beliau adalah pemimpin yang mampu mengembangkan kepemimpinan dalam berbagai bidang. Contoh kepemimpinan beliau tersebut tercermin dalam 8 spektrum kepemimpinan yaitu dalam kepemimpinan diri (self leadership), bisnis, rumah tangga, dakwah, sosial politik, pendidikan, hukum, dan militer. Kepemimpinannya accepted karena pengaruhnya diakui lebih dari 1,3 miliar penduduk dunia saat ini.  Proven karena sudah terbukti pengaruhnya sejak lebih dari 14 abad yang lalu hingga hari ini masih relevan diterapkan. Hanya saja terkadang kita enggan untuk mengambil mutiara hikmah dari suri tauladannya karena keangkuhan atau kebodohan diri.

Kualitas Manusia dan Pembangunan

Kalau kita membicarakan masalah kualitas manusia dalam pembangunan. Maka kita akan terlibat pada beberapa aspek diri manusia. Pertama aspek fisik yang berupa tingkat kesehatan tubuh dan kelengkapan anggota tubuh. Kedua, aspek kognitif, dalam hal ini tingkat kecerdasan dan pendidikan. Ketiga, aspek nonkognitif, yaitu kualitas kepribadian dan kualitas moral yang ada pada diri seseorang.

            Seseorang tidak bisa menjadi pekerja yang produktif apabila kesehatannya kurang baik, kemampuan kognitifnya tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaan, dan kepribadian serta moralnya tidak sejalan dengan kehendak pembangunan.

Sifat-sifat lain yang tampaknya menentukan kemajuan ekonomi ke arah imdustrialisasi, dikemukakan oleh Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalisme. Menurut Weber, kemajuan ekonomi ke arah industrialisasi terjadi karena adanya sifat kerja keras dengan semangat tinggi, sikap hidup hemat, dan kebiasaan menanamkan uang untuk kemajuan ekonomi.\

Di Indonesia sifat-sifat ini belum begitu menonjol. Sifat kerja keras belum merupakan ciri umum pekerja-pekerja Indonesia. Pegawai negeri, misalnya, masih belum menggunakan waktunya untuk melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Para wiraswastawan pribumi umumnya belum mampu menandingi kerja keras wiraswastawan nonpribumi. Orang mungkin bisa mengajukan argumentasi lain. Orang-orang Indonesia sebenarnya cukup mau bekerja keras. Misalnya para pedagang kaki-lima, tukang becak dan sopir mobil penumpang umum terus bertahan walaupun sudah dikejar-kejar petugas. Masalahnya, mereka menjadi malas karena adanya peraturan-peraturan yang mematikan keinginan mereka untuk bekerja.

Sikap hidup hemat rupa-rupanya belum merupakan pola hidup sebagian orang Indonesia. Walaupun slogan pola hidup sederhana telah dicanangkan sejak beberapa tahun yang lalu, tampaknya masih berupa slogan yang belum dilaksanakan. Masih sering terlihat acara-acara mewah yang tentunya akan memakan biaya besar. Peresmian pabrik-pabrik baru masih dilakukan secara besar-besaran. Hal ini tidak saja hanya menghabiskan biaya yang sangat besar, tetapi juga menghabiskan waktu para teknokrat dan fungsionaris lain yang ikut menghadiri pembukaan tersebut. Kebiasaan untuk mengadakan upacara peresmian ini sudah menular pada proyek-proyek kecil, seperti jembatan, perumahan, dan bangunan kecil. Selain itu banyak pemborosan yang dilakukan oleh banyak orang untuk membeli barang-barang mewah untuk sekadar mengejar status sosial. Dalam hal hidup hemat keadaan masyarakat kita tampaknya sangat berbeda dengan masyarakat di negara-negara yang sudah maju. Orang-orang Jepang dan Belanda, misalnya, adalah orang-orang yang sangat hemat. Walaupun penghasilan mereka sudah tinggi, hidup hemat masih terus mereka pertahankan. Misalnya mereka mendapat bonus diluar penghasilan rutin, mereka akan menabungnya. Bagi orang-orang Indonesia tampaknya tidak demikian. Kalau mereka mendapat penghasilan ekstra, mereka beranggapan itu sebagai rezeki nomplok yang tidak harus ditabung, tetapi harus dihabiskan.

       Sifat-sifat lain yang merupakan ciri manusia yang mendukung pertumbuhan ekonomi adalah ‘dorongan untuk berprestasi’. David C. McClelland di dalam bukunya, The Achieving Society (1961) beranggapan bahwa dorongan berprestasi ini seperti virus yang dapat ditularkan pada setiap diri manusia. Dia menamakan virus N-Ach (need for achievement). Menurut McClelland, bangsa-bangsa yang mempunyai dorongan berprestasi yang tinggi akan mampu memajukan perekonomian mereka. Ciri-ciri manusia yang memiliki dorongan untuk berprestasi ialah adanya kebiasaan untuk bekerja keras guna meningkatkan prestasi. Bagi mereka didalam bekerja yang menjadi tujuan utama bukanlah keinginan untuk mengejar hal-hal yang ekstrinsik seperti uang, kekayaan, prestise, tetapi tujuan ysng bersifat intrinsik. Mereka akan puas bila dapat mengerjakan sesuatu pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Perkara hasilnya bagaimana bukanlah hal yang utama bagi mereka. Dorongan untuk berprestasi seperti ini amat menonjol pada orang-orang Jepang. Bagi orang Jepang yang penting bukanlah hasil dari pekerjaan mereka, tetapi bagaimana dia dapat melakukan sesuatu pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Orang Jepang meyebut sikap seperti itu dengan istilah makoto.

   Dorongan berprestasi orang-orang Indonesia tampaknya masih rendah. Hal ini terbukti misalnya dari laporan tentang rendahnya produktivitas tenaga kerja kita yang dikirim ke Timur Tengah. Indikator lainnya ialah banyaknya kasus-kasus korupsi untuk mengejar hal-hal yang ekstrinsik tapi tanpa kerja keras.

      Sifat lainnya yang diperlukan di dalam proses pencapaian efisiensi kerja yang kiranya sangat diperlukan di dalam industri ialah adanya kecocokan antara pekerjaan dengan  karyawan. Kecocokan ini baru diperoleh bilamana syarat-syarat yang dituntut oleh pekerjaan (minat, bakat, pendidikan, kecerdasan dan kepribadian) dimiliki oleh karyawan. Di Indonesia tampaknya sejauh ini pencarian the right men on the right place belum dilaksanakan semestinya. Penempatan orang-orang pada posisi kerja tertentu seringkali lebih ditentukan oleh apakah orang-orang tersebut anggota famili, kawan dekat, kawan sealiran politik, atau orang yang bersedia membayar uang semir. Demikian pula dengan pemberian modal untuk pengembangan usaha-usaha di sector swasta. Banyak perusahaan swasta yang dikelola oleh keluarga ataupun kenalan baik para pejabat pejabat penguasa. Perusahaan ini berdiri bukan karena keahlian si pengelola di bidang kewiraswastaan, tetapi karena adanya dukungan pihak-pihak penguasa dalam bentuk fasilitas mulai dari pemberian izin usaha sampai ke modal. Sifat nepotisme seperti ini amat membahayakan bagi kemajuan pembangunan, bilamana orang-orang yang ditempatkan atau yang dibantu tidak memenuhi syarat ysng dituntut oleh pekerjaannya.

            Suatu sifat lain yang perlu dibina dalam menghadapi era industrialisasi ialah dengan dorongan afiliasi. Atkinson menggunakan istilah need for affiliation untuk menamakan dorongan tersebut. Yang dimaksud dengan dorongan afiliasi ialah dorongan pada diri manusia untuk membina hubungan yang positif dan afektif dengan orang-orang lain. Orang-orang yang mempunyai dorongan afiliasi yang besar mempunyai ciri-ciri suka bersahabat, penuh kasih sayang, dan punya rasa setia kawan.

Dorongan afiliasi kurang mendapat pengembangan di negeri Barat. Karena terlalu menekankan sifat-sifat individualistic dan materialistic, dorongan ini kurang diperhatikan. Bagi orang-orang di negeri Barat dorongan untuk berprestasi (need for achievement) yang diutamakan. Terlalau menekankan dorongan untuk berprestasi tanpa disertai dorongan afiliasi, akan menyebabkan orang-orang menjadi individualistic, kurang memperhatikan kesejahteraan orang lain. Mungkin inilah salah satu sebab industrialisasi di negeri Barat selalu memberikan dampak negatif terhadap hubungan interpersonal. Angka perceraian yang tinggi, angka bunuh diri yang tinggi, dan tingginya frekuensi perlakuan salah terhadap anak (child abuse), adalah beberapa akibat dari perasaan alineasi (keterasingan) yang merupakan efek sampingan industrialisasi. Lahirnya kelompok kepercayaan (cult) yang banyak berkembang di Amerika, kelompok kehidupan baru (commune), hippies, dan generasi obat bius adalah salah satu reaksi dari perasaan alienasi tersebut.

            Bagi orang Indonesia pengembangan dorongan afiliasi adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Dasar negara kita menuntut setiap manusia Indonesia untuk lebih mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadinya. Hal yang berkaitan dengan kepentingan pribadi diletakkan dalam kerangka kesadaran akan kewajibannya sebagai makhluk sosial dalam kehidupan masyarakatnya. Yang harus dijaga, jangan sampai pembangunan ekonomi kita berakibat semakin melebarnya jurang antara orang kaya dan orang miskin. Pada dasarnya terjadinya hal itu karena dorongan egoistik yang hanya ingin mengejar keuntungan bagi diri mereka sendiri. Mengingat itu, dorongan pembinaan afiliasi penting sekali dilakukan.

Keinginan berafiliasi ini merupakan cerminan dari semangat silaturrahim yang sangat ditekankan oleh Muhammad saw. Dalam salah satu riwayat disampaikan bahwa beliau mengatakan bahwa siapa yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menyambungkan silaturahim. Silaturrahim itu sendiri berarti ikatan kasih sayang. Dengan demikian afiliasi yang diinginkan dalam Islam adalah afiliasi yang didasarkan pada kasih sayang. Inilah yang menjadi salah satu kunci sukses generasi awal Muslim pada masa Rasulullah saw dan beberapa generasi sesudahnya.

                Satu sifat lagi yang harus dimiliki di dalam pembangunan ialah moralitas yang baik. Negara tidak akan cepat pertumbuhan ekonominya apabila digerogoti oleh orang-orang yang tidak bermoral. Ada juga kemungkinan, ekonomi suatu bangsa bukannya berkembang tetapi ambruk oleh tangan-tangan yang tidak bermoral.

            Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa paling sedikit ada beberapa sifat kepribadian yang harus dibina dalam menghadapi era industrialisasi, yaitu sifat-sifat inovatif, dorongan berprestasi, dorongan afiliasi, hemat, dan moralitas yang baik. Tentu saja sifat-sifat juga memiliki tingkat kesehatan fisik yang baik, dan pendidikan yang memadai.

Cara lain yang dapat dipakai untuk meningkatkan dorongan berpresatasi ialah memberikan ajaran agama yang menekankan bahwa bekerja keras adalah salah satu pengabdian kepada Tuhan. Sepengetahuan penulis banyak sekali ayat di dalam Kitab Suci yang berisi anjuran untuk bekerja keras.

Modal Manusia dalam Pembangunan

Dalam membangun Indonesia pengayaan modal manusia (human capital) dengan beberapa modal yaitu modal intelektual (intellectual capital), modal sosial (social capital), modal mental (soft capital), dan modal agama (spiritual capital).

Modal intelektual adalah perangkat yang diperlukan untuk menemukaan peluang dan mengelola ancaman dalam kehidupan. Banyak pakar yang mengatakan bahwa modal intelektual sangat besar peranannya di dalam menambah nilai suatu kegiatan. Berbagai perusahaan yang unggul dan meraih banyak keuntungan adalah perusahaan yang terus  menerus  mengembangkan sumberdaya manusianya.

Modal intelektual baru akan tumbuh bila masing-masing orang berbagi wawasan. Untuk dapat berbagi wawasan orang harus membangun jaringan hubungan sosial dengan orang lainnya. Kemampuan membangun jaringan sosial inilah yang disebut dengan modal sosial. Semakin luas pergaulan seseorang dan semakin luas jaringan hubungan sosial (social networking) semakin tinggi nilai seseorang.

 Modal Sosial dimanifestasikan pula dalam kemampuan untuk bisa hidup dalam perbedaan dan menghargai perbedaan (diversity). Pengakuan dan penghargaan atas perbedaan adalah suatu syarat tumbuhnya  kreativitas dan sinergi. Kemampuan bergaul dengan orang yang berbeda, dan menghargai dan memanfaatkan secara bersama perbedaan tersebut akan memberikan kebaikan buat semua. Dalam ajaran setiap manusia diminta membangun silaturahim. Karena silaturahmi akan memberikan kebaikan. Ide kreatif seringkali muncul melalui diskusi. Demikian pula peluang bisnis seringkali terbuka karena adanya jaringan hubungan silaturahim.  

 Modal agama yang juga disebut sebagai “soft capital”  adalah modal yang diperlukan untuk menumbuhkan modal sosial dan modal intelektual. Sifat bisa dipercaya dan percaya pada orang lain (trust), bisa menahan emosi, pemaaf, penyabar, ikhlas, dan selalu ingin menyenangkan orang lain  sangat diperlukan bagi upaya untuk membangun masyarakat yang beradab dan berkinerja tinggi.

Bagi orang yang beagama ketiga modal yang dibicarakan di atas adalah bagian dari ekspresi modal spiritual. Semakin tinggi iman dan takwa seseorang semakin tinggi pula ke tiga modal di atas. Namun demikian banyak akademisi yang menyarankan agar modal spiritual dipisahkan dari ketiga modal di atas, dengan tujuan untuk semakin menekankan betapa pentingnya upaya pengembangan  keberagamaan manusia.

Iman Sebagai Modal Pembangunan

Pemahaman tentang Iman seringkali diberi makna dalam sebuah pengertian yang bersifat abstrak, gaib atau mungkin dianggap sebagai suatu yang misterius sehingga kita kehilangan gambaran nyata dari kekuatan iman tersebut. Seharusnya, setiap orang beriman harus menyakini bahwa iman akan terasa kelezatannya apabila secara aktual dimanifestasikan dalam bentuk amal saleh yaitu suatu bukti wujud aktivitas kerja kreatif, yang ditempa oleh semangat dan motivasi tauhid untuk mewujudkan identitas dan cita-citanya yang luhur sebagai umat yang terbaik.

Bekerja adalah fitrah manusia dan kerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman tauhid bukan saja menunjukkan fitram seorang Muslim, tetapi sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah (‘abd Allah) yang mengelola seluruh alam sebagai bentuk dari cara dirinya mensyukuri kenikmatan dari Allah penguasa alam.

Lebih dari seratus tahun para ilmuwan berusaha menjawab persoalan tentang peranan agama dan nilai-nilai (values) dalam menciptakan kapitalisme modern dan demokrasi. Meskipun baru dua dekade belakangan para sosiolog menggunakan istilah ‘social capital’ untuk menggambarkan peranan agama dalam pembangunan ekonomi, konsep spiritual capital telah ada secara implisit dalam teori-teori yang dikemukakan oleh Max Weber. Weber meyakini bahwa agama merupakan pertimbangan utama dalam rasionalitas dan tingkah laku seseorang. Dalam bukunya, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, Weber berpendapat bahwa nilai-nilai kemerdekaan (indipendence), disiplin, inner-world ascetism diadopsi dari ajaran Kristen Protestan, terutama varian Calvinist, mempunyai peranan penting dalam perkembangan kapitalisme Eropa modern.

Laurence Iannaccone (1990) berpendapat bahwa sama halnya dengan produksi komoditi rumahtangga yang dihasilkan oleh skill dikenal sebagai human capital, produksi dari praktek keagamaan dan kepuasan beragama diperkuat oleh religious human capital. Dia mendefinisikan religious human capital sebagai “skill and experiences specific to one’s religion, including religious knowledge, familiarity with church ritual and doctrine, and friendships with fellow worshipers.” Sementara Roger Finke mendefinisikan Spiritual Capital dengan, “Religious capital consists of the degree of mastery of and attachment to a particular religious culture.”

Untuk mengapresiasi suatu agama diperlukan pengetahuan dan akrab dengan ajaran-ajaran agama tersebut. Misalnya cara-cara beribadah dan sebagainya. Namun, agar betul-betul menghargai suatu agama diperlukan keterikatan emosional (emotional attachment) dan pengalaman keagamaan yang intrinsik dalam kehidupan seseorang. Aktivitas keagamaan seperti shalat, zikir, dan pengalaman keagamaan lainnya yang dibangun selama hidup tidak hanya meningkatkan rasa percaya terhadap kebenaran suatu agama, tetapi juga memperkuat ikatan emosional terhadap suatu agama. Keterikatan emosional dan penguasaan terhadap ajaran agama menjadi investasi yang terus bertambah merupakan religious capital.

Spiritual capital berbeda dengan bentuk capital lainnya, bukan karena kelompok-kelompok keagamaan tidak memiliki sumber-sumber material (financial capital), keahlian (human capital), hubungan yang saling mempercayai (social capital), dan nilai-nilai budaya (cultural capital). Mereka mempunyai semua itu.

Spiritual capital mungkin tidak mempengaruhi politik dan ekonomi secara langsung. Tetapi spiritual capital mungkin dapat mempengaruhi ekonomi melalui kesehatan, rule of law, voluntarisme, dan pendidikan.

Misalnya, di Barat orang-orang yang terlibat dalam aktivitas keagamaan dapat hidup lebih lama. Orang-orang yang memiliki tingkat keberagamaan tinggi cenderung memiliki persoalan mental yang lebih sedikit, jarang sakit, dan lebih cepat sembuh daripada orang-orang yang tingkat keberagamaannya rendah. Mereka jarang melakukan perilaku yang membahayakan kesehatan; misalnya, mereka jarang merokok dan   mengkonsumsi minuman beralkohol dan lain-lain. Mereka lebih interaktif dengan masyarakat, memiliki self-esteem yang lebih besar, memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi, jarang stress, dan memiliki lembaga perkawinan yang lebih bahagia dan bertahan lama.

Dengan demikian keakraban (familiarity) and persahabatan dalam suatu agama membantu seseorang untuk memproduksi komoditi keagamaan yang berharga. Dibandingkan dengan social capital dan human capital, konsep spiritual capital agak terabaikan.

 Sosiolog Perancis, Pierre Bourdieu (1994), mengajukan istilah cultural capital untuk mengidentifikasi ongkos investasi budaya yang dimiliki seseorang. Orang menolak untuk pindah dari suatu tempat, bukan hanya untuk melindungi social capital­nya, tetapi juga untuk melindungi cultural capital. Misalnya, jika seseorang sudah lancar berbahasa Perancis, ia akan memaksimalkan cultural capital dengan tetap berada dalam masyarakat berbahasa Perancis daripada pindah atau berinvestasi budaya lagi dengan mempelajari bahasa lainnya. Jika hal ini diterapkan pada agama, ini akan menjadi sebuah proposisi tentang religious capital:

In making religious choices, people will attempt to conserve their religious capital.

Artinya, semakin banyak religious capital yang dimiliki seseorang maka semakin kuat usahanya untuk menjaga modalnya ini. Dengan kata lain, ketika mereka terus berusaha menguasai ajaran agama dan semakin bertambah keterikatan emosional mereka, maka mereka akan menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat membahayakan investasi (religious capital) ini. Proposisi inilah yang menghasilkan beberapa hipotesis yang membantu menjelaskan temuan-temuan berbagai penelitian tentang perpindahan agama:

1.      Semakin besar religious capital seseorang, semakin sedikit kemungkinan mereka untuk berafiliasi atau pindah ke agama lain.

2.      Ketika seseorang berafiliasi atau pindah ke agama lain, ia akan cenderung untuk memilih agama yang dapat memaksimalkan cadangan religious capital-nya.

Dalam bukunya Spiritual Capital, Danah Zohar dan Ian Marshall berpendapat bahwa agar kapitalisme mempunyai masa depan, ia harus mengubah fokusnya dari semata-mata untuk mengakumulasi material capital dan mulai mengakumulasi ‘spiritual capital’ – a kind of wealth earned by acting not out of short-term bottom-line expediency but by serving fundamental human needs.

Kecerdasan rasional (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dibutuhkan untuk mendiagnosa keadaan sekarang (current state), sedangkan kecerdasan spiritual (SQ) dapat digunakan untuk merealisasikan transformasi final. Anda dapat memimpin perusahaan anda dengan fakta, angka-angka, dan berbagai teknik yang rumit. Juga bisa mempengaruhi karyawan melalui grafik akhir tahun yang menjanjikan dan naiknya pergerakan harga saham. Namun, organisasi tersebut tetap harus memiliki spiritual sustenance untuk mengoptimalkan produktivitas.

Hubungan keyakinan (iman) dengan kesuksesan terletak pada kepercayaan diri (self confidence). Percaya diri berarti bahwa Anda mampu mengerjakan atau mencapai apa yang Anda inginkan dengan kemampuan sendiri. Dengan adanya rasa percaya diri, ketakutan untuk gagal dapat diatasi. Keragu-raguan juga dapat disingkirkan.

            Kegagalan seringkali bermula ketika seseorang tidak percaya terhadap kemampuannya sendiri. Dia akan membatasi membatasi dirinya dari kemampuan yang sebenarnya. Misalnya, Anda berpikir bahwa diri Anda kurang mampu dibanding yang lain. Mungkin Anda berpikir bahwa orang lain lebih hebat di beberapa bidang. Jika demikian berarti Anda telah menjual murah diri Anda di bawah harga yang seharusnya.

            Kepercayaan diri yang rendah seperti ini ibarat rem yang menahan potensi Anda sebenarnya. Ia menahan diri Anda untuk tidak maju. Ia menciptakan dua musuh utama kesuksesan seseorang yaitu keraguan dan ketakutan. Ia merusak sistem kerja Anda. Ia menyebabkan Anda ragu-ragu mengambil risiko yang sebenarnya dapat diatasi guna memunculkan potensi Anda yang sebenarnya.

            “Keimanan itu bertambah dan berkurang,” kata Imam al-Ghazali. Demikian juga kepercayaan untuk sukses atau berhasil. Kepercayaan diri seseorang juga sering naik-turun. Agar terus maju menuju kesuksesan Anda harus terus mengantisipasi penurunan keimanan atau keyakinan Anda itu agar tidak turun. Di sini lah dibutuhkan motivasi. Anda harus menerima suatu prinsip dasar bahwa Anda itu sebenarnya mempunyai kemampuan yang “tidak terbatas”. Kalau pun kemampuan Anda itu terbatas, Anda juga tidak akan pernah tahu batasnya di mana. Kalau Anda meyakini batas kemampuan Anda lebih luas, maka prestasi Anda bisa lebih tinggi. Tetapi kalau Anda meyakini kemampuan Anda itu terbatas maka rendah lah prestasi yang Anda raih.

            “Aku menurut persangkaan hamba-Ku” firman Allah dalam sebuah hadis Qudsi. Kalau Anda yakin Allah akan mengampuni kesalahan Anda, maka kesalahan Anda akan diampuni. Kalau Anda yakin bahwa Anda akan mampu mencapai tujuan Anda, maka Allah akan membantu Anda untuk mencapainya.

            Keimanan merupakan suatu syarat untuk mencapai prestasi puncak. Keimanan dapat menyingkirkan rasa rendah diri dan kesedihan. Allah berfirman:

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3:139)

Kerja Keras

Kerja keras merupakan bagian dari jihad. Secara terminologis, jihad adalah pengerahan segenap kemampuan untuk tujuan-tujuan yang mulia. Semangat jihad inilah yang melahirkan semacam dorongan “kegilaan” bagi setiap orang untuk memilih nilai-nilai etos kerja yang tinggi.

Semangat jihad ini dapat dilihat pada sosok salah seorang sahabat Rasulullah saw yaitu Abdurrahman bin ‘Auf. Sahabat ini dikenal sangat cakap dalam berniaga dan disegani karena termasuk salah seorang penduduk Makkah yang kaya. Ketika erintah hijrah ke Madinah turun, Abdurrahman rela meninggalkan seluruh asset dan status sosial yang dimilikinya. Ia berangkat ke Madinah dalam keadaan tidak lebih baik dari muhajirin yang miskin.

Sesampai di Madinah, sesuai dengan kebijakan Muhammad Saw yang mempersaudarakan satu orang muhajirin dan satu orang anshar, Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’. Oleh Sa’ad, Abdurrahman ditawari berbagai fasilitas termasuk share dari harta yang dimiliki oleh Sa’ad. Namun, Abdurrahman menolak itu semua dan berkata, “Cukuplah bagiku, engkau tunjukkan di mana pasar?”

Jiwa kewirausahaan, kecakapan dalam berdagang, etika bisnis yang tinggi, sikap profesional sebagai seorang pengusaha, dan keimanan yang kuat adalah bekal utama Abdurrahman bin ‘Auf untuk bangkit dari kebangkrutan. Ia berhasil mengembalikan kejayaannya dalam berdagang. Bahkan, dalam kisah sejarah selanjutnya, ia mampu berbuat banyak untuk kejayaan Islam. Bayangkan saja, 500 ekor kuda dia serahkan untuk perlengkapan tentara Islam, 50.000 dinar untuk jihad fi sabilillah, dan ia menyantuni para veteran perang Badar masing-masing sebesar 400 dinar. Abdurrahman tidak berjihad dengan harta saja tetapi juga dengan jiwanya. Menurut riwayat, ia mempunyai 20 bekas luka yang ia terima dalam perang Uhud dan giginya rontok sehingga ia agak cadel dalam berbicara. Inilah contoh etos kerja seorang Muslim yang sebenarnya.

Kerja keras adalah sunnah (the propet’s way). Sa’ad al-Anshari meriwayatkan bahwa pada suatu hari seorang sahabat memperlihatkan tangannya yang melepuh dan kehitam-hitaman. Tatkala Muhammad saw menanyakan mengapa tangannya demikian, ia menjawab bahwa itu adalah akibat bekerja keras menggali batu cadas yang keras untuk mencari nafkah yang halal bagi keluarganya. Demi mendengar penjelasan demikian, Muhammad saw meraih tangan yang melepuh itu dan mencium keduanya. Hal ini merupakan sebuah penghormatan yang bekerja keras untuk mencari nafkah.

Menyoal Profesionalisme

Profesi adalah suatu pekerjaan yang mensyaratkan adanya pelatihan (training) dan pendidikan yang ekstensif dan penguasaan terhadap suatu bidang ilmu tertentu. Biasanya kemudian diikuti oleh terbentuknya organisasi profesi, adanya kode etik, proses sertifikasi, dan perizinan. Misalnya profesi di bidang kedokteran, hukum, akuntansi, arsitek, keuangan, cabang keilmuan tertentu, dan lain-lain.

Dalam sejarah, pada awalnya terdapat tiga bidang profesi yaitu kependetaan, kedokteran, dan hukum. Masing-masing profesi ini mempunyai kode etik tertentu dan untuk menjadi anggota biasanya seseorang diambil sumpahnya untuk berpegang kepada kode etik ini agar dia dapat ‘berprofesi’ dengan standar akuntabilitas yang tinggi. Masing-masing profesi ini juga mensyaratkan adanya pelatihan dan pendidikan yang ekstensif tentang nilai-nilai dan arti pentingnya sumpah yang diucapkan bagi praktek profesi tersebut. Anggota profesi tertentu biasanya disebut “profesional”.

Para sosiolog mendefinisikan profesionalisme sebagai elitisme kekuasaan tertentu atau eklusifitas pekerjaan atau minat yang diorganisasikan. George Bernard Shaw mengkarakterisasi semua profesi sebagai “conspiracies againts the laity”.  Namun definisi sosiologis yang mengharuskan adanya beberapa persyaratan dalam profesionalisme, seperti altruisme, self-governance, esoteric knowledge, keahlian tertentu, perilaku etis, dan lain-lain, kurang diperhatikan pada akhir abad ke-20.

  Dalam mendifinisikan profesionalisme, masing-masing organisasi profesi membuat aturan tersendiri. Mereka juga membuat kode etik yang harus dipatuhi oleh semua anggotanya. Di samping itu, mereka juga mensyaratkan kualifikasi tertentu untuk menjadi anggota dan mewajibkannya untuk tetap berada pada standar yang ideal dalam menjalankan profesi tersebut.

Beberapa di antara kode tersebut sangat rinci dan memberikan penekanan pada area atau keahlian tertentu. Misalnya, profesi jurnalistik menekankan pada penggunaan sumber-sumber yang dapat dipercaya dan memproteksi identitas narasumber. Psikolog menekankan pada penjagaan terhadap privasi pasien dan komunikasi dengan psikolog lain. Antropolog mempunyai kode etik sendiri mengenai aturan terjun ke tengah masyarakat atau budaya yang sedang dikaji. Common platform dari kode-kode ini antara lain adalah, “jangan membahayakan”, “jujur”, “jangan gunakan posisi Anda untuk mencari keuntungan pribadi”, dan sebagainya.

Seorang profesional dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas yang dihasilkan dari pendidikan dan pelatihan yang ekstensif. Organisasi profesi merupakan badan yang self-regulating dalam artian mengawasi proses pelatihan dan evaluasi terhadap seseorang yang akan menjadi bagian profesi tersebut. Para profesional mempunyai otonomi di tempat kerja. Mereka juga diharapkan mempunyai pertimbangan yang independen dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya dan sesuai dengan kode etik profesi tersebut.

Istilah ‘profesional’ seringkali salah dalam penggunaannya. Misalnya, perbedaan antara olahragawan profesional dan amatir disederhanakan pada tingkat bayaran yang mereka terima. Jika bayarannya besar, maka disebut olahragawan profesional. Sebaliknya, jika rendah disebut amatir. Seharusnya, menjadi profesional berarti bahwa seseorang harus tetap sejalan dengan aturan-aturan tertentu, tertulis maupun tidak tertulis, yang diejawantahkan dalam sikap, cara bicara, dan lain-lain.   

Dengan demikian, profesional dapat diartikan sebagai suatu sikap melakukan sesuatu yang benar dengan cara yang benar (do the right thing rightfuly). Sikap inilah yang masih perlu ditingkatkan oleh sumberdaya manusia di Indonesia. Sikap profesional harus terus dikembangkan agar pembangunan di Indonesia dapat berjalan ke arah yang seharusnya menuju tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh masing-masing unit organisasi mulai dari yang terkecil sampai ke level negara.  

Penutup

            Demikianlah, Indonesia saat ini sangat memerlukan dua hal besar sebagai modal pembangunan yaitu iman dan sikap profesional. Iman yang benar dan teguh akan melahirkan sifat-sifat yang dibutuhkan dalam pembangunan seperti sifat sabar, pantang menyerah, bekerja keras, jujur, amanah, kompeten, dan lain-lain.

            Sikap profesional sendiri sebenarnya dapat diturunkan dari keimanan yang benar tersebut. Seorang yang profesional akan bersikap jujur, tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan kepadanya dan melakukan segala sesuatu yang benar dengan benar.

Semoga kita semua dapat berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia dengan memperteguh keimanan, bekerja keras, dan sikap profesional.

*Tulisan ini merupakan orasi ilmiah Dr. M. Syafii Antonio pada upacara wisuda Universitas Paramadina tahun 2007 (kalau ga salah). Saya membantu mempersiapkan makalahnya.


D. McClelland, The Achieving Society, New York, Free Press, 1961

.Sayidiman Suyohadiprojo, “Sikap Kesungguh-sungguhan Salah Satu Sumber Jepang,” dalam B.N. Marbun (ed.), Manajemen Jepang, Jakarta, PT Pustaka Binaman Pressindo, 1983.

Finke, Roger. 2003. “Spiritual Capital: Definitions, Applications, and New Frontiers,” Penn State University Prepared for the Spiritual Capital Planning Meeting, October 10-11, 2003. hal. 3

Lebih lanjut lihat Ellison and Levin, 1998, Sherkat and Ellison 1999; Koenig 2000; Hummer et.al. 1999; Smith and Woodberry 2001; Townsend et.al. 2002; Chatters 2000.

Stark and Finke, 2000, hal. 121

Lihat Ianaccone, 1990; Stark and Finke, 2000 hal. 121, 123.

Kunde, hal. 100

This entry was posted in HR. Bookmark the permalink.