Membunuh Mitos-mitos Ekonomi

Oleh: Nuruddin Mhd Ali, MA, M.Sc*

Isu terorisme yang dilontarkan oleh Barat sebenarnya berangkat dari mitos laten bahwa Islam dan muslim adalah ancaman. Oleh karena itu Barat harus menjaga jarak dari Islam dan muslim dan melakukan segala upaya untuk “menghilangkan” ancaman itu. Akibatnya, ketegangan Islam dan Barat tidak kunjung reda meskipun telah banyak usaha dari para cendekiawan masing-masing pihak untuk terbuka dan saling memahami. Kecurigaan itu tidak akan hilang selama mitos tersebut masih kuat terpatri dalam kepala orang-orang Barat. Seorang sarjana Barat, John L Esposito, sampai menulis buku tentang ini bertajuk the Islamic threat: Myth or Reality (1999).

Kita hidup di dunia yang penuh dengan mitos-mitos. Dalam ekonomi dan keuangan juga terdapat banyak mitos. Misalnya mitos yang mengatakan bahwa sumber ekonomi yang tersedia sangat terbatas sementara keinginan manusia tidak terbatas. Dari mitos ini muncullah ilmu ekonomi yang secara sederhana biasa diartikan sebagai lmu tentang bagaimana memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan sumber daya yang terbatas. Untuk dapat memenuhi kebutuhan Anda, Anda harus “berebut” dengan orang-orang lain.

Terkadang “perebutan” ini sampai mengorbankan hak orang lain. Kita terlanjur berpikiran bahwa sumber-sumber ekonomi itu ibarat kue pie. Jumlah manusia semakin banyak, sementara sumber daya alam cenderung menurun. Tidak ada jalan lain, persaingan harus dilakukan dengan keras dan “berdarah-darah” (red ocean strategy).

Dalam istilah Barat, mitos-mitos ini sering disebut dengan istilah “sacred cow” yang secara harfiah berarti “sapi suci.” Sacred cow biasa diartikan sebagai individu, organisasi, institusi, ajaran, atau kepercayaan yang tidak dapat dikritik atau dipertanyakan. Dalam dunia ekonomi dan keuangan sacred cow adalah mitos dan tradisi yang meyimpangkan pikiran kita tentang kekayaan, keberhasilan, dan kesejahteraan. Mitos-mitos ini tersebar dan semakin tertanam dalam benak kita melalui saran dari teman, guru, atau orang lain, nasehat dari lembaga-lembaga keuangan, dan media massa. Karena kuatnya, mitos-mitos ini jarang dipertanyakan apalagi dikalahkan.

Mitos-mitos ini melemahkan kita baik secara individu maupun masyarakat. Mereka membatasi dan menghancurkan potensi yang kita miliki. Mereka dengan jahat mempengaruhi beragam keputusan yang kita ambil setiap hari. Tragisnya, kebanyakan kita tidak menyadari kehadiran mitos-mitos ini dan daya rusaknya.

Segala sesuatu yang kita peroleh pasti ada biayanya (cost). Ketika kita menerima suatu mitos keuangan, berarti kita menerima opportunity cost yang tersembunyi di balik itu. Opportunity cost adalah sesuatu yang dapat kita peroleh kalau kita melakukan sebaliknya. Misalnya, “keamanan” uang yang kita simpan di bank dibayarkan oleh keuntungan yang mungkin dapat diperoleh jika kita menemukan cara yang lebih produktif dalam menggunakan uang seperti membuka suatu bisnis. Bagi kebanyakan orang lebih baik bertahan di tempat kerja sebagai karyawan meskipun kurang menyenangkan daripada keluar dan menjadi wirausahawan. “kenyaman” sebagai karyawan dengan gaji yang pas-pasan diperoleh atas biaya yang dikeluarkan kalau menjadi pebisnis yang mandiri.

Kita sering menjadi dilemma ketika dihadapkan dengan mitos-mitos keuangan. Di satu sisi kita ingin sukses dan sejahtera, tetapi di sisi lain ada suatu mitos bahwa kesuksesan harus dicapai dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip yang kita yakini. Di sinilah kita dipaksa memilih antara prinsip dan kesejahteraan. Misalnya, orang lebih senang “menumpuk” uangnya di bank dengan bunga yang tidak seberapa dibanding “memutarnya” dalam bentuk bisnis dengan keuntungan yang jauh lebih besar.

Inilah mungkin salah satu rahasia mengapa riba dan bunga bank diharamkan. Agaknya Allah menginginkan sesuatu yang lebih besar bagi kita dengan menggunakan modal (uang) yang dimiliki untuk suatu usaha. Kalaupun kita tidak mempunyai keahlian dan waktu untuk menjalankan usaha tersebut, masih ada peluang lewat pintu “bagi hasil” yang fair dengan orang lain. Meskipun harus berbagi, keuntungan yang diperoleh tetap lebih besar daripada mengambil riba dan bunga bank.
Dunia ini begitu kaya, tetapi hanya sedikit yang orang yang benar-benar kaya. Mereka adalah orang-orang yang telah berhasil “membunuh” mitos-mitos yang begitu kuat mempengaruhi keputusan-keputusan ekonomi dan keuangan sebagian besar penduduk dunia lainnya. Prinsip-prinsip ekonomi dan keuangan Islam hadir untuk mengantarkan lebih banyak lagi manusia kepada kesuksesan dan kesejahteraan melalui “penyembelihan” mitos-mitos yang terlanjur disakralkan dalam ekonomi dan keuangan konvensional.

* Tulisan ini dimuat dalam Majalah “Gontor” edisi April 2010.
_______________

This entry was posted in Islamic Economics, Spiritual and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s