Mengapa Profetik?

Allah and His Angels send blessings on the Prophet;
O you who believe! Send your blessings on him with all respect
(QS. Al-Ahzab 33:56)

Kata profetik dalam tradisi intelektual Islam bermula dari buku Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (1930). Dalam bab tentang ”Jiwa Kebudayaan Islam” dengan mengungkapkan kembali kata-kata seorang sufi, Abdul Quddus, Iqbal memaparkan perbedaan kesadaran rasul (profetik) dengan kesadaran mistik. Abdul Quddus mengatakan, ”Muhammad telah naik ke langit tertinggi lalu kembali lagi. Demi Allah, aku bersumpah, bahwa kalau aku yang mencapai tahap itu, aku tidak akan kembali lagi.”
Ungkapan seperti ini lahir mengingat keinginan kebanyakan manusia sesudah mati adalah masuk surga. Bahkan agama-agama di luar Islam juga mempunyai konsep yang sama mengenai ke mana seharusnya manusia sesudah berakhirnya kehidupan di dunia yaitu ke suatu tempat yang disebut surga. Surga itu sendiri digambarkan sebagai suatu tempat yang paling menyenangkan dan memenuhi semua keinginan manusia yang masuk ke dalamnya. Manusia tinggal di dalam surga dengan segala kenikmatannya untuk selama-lamanya (kekal). Sementara dunia sering digambarkan sebagai tempat berusaha di mana manusia baru dapat menikmati sesuatu jika telah berusaha dengan keras. Di samping itu, kenikmatan yang diperoleh di dunia sifatnya sementara. Oleh karena itu, sangat mengherankan kalau seseorang yang sudah pernah berada di surga mau kembali ke dunia. Konon, Nabi Idris a.s. pernah diajak malaikat Jibril melihat-lihat surga dan beliau tidak mau diajak keluar lagi hingga akhir zaman.
Kemauan untuk kembali ke dunia setelah melihat surga membuktikan adanya komitmen luar biasa yang dimiliki Muhammad SAW terhadap umat manusia. Secara pribadi beliau telah dijamin masuk surga dan bahkan pernah berada di surga. Tetapi beliau memilih kembali ke dunia untuk mengajak manusia kepada kebenaran. Hal ini menyiratkan bahwa beliau ingin mengajak umat manusia sebanyak-banyaknya untuk ikut menikmati surga kelak. Inilah yang disebut komitmen profetik atau kenabian yaitu komitmen untuk mengajak manusia ke jalan yang benar dan meninggalkan jalan yang sesat.
Belakangan, istilah ini dipopulerkan kembali oleh Kuntowijoyo dalam bukunya Paradigma Islam. Menurutnya, ada empat hal yang tersirat dalam surat Ali Imran ayat 110 yang dijadikan landasan ilmu sosial profetik yaitu (1) konsep tentang umat terbaik, (2) aktivisme sejarah, (3) pentingnya kesadaran dan (4) etika profetik. Pertama, tentang konsep umat terbaik, suatu umat akan menjadi umat yang terbaik (khaira ummah) dengan syarat mengerjakan tiga hal sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tersebut, yakni amar ma’ruf (menganjukan kebaikan), nahi munkar (mencegah kemungkaran) dan tu’minūna billāh (beriman kepada Allah). Umat Islam tidak secara otomatis menjadi umat yang terbaik jika tidak mengerjakan tiga hal tersebut. Prinsip ini kontras sekali dengan konsep the chosen people-nya Yahudi yang berupa sebuah mandat kosong (given) dan dapat melahirkan rasisme.
Kedua, aktivisme sejarah. Bekerja di tengah-tengah manusia (ukhrijats linnās) berarti bahwa yang ideal bagi Islam adalah keterlibatan umat dalam sejarah. Oleh karena itu kegiatan seperti uzlah (mengasingkan diri, escapism) dan gerakan mistik yang berlebihan bukanlah kehendak Islam, karena Islam adalah juga merupakan agama amal, agama produktivitas, dan agama masyarakat dunia di samping memperhatikan kehidupan akhirat.
Ketiga, pentingnya kesadaran. Nilai-nilai Ilahiah (amar ma’ruf, nahi munkar, iman) menjadi tumpuan aktivitas Islam. Peranan kesadaran ini membedakan etika Islam dan etika materialistis. Etika materialitas tidak memberi ruang kepada spiritualitas dalam perilaku atau aktivitas manusia.
Keempat, ilmu sosial profetik. Sebagai perlembagaan dari pengalaman penelitian dan pengetahuan, diharuskan melaksanakan ayat ini, amar ma’ruf (menyuruh kebaikan), nahi mungkar (mencegah kemungkaran) dan tu’minuna billah (beriman kepada Allah). Ketiga-tiga unsur itu adalah unsur yang tak terpisah dari Ilmu Sosial profetik.
Ayat 110 surah Ali Imran menurut perspektif disiplin ilmu Sosial Profetik mempunyai tiga unsur yang harus disantuni. Pertama, al-amr bil-ma’rūf, adalah bersifat humanisasi. Tujuan humanisasi adalah untuk memanusiakan manusia atau dengan ungkapan lainnya membawa manusia kembali kepada kesejatiannya karena umat manusia kini sedang mengalami proses dehumanisasi akibat proses industrialisasi dan globalisasi.
Kedua, ungkapan Al-Quran: al-nahy `anil munkar merupakan sesuatu yang berisikan keterbukaan, emansipasi atau pembebasan umat dari kekejaman kemiskinan, keangkuhan teknologi, pemerasan akibat dari kekuatan ekonomi raksasa atau pembebasan umat dari kongkongan fikiran yang bersifat konservatif dan berbagai bentuk penindasan lainnya.
Ketiga, seterusnya ungkapan tu’minuna billah menjelaskan fenomena transendental yaitu hubungan manusia dengan Tuhannya. Dalam usaha menjelaskan fanomena humanisasi-emansipasi bersifat transcendental itu, ia memerlukan rekonstruksi pemikiran umat untuk menterjemahkan di tengah-tengah masyarakat. Justeru, dalam konteks ini ilmu sosial profetik merupakan sebagai gerakan intelektual.
Ketiga hal ini lah yang menjadi misi kenabian Muhammad SAW dan hal ini tercermin dalam kepemimpinan yang beliau lakukan. Beliau berjuang membawa pengikutnya ke kehidupan yang lebih baik. Misalnya, memperbaiki tatanan sosial, politik, dan perekonomian. Ini adalah bentuk humanisasi atau transformasi. Beliau juga mempunyai misi untuk membawa umat manusia dari ”kegelapan” menuju ”cahaya”. Itu adalah misi liberasi atau pembebasan. Semua itu dibungkus oleh ajaran tauhid tentang keesaan Allah. Kesemuanya itu dirangkum dalam misi kenabian Muhammad SAW yaitu sebagai rahmat bagi semesta alam.

This entry was posted in Islamic Economics, Spiritual, The Prophet's Ways and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Mengapa Profetik?

  1. Assalamu Alaikum.
    Salam kenal, blog kami juga membahas kajian-kajian tentang ekonomi islam. Mari kita bersama-sama mengembangkan islam sebagai rahmatan lil alamin.

  2. ekonomiprofetik says:

    wa’alaikumussalam wrwb
    salam kenal juga. terimakasih telah berbagi pengetahuan tentang ekis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s