Islamic Financial Planning: Pendahuluan

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan

QS. Al-Hasyar [59]: 18

Pendahuluan

Ada suatu ungkapan yang mudah sekali diucapkan namun susah untuk dilaksanakan yaitu “rencakanan apa yang kamu lakukan, lakukan apa yang kamu rencanakan.” Banyak pelatih (coach) kesuksesan dan para guru leadership dan manajemen modern menekankan pentingnya perencanaan dalam apapun yang akan kita lakukan. Mereka juga mengatakan, “If you fail to plan, you plan to fail,” atau “Jika Anda gagal merencanakan, berarti Anda merencanakan untuk gagal.”

Salah satu perencanaan yang banyak orang gagal membuatnya sehingga membuat hidup mengalami banyak masalah adalah perencanaan keuangan. Kebanyakan orang memilih untuk tidak merencanakan keuangannya sebagaimana mereka juga tidak membuat rencana terhadap hidup mereka. Menurut mereka, biarkanlah hidup mengalir begitu saja dan tidak perlu direncana-rencanakan. “Panta rei,” segala hal mengalir,” kata Filsuf Yunani Heraclitus. Kullun muyassarun lima khuliqa lah atau segala sesuatu mengalir sebagaimana ia tercipta, kata orang Arab.

Menurut saya, hidup tidak bisa dibiarkan mengalir begitu saja karena tidak semua kehidupan bermuara pada kebahagiaan. Memang ada yang berhasil, namun banyak yang gagal. Kalau ditanyakan manakah lebih banyak orang yang sukses daripada yang tidak, maka jawabannya hampir pasti lebih banyak orang yang gagal. Kalau kita merujuk kepada hukum Pareto Optimality, perbandingannya 20:80. Dari seratus orang, 20 orang bisa dikatakan berhasil, 80 lainnya gagal. Dalam kenyataannya, angka perbandingannya bisa lebih kecil lagi, mungkin 10:90, bahkan mungkin 1:100 atau dalam 100 orang hanya seorang saja yang bisa dikatakan berhasil.

Ibaratkan air, tidak semuanya mengalir dengan lancar ke muara yang merupakan mulut samudera. Banyak yang harus mampir dulu ke sumur, selokan, toilet, comberan, empang, dan lain-lain. Hidup juga demikian, kalau dibiarkan begitu saja barangkali akan membawa kita kepada ketidakbahagiaan. Oleh karena itu, dalam hidup ini kita memerlukan pengelolaan atau manajemen yang baik.

Kembali kepada perencanaan keuangan tadi, ternyata banyak orang yang tidak merencanakan keuangannya. Akibatnya banyak sekali yang mengalami kegagalan atau masalah dalam hal keuangan. Akibatnya, beberapa tujuan hidup mereka juga mengalami kegagalan. Memang, uang bukan segala-galanya dalam hidup ini, namun di zaman sekarang ini segalanya memerlukan uang. Oleh karena, kita memerlukan suatu pengelolaan keuangan (financial management) yang baik dalam rangka mencapai tujuan-tujuan hidup kita di dunia dan akhirat.

Pentingnya Perencanaan

Sebaiknya kita tidak melulu mencari tahu mengapa kita sering gagal, tetapi juga melihat mengapa kita “sekali-sekali” berhasil. Dalam kehidupan yang kita jalani sejauh ini mungkin banyak cita yang belum tercapai. Banyak obsesi yang belum terwujud. Banyak mimpi yang belum jadi kenyataan. Mungkin yang sering terjadi adalah sesuatu yang tidak dicita atau diimpikan tiba-tiba terwujud. Banyak hal yang kita lupa mendoakannya muncul di depan mata. Namun di samping itu, ada juga beberapa hal yang kita inginkan, diikuti dengan doa, dan berusaha diwujudkan dengan usaha menjadi kenyataan.

Kegagalan dan mimpi yang belum terwujud dapat dijadikan pelajaran. Berbagai hal yang tercapai tanpa direncanakan atau diimpikan patut disyukuri sepenuh hati. Sedangkan keberhasilan yang direncanakan, didoakan, dan diusahakan lalu kemudian terwujud inilah yang perlu dipelajari dan diduplikasi agar mimpi-mimpi lainnya juga menjadi kenyataan.

Boleh dikata tidak ada orang yang merencanakan kegagalan. Namun banyak sekali orang yang tidak merencanakan keberhasilan. Di samping itu, ada juga yang merencanakan keberhasilan, namun menemui kegagalan. Banyak juga yang harus melewati banyak kegagalan sebelum pada akhirnya berhasil. Thomas Alfa Edison harus mengalami kegagalan 1.000 kali sebelum berhasil menciptakan lampu pijar. Kalau mereka yang sudah membuat perencanaan saja masih menemui kegagalan, apalagi mereka yang tidak mempunyai rencana.

Untuk mempermudah, mari kita ambil satu contoh. Misalkan Anda berada di dalam mobil. Jika Anda tahu kota mana yang hendak dituju dan paham jalurnya serta mempersiapkan segala sesuatunya, maka kemungkinan Anda mencapai kota tujuan akan lebih besar. Kalau Anda mengetahui kota tujuan namun tidak merencanakan apa yang diperlukan untuk mencapai kota tersebut, maka ada kemungkinan Anda tidak sampai kepada kota tersebut. Lebih parah lagi kalau Anda tidak tahu hendak kemana, maka Anda akan mutar-mutar saja tanpa arah tujuan. Pada akhirnya, Anda akan kelelahan, kehabisan bahan bakar, sementara tidak ada tujuan yang tercapai.

Orang yang tidak mempunyai rencana ibarat orang yang berada di tengah lautan namun tidak tahu kemana hendak berlayar. Berdayung tidak, berlayar tidak. Bergerak ke sana kemari dipermainkan ombak. Hanya takdirlah, jika ia beruntung, yang membawanya ke tepian. Kalau tidak, nasibnya berakhir di dalam lautan.

This entry was posted in Islamic Financial Planning and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s