Pengelolaan Harta: Kunci Bahagia Dunia & Akhirat

Positive-Psychology-happine

Pengelolaan harta atau wealth management bisa dikatakan sebagai salah satu faktor yang menentukan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Mengapa demikian? Karena sebagian besar kehidupan kita berkaitan dengan pengelolaan harta, mulai dari merencanakan (planning), mencari (generating), dan membelanjakannya (spending).

Sebagian besar waktu kita digunakan untuk hal-hal yang terkait dengan harta ini. Misalnya, waktu yang kita gunakan untuk mencari harta (baca: rizki) paling kurang 8 jam sehari. Kita juga memerlukan waktu yang cukup banyak pula untuk membelanjakan dan mengonsumsinya seperti belanja kebutuhan sehari-hari ke pasar, makan dan minum, beli bahan bakar untuk kendaraan, bayar ini dan itu, dan sebagainya.

Sementara waktu yang digunakan untuk hal-hal lain relatif sedikit. Misalnya, untuk beribadah seperti mengerjakan shalat 5 kali sehari semalam ‘hanya’ memakan waktu 30 menit. Belajar, baca buku, bercengkrama dengan keluarga, dan olah raga mungkin hanya dilakukan sesekali di sela-sela kesibukan mencari dan membelanjakan harta. Apalagi waktu yang tersedia harus terpangkas untuk keperluan tidur. Lihat tabel berikut:

 

Jenis Kegiatan

Durasi sehari semalam

Durasi seumur hidup*

Tidur 6 jam 17,5 tahun
Kerja usia 25-55 tahun 8 jam 10 tahun
Shalat sejak usia 10 tahun 5 x 6 menit = 30 menit 1,25 tahun
Kegiatan lain 9,5 jam + 40 tahun

* dengan asumsi angka harapan hidup (life expectency) orang Indonesia 70 tahun.

 

Tabel ini masih bisa dirinci lagi untuk menemukan berapa waktu yang digunakan untuk melakukan masing-masing kegiatan.

Dari tabel di atas kita mendapat gambaran bahwa selain waktu yang digunakan untuk tidur dan mendirikan shalat, praktis semua waktu kita berkaitan dengan mencari, membelanjakan, dan memanfaatkan harta. kalau tidak berarti kita sedang menganggur atau tidak punya kegiatan.

Nah, pada hal-hal yang berkaitan dengan harta inilah terjadi ‘pergelutan’ antara pahala dan dosa. Di sini pula kita menentukan apakah kita menempuh jalan ke surga atau neraka. Mengapa demikian? Karena dalam mencari dan mengelola, dan membelanjakan harta kita selalu dihadapkan dengan pilihan yang baik atau buruk, yang berpahala atau berdosa. Pilihan yang baik misalnya kita mencari harta dengan cara yang halal seperti jual beli yang halal. Pilihan yang buruk misalnya mencuri dan korupsi. Demikian juga dengan membelanjakannya, apakah kita membelanjakan pada hal-hal yang halal atau haram. Demikian juga dengan pemanfaatan harta itu sendiri, apakah dimanfaatkan untuk hal-hal yang diperbolehkan oleh agama atau tidak. Kalau kita mencari, membelanjakan, dan menggunakan harta dengan dan untuk cara-cara yang baik berarti kita telah menempuh jalan surgawi. Apabila kita memilih untuk sebaliknya berarti kita menempuh jalan yang sesat dan menuju neraka.

 

691880-xs

Kebahagiaan atau tidaknya kita di dunia juga ditentukan antara lain dengan bagaimana kita mengelola harta ini. Kalau kita mencari, membelanjakan, dan memanfaatkan dengan cara-cara yang bijak, cerdas, dan perhitungan, mudah-mudahan akan membawa kepada kebahagiaan. Sebaliknya apabila dilakukan dengan culas, bodoh, dan serampangan maka itu dapat membawa kepada kesengsaraan. So, proceed with caution!

 

hell-sign

This entry was posted in Islamic Financial Planning and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s